Denpasar, IDN Times - Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan gelombang tinggi 2,5–4 meter pada 19–22 September 2026. Potensi tersebut terjadi di Perairan Selatan Pulau Bali, Selat Bali bagian Selatan, dan Selat Lombok bagian Selatan. Kondisi ini berisiko bagi perahu nelayan dengan kecepatan angin 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter, kapal tongkang dengan kecepatan angin 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter, serta kapal feri dengan kecepatan angin 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter.
Sementara itu, gelombang laut 1,25–2,5 meter berpeluang terjadi di Selat Badung dan Selat Lombok bagian Utara. Kondisi tersebut berisiko bagi perahu nelayan dengan kecepatan angin 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter serta kapal tongkang dengan kecepatan angin 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter.
Pada periode tersebut, pola angin di Perairan Utara dan Selatan Bali bergerak dari arah Timur Laut hingga Tenggara dengan kecepatan 6–25 knot.
Pada 21 September 2026, kecepatan arus di Perairan Utara Pulau Bali mencapai 0,81–0,93 kt, Selat Badung 1,45–2,56 kt, Selat Bali bagian Selatan 0,93–0,99 kt, Perairan Selatan Pulau Bali 1,63–2,42 kt, Selat Lombok bagian Utara 1,52–1,80 kt, dan Selat Lombok bagian Selatan 1,85–3,27 kt.
BMKG juga mengeluarkan peringatan pada 20–23 September 2026 terkait potensi gelombang tinggi 2,5–4 meter di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Samudra Hindia Selatan Bali. Potensi serupa juga terjadi di Samudra Hindia Barat Kepulauan Nias, Samudra Hindia Barat Bengkulu, Samudra Hindia Selatan Banten, Samudra Hindia Selatan Jawa Tengah, Samudra Hindia Selatan Jawa Timur, Samudra Hindia Selatan NTB, Samudra Hindia Barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia Barat Lampung, Samudra Hindia Selatan Jawa Barat, dan Samudra Hindia Selatan Yogyakarta.
Sementara itu, gelombang 1,25–2,5 meter berpeluang terjadi di Selat Malaka bagian Utara, Laut Jawa bagian Barat, Laut Jawa bagian Tengah, Laut Jawa bagian Timur, Selat Makassar bagian Selatan, Samudra Hindia Selatan NTT, Laut Arafuru bagian Barat, Laut Arafuru bagian Tengah, Laut Arafuru bagian Timur, Perairan Kepulauan Talaud, Perairan Kepulauan Sangihe, dan Samudra Hindia Barat Aceh.
Pada periode tersebut, pola angin di wilayah Indonesia bagian Utara bergerak dari arah Tenggara hingga Barat Daya dengan kecepatan 8–28 knot. Sementara itu, angin di wilayah Indonesia bagian Selatan bergerak dari arah Timur hingga Tenggara dengan kecepatan 10–30 knot.
