7 Fakta Bali United di Putaran Pertama Super League 2025/2026

Bali United telah menyelesaikan putaran pertama Super League 2025/2026 dengan raihan poin 27 dan berada di posisi ke-8 klasemen sementara. Walaupun sempat terseok-seok di awal liga, Serdadu Tridatu perlahan mulai bisa menemukan performa terbaiknya.
Pelatih asal Belanda, Johnny Jansen, yang baru pertama kali melatih di Indonesia mulai menemukan skema terbaik untuk timnya. Hasilnya, Ricky Fajrin dan kawan-kawan tampil perkasa, enam laga tanpa terkalahkan. Ada beberapa fakta menarik dari perjalanan Bali United di putaran pertama Super League 2025/2026.
1. Bali United putus rekor kemenangan Borneo FC

Pada Minggu, 30 November 2025, Bali United harus menghadapi pemucuk klasemen sementara, Borneo FC. Borneo FC merupakan satu-satunya tim yang belum terkalahkan dan selalu meraih kemenangan dalam 11 laga. Selain itu, Bali United harus menghadapi Borneo FC di hadapan pendukung mereka.
Di luar dugaan, Serdadu Tridatu berhasil menaklukkan tim berjuluk Pesut Etam ini. Gol semata wayang Kadek Agung Wardana.membawa Bali United unggul 1-0 atas Borneo FC. Kemenangan ini menjadi catatan tersendiri di Super League 2025/2026, mengingat performa Bali United tidak terlalu baik dalam beberapa pertandingan.
2. Mike Hauptmeijer mencatat rekor cleansheet berturut-turut terbanyak

Kemenangan atas Borneo FC menjadi kebangkitan Bali United di putaran pertama Super League 2025/2026. Hingga putaran pertama berakhir, Bali United belum pernah terkalahkan. Tak hanya itu saja, tim asuhan Johnny Jansen ini berhasil menjaga gawang dari kebobolan.
Mike Hauptmeijer menjadi tembok kokoh di bawah mistar Bali United. Kiper asal Belanda ini mencatatkan rekor enam kali berturut-turut melakukan cleansheet. Ini menjadi rekor baru di kasta sepak bola tertinggi di Indonesia. Sebelumnya, rekor ini dipegang oleh Andritany Ardhiyasa, kiper dari Persija Jakarta.
Selain cleansheet, ketangguhan Mike terbukti dari jumlah penyelamatan yang dilakukan. Hingga putaran pertama, kiper berusia 28 tahun ini melakukan penyelamatan sebanyak 69 kali. Catatan ini menjadi yang terbanyak di Super League 2025/2026.
3. Mirza Mustafic mencatatkan rekor gol tercepat

Selain tangguh di daerah pertahanan, Bali United memiliki catatan positif dari lini serang. Pada laga terakhir putaran pertama menghadapi PSM Makassar, Mirza Mustafic menciptakan rekor gol tercepat di Super League 2025/2026. Gol ini tercipta pada detik ke-30.
Setelah peluit wasit berbunyi, Bali United melalui Thijmen Goppel melakukan serangan cepat. Penyerang sayap ini menusuk dari sisi kanan dan langsung memberikan umpan kepada Mirza yang berdiri bebas. Pemain Timnas Luksemburg ini berhasil mencetak gol dengan tendangan datar melengkungnya.
4. Perubahan Taktik membawa perubahan performa

Bali United mendatangkan pelatih baru asal Belanda, Johnny Jansen, untuk menggantikan posisi Stefano Cugurra. Pada awal putaran pertama, Johnny Jansen ingin menerapkan permainan cantik ala sepak bola Eropa dengan aliran bola rapi dari kaki ke kaki. Sayangnya, skema ini tidak cocok dengan iklim sepak bola di Indonesia. Saat menghadapi tim dengan permainan agresif dan cepat, Serdadu Tridatu selalu kewalahan dan sering kebobolan.
Pelatih asal Belanda ini juga sering menjalankan skema serangan yang selalu bertumpu pada Thijmen Goppel. Pemain termahal Super League 2025/2026 ini dipaksa terus berlari mengejar bola. Ia kelelahan memasuki babak kedua. Skema ini mudah dibaca dengan memberikan pengawalan ketat kepada pemain sayap tersebut. Otomatis, serangan-serangan Bali United mudah dipatahkan barisan pertahanan lawan.
Perlahan-lahan, Johnny Jansen mulai bisa beradaptasi dengan gaya permainan di liga Indonesia. Ia kini mulai mengombinasikan serangan dari sektor sayap dan sektor tengah dengan tetap menggunakan bola-bola pendek yang sesekali dikombinasikan dengan bola panjang. Hal ini membuat permainan Bali United lebih hidup dan rapi dalam menyerang maupun bertahan.
5. Perubahan posisi pemain

Selain beradaptasi dengan iklim kompetisi di Indonesia, Johnny Jansen harus beradaptasi dengan para pemain. Ia beberapa kali melakukan percobaan pergantian posisi untuk mendapatkan pemain yang ideal di suatu posisi. Misalnya saja dalam lini pertahanan, Johnny Jansen terlihat beberapa kali merombak posisi pemain di area ini.
Pada awal putaran pertama, ia memasang Joao Ferrari dan Tim Receveur menjadi center back. Tim yang seharusnya berposisi sebagai gelandang bertahan terlihat kurang padu dengan Joao Ferrari. Selain itu, mereka selalu kalah ketika menghadapi pemain dengan pergerakan yang cepat.
Selain Tim, Ricky Fajrin dan Brandon Wilson juga sempat mengisi posisi ini dengan hasil yang tidak beda jauh dari sebelumnya. Johnny kemudian mengembalikan Tim Receveur dan Brandon Wilson ke posisi aslinya di gelandang bertahan. Sedangkan Ricky Fajrin kembali bermain di posisi bek sayap. Kadek Arel dipasang berduet dengan Joao Ferrari di posisi center bek.
Duet ini ideal saat ini, karena pertahanan Bali United cukup sulit ditembus. Namun, catatannya catatan adalah saat garis pertahanan ditarik lebih ke depan, mereka harus ekstra hati-hati menghadapi serangan balik lawan. Hal ini karena Kadek Arel maupun Joao Ferrari tidak memiliki kecepatan lari yang cukup baik.
Thijmen Goppel juga kerap berganti posisi dalam beberapa laga. Pemain asal Belanda ini sempat bermain sebagai bek sayap yang lebih banyak bertugas di lini belakang. Saat ia bermain sebagai bek sayap yang sesekali melakukan serangan dari sektor sayap, membuat daya gedor Bali United dari sisi sayap menurun. Skema ini biasanya dijalankan saat Bali United menghadapi tim dengan pemain yang agresif dan memiliki pergerakan cepat.
6. Boris Kopitovic kurang produktif, namun memiliki peran penting

Fakta menarik lainnya datang dari penyerang Bali United, Boris Kopitovic. Sebagai seorang penyerang, Boris ditargetkan mencetak gol bagi timnya. Namun, jika dilihat dari statistiknya, Ia terlihat kurang produktif yang mana hanya mampu mencetak 4 gol dan 1 assist dalam 17 laga.
Boris dikenal memiliki tubuh yang kuat, lari cepat, dan eksekusi yang baik. Hal ini membuat pemain lawan harus menjaga ekstra ketat pemain Montenegro ini. Pengawalan ketat ini membuatnya sering gagal memanfaatkan peluang untuk mencetak gol.
Tapi, pengawalan ketat ini justru membawa berkah bagi pemain lainnya, khususnya pemain gelandang maupun pemain sayap. Para pemain tengah Bali United menjadi lebih leluasa untuk melakukan penetrasi ke area lawan. Ini terbukti, beberapa gol Bali United diciptakan oleh pemain tengah hingga pemain belakang karena pemain lawan fokus terhadap pergerakan Boris Kopitovic.
7. Statistik Bali United, jago tandang, loyo di kandang

Pada putaran pertama Super League 2025/2026, Bali United memiliki catatan yang cukup menggelitik. Biasanya setiap tim lebih sering mendapatkan kemenangan di kandang karena bertanding di hadapan pendukungnya. Berbeda dengan Bali United, mereka justru melempem di kandang.
Ricky Fajrin dan kawan-kawan hanya mampu menang dua kali di kandang saat menghadapi Madura United (1-0) dan Arema FC (1-0). Sedangkan, mereka berhasil meraih lima kemenangan saat tandang. Kemenangan tersebut didapat dari laga kontra Semen Padang FC (3-0), Persijap Jepara (2-1), Borneo FC (1-0), PSBS Biak (3-0), dan PSM Makassar (2-0).
Dari 17 laga, Bali United mencatatkan 7 kali menang, 6 kali seri, dan 4 kali kalah, dengan poin 27. Dilihat dari produktivitas gol, bisa dibilang biasa-biasa saja yaitu 22 gol dengan 18 kebobolan. Hasil ini membawa Bali United berada di posisi ke-8 klasemen sementara Super League 2025/2026.
Memasuki putaran kedua, Bali United telah menambah pemain baru asal Jepang, Teppei Yachida, yang berposisi sebagai gelandang. Menarik untuk menunggu aksi pemain yang sempat memperkuat Timnas Jepang U23 ini di lapangan hijau. Bali United wajib berbenah untuk mempertahankan tren positif dan kembali ke papan atas Super League 2025/2026.

















