10 Bahasa Bali Berhubungan dengan Hari Raya Hindu

Umat Hindu di Bali hampir setiap bulannya selalu ada hari raya atau rahinan. Mereka menyambutnya dengan suka cita untuk memohon anugerah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, sebaiknya kita mengenal kosakata Bahasa Bali berhubungan dengan hari raya Hindu. Beberapa kosakata ini sering digunakan sehari-hari. Berikut daftarnya!
1. Ngayah

Ngayah dalam Bahasa Indonesia memiliki arti gotong royong. Setiap upacara maupun kegiatan adat di Bali selalu diikuti dengan ngayah. Tujuannya untuk mempererat rasa kekeluargaan atau kebersamaan, dan mempercepat atau meringankan pekerjaan.
Beberapa contoh kegiatan ngayah adalah bersih-bersih di pura, mempersiapkan sarana upacara, gotong royong saat pembangunan suatu tempat, dan lainnya.
2. Mebanten

Banten merupakan sarana persembahan yang digunakan dalam upacara. Mebanten memiliki arti menghaturkan sarana upacara. Setiap hari raya maupun hari suci (rahinan), umat Hindu selalu mebanten sebagai ucapan rasa syukur atas karunia yang telah diberikan Tuhan.
3. Maturan

Maturan memiliki arti melakukan persembahyangan di pura atau tempat suci, yang diikuti dengan menghaturkan sarana banten. Setiap hari raya atau hari suci, umat Hindu bersembahyang atau maturan ke pura-pura di sekitar tempat tinggalnya. Dari pura tingkat keluarga, hingga pura tingkat desa atau Khayangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem).
4. Mebat

Mebat merupakan kegiatan untuk membuat sarana upacara yang terbuat dari olahan daging (makanan). Mebat menjadi bagian dari kegiatan ngayah. Selain dilakukan saat upacara di pura atau hari raya, mebat juga dilakukan saat upacara Manusa Yadnya (pernikahan atau potong gigi). Mebat secara umum dilakukan oleh para pria.
5. Melasti atau mekiis

Melasti atau mekiis merupakan kegiatan penyucian alam beserta isinya yang dilakukan di sumber mata air seperti laut, pertemuan sungai, danau, atau sumber mata air. Melasti atau mekiis biasanya dilakukan untuk menyambut Hari Raya Nyepi. Selain itu, umat Hindu melaksanakan melasti saat piodalan (upacara) tertentu di pura.
6. Ngelawang

Ngelawang artinya adalah sesuhunan (kekuatan suci yang dipuja di suatu pura) berbentuk barong atau rangda yang dibawa mengelilingi desa. Kegiatan ini juga sering disebut dengan melancaran. Tujuannya untuk menetralisir pengaruh negatif yang ada di lingkungan desa.
7. Metanding

Metanding itu bukan pertandingan ya dalam Bahasa Indonesia. Melainkan mempersiapkan dan merakit sarana-sarana yang digunakan dalam suatu upacara. Metanding sebagian besar dilakukan oleh perempuan.
Contoh kegiatan metanding adalah membuat canang, membuat banten sodan, membuat daksina, dan lainnya. Nyorohin erat kaitannya dengan metanding. Nyorohin bisa diartikan sebagai mengelompokkan sarana-sarana upacara yang telah dibuat sehingga memiliki nama.
8. Masimakrama

Masimakrama dalam Bahasa Indonesia berarti melakukan silaturahmi. Saat hari raya, umat Hindu biasanya akan melakukan masimakrama ke saudara ataupun kerabat dekat setelah menyelesaikan prosesi upacara.
Masimakrama juga sering dilakukan para tokoh politik untuk mencari dukungan. Biasanya mereka masimakrama ke banjar, desa, atau kawitan (warga yang memiliki darah keturunan yang sama).
9. Nunas tirta

Nunas tirta artinya dalam Bahasa Indonesia adalah memohon air suci. Setelah melakukan persembahyangan hari raya atau dalam suatu upacara, umat Hindu akan melakukan nunas tirta untuk memohon anugerah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain nunas tirta, ada juga nunas bija. Bija merupakan butiran beras, yang nantinya diletakkan di kening dan umat wajib memakannya.
10. Mepayas

Selain mengikuti prosesi upacara saat hari raya, mepayas merupakan hal yang tidak kalah penting, terutama bagi perempuan. Mepayas memiliki arti dalam Bahasa Indonesia yaitu berhias. Saat menyambut hari raya, setiap umat ingin tampil bersih dan enak dipandang sebagai wujud rasa bahagia.
Kamu bisa mempelajari kosakata Bahasa Bali berhubungan dengan hari raya Hindu di atas. Jangan lupa untuk mempraktikkannya dalam percakapan sehari-hari, ya!



















