Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Review Lini Belakang Bali United di Putaran Pertama Super League

Jalannya pertandingan antara Bali United (merah) dan Arema FC (putih).
Jalannya pertandingan antara Bali United (merah) dan Arema FC (putih). (Instagram.com/baliunitedfc)

Performa Bali United di akhir putaran pertama cukup meningkat tajam. Satu di antara faktor penunjangnya adalah lini belakang Serdadu Tridatu yang sudah mulai padu.

Kadek Arel dan Joao Ferrari menjadi twin tower yang kini cukup tangguh menjaga area pertahanan mereka. Seperti apa fakta lini belakang Bali United dalam putaran pertama Super League 2025/2026?

1. Bali United kedatangan dua pemain asing anyar di lini belakang

Joao Ferrari, rekrutan anyar Bali United. (Baliutd.com)
Joao Ferrari, rekrutan anyar Bali United. (Baliutd.com)

Untuk mengarungi Super League 2025/2026, manajemen Bali United menambah kekuatan lini belakang mereka setelah ditinggal oleh Elias Dolah (Thailand). Dua pemain asing, Joao Ferrari (Brasil) dan Tim Receveur (Belanda), didatangkan sebagai benteng Serdadu Tridatu. Joao Ferrari bukan orang baru di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Sebelumnya, ia bermain bersama PSIS Semarang.

Berbeda dengan Tim Receveur, ia baru pertama kali merasakan atmosfer sepak bola Indonesia. Joao Ferrari memang murni sebagai bek, tepatnya sebagai center back. Sedangkan Tim memiliki posisi sebagai gelandang bertahan. Karena memiliki postur tubuh yang sama, pelatih Johnny Jansen memasang keduanya sebagai center back.

Alih-alih menambah kekuatan lini belakang, mereka justru sering kebobolan. Dalam tiga pertandingan pertama, Bali United harus kebobolan 9 gol. Duet pemain asing ini sering kewalahan saat menghadapi lawan yang bermain cepat.

2. Modifikasi di sektor bek sayap

Thijmen Goppel (merah) menghindari hadangan pemain PSIM Yogyakarta (putih). (Instagram.com/baliunitedfc)
Thijmen Goppel (merah) menghindari hadangan pemain PSIM Yogyakarta (putih). (Instagram.com/baliunitedfc)

Tak hanya bek tengah, Johnny Jansen juga merombak sektor bek sayap. Jika sebelumnya sektor bek sayap memiliki peran penting untuk membantu serangan, pada musim ini terlihat bek sayap lebih ditarik ke belakang. Sehingga praktis serangan melalui sisi sayap hanya bertumpu pada pemain sayap, yaitu Thijmen Goppel dan Irfan Jaya atau Rahmat Arjuna.

Sering kali, serangan selalu mengarah ke Goppel yang memaksanya untuk terus berlari sepanjang laga. Hal ini yang membuat performa Goppel sering turun saat memasuki menit ke-70 atau menit akhir, sehingga serangan menjadi tidak maksimal.

Posisi bek sayap diisi oleh Ricky Fajrin dan Rizky Dwi Febrianto atau I Made Andhika Wijaya. Sepertinya Johnny Jansen paham akan faktor usia Ricky Fajrin yang sudah tidak muda lagi. Ricky yang biasanya rajin melakukan overlapping, kini hanya sesekali melakukannya terutama untuk melakukan serangan balik. Tentu hal ini membantu Ricky untuk menjaga staminanya tetap terjaga hingga akhir pertandingan.

Perubahan yang sedikit tidak biasa adalah ketika Goppel mendapat tugas sebagai bek. Beberapa pertandingan, Johnny Jansen memasang Goppel sebagai bek sayap. Ia ditarik lebih ke belakang dan menarik Ricky Fajrin atau Rizky Dwi lebih maju untuk aktif membantu serangan. Strategi ini diterapkan saat Bali United menghadapi lawan dengan pemain sayap maupun penyerang yang unggul dalam kecepatan lari serta bermain agresif.

Strategi ini cukup bagus terutama untuk menghadang serangan balik cepat lawan. Namun, sayangnya intensitas serangan Serdadu Tridatu sedikit berkurang melalui sektor sayap. Hal ini membuat Jordy Bruijn dan Mirza Mustafic lebih sibuk menyerang dari sektor tengah.

3. Lini belakang menemukan komposisi yang tepat

Pemain Bali United (putih) mendapatkan pengawalan dari pemain PSM Makassar (merah)
Pemain Bali United (putih) mendapatkan pengawalan dari pemain PSM Makassar (merah). (Instagram.com/baliunitedfc)

Setelah beberapa kali melakukan perubahan untuk mencoba pemain yang tepat di lini belakang, Johnny Jansen akhirnya menemukan kombinasi pemain yang tepat. Pelatih asal Belanda ini kemudian memasukkan Kadek Arel di lini belakang. Pemain Garuda Muda ini dipasangkan dengan Joao Ferrari. Sedangkan, Tim Receveur kembali dimainkan ke posis aslinya sebagai gelandang bertahan. Posisi Tim saat ini terlihat jauh lebih hidup, yang mana ia kini menjadi pengatur aliran bola serta ritme pertandingan Bali United.

Kembali ke duet Kadek Arel dan Joao Ferrari, pada saat awal duet ini masih terlihat kurang maksimal. Hal ini karena Johnny Jansen menerapkan garis pertahanan yang cukup tinggi. Kadek Arel dan Ferrari yang cukup baik mengadang lawan, harus dipaksa berlari cepat saat menghadapi serangan balik cepat. Alhasil, mereka selalu kalah karena keduanya bukan tipe pemain dengan lari yang cepat.

Seiring berjalannya waktu, Johnny Jansen kemudian menarik bek tengah ini sedikit ke belakang dengan harapan, saat ada serangan balik cepat mereka masih bisa menghalaunya. Duet ini di lini belakang menjadi duet yang sangat ideal saat ini. Keduanya memiliki kemampuan merebut bola dengan baik serta kuat dalam duel-duel bola atas.

Semakin padunya Kadek Arel dan Joao Ferrari di lini belakang membuat pertahanan Bali United susah ditembus. Ditambah lagi, kiper asal Belanda, Mike Hauptmeijer, sedang dalam performa terbaiknya. Sehingga mampu membawa Bali United tidak terkalahkan dan melakukan cleansheet dalam enam laga berturut-turut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest Sport Bali

See More

Review Lini Belakang Bali United di Putaran Pertama Super League

15 Jan 2026, 14:08 WIBSport