Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hari Baik Hindu Bali 18 September 2026, Saatnya Gotong Royong

Kab. Gianyar
2 min read
Hari Baik Hindu Bali 18 September 2026, Saatnya Gotong Royong
Ilustrasi gotong royong membersihkan area pura. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Jumat, 18 September 2026 dinilai baik untuk gotong royong, kerja bakti, memulai kampanye, dan membentuk perkumpulan, tetapi tidak dianjurkan untuk mengubur atau membakar mayat.
  • Sejumlah perhitungan hari mendukung pekerjaan memakai api, seperti membakar bata, genteng, keramik, gerabah, serta membuat senjata tajam; namun pembangunan atau mengatapi rumah tidak dianjurkan.
  • Hari ini juga baik untuk memuja leluhur, menebang kayu, menggarap sawah atau kebun, dan membuka lahan pertanian; sementara pernikahan, yadnya tertentu, serta memindahkan orang sakit dinilai tidak baik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada berbagai ramalan hari baik Hindu menyambutmu pada Jumat, 18 September 2026. Mengawali pagi ini ada ramalan semut sedulur. 

Hari ini baik untuk gotong royong, kerja bakti, memulai kampanye, dan membentuk perkumpulan. Namun, tidak baik mengubur atau membakar mayat. Baca ramalan selengkapnya di bawah ini.

  1. 1. Baik bekerja menggunakan api

    Ilustrasi api (IDN Times/Muhamad Iqbal)
    Ilustrasi api (IDN Times/Muhamad Iqbal)

    Geni murub merupakan hari baik untuk segala pekerjaan yang mempergunakan api seperti membakar bata mentah, genteng, dan lain-lain. Namun, tidak baik untuk membangun dan mengatapi rumah. 

    Gni rawana jejepan adalah hari baik untuk mulai pekerjaan yang menggunakan api seperti membakar genteng, batu bata, keramik, gerabah, serta membuat senjata tajam (pande besi). Namun, tidak baik mengatapi rumah, melaspas atau mengupacarai bangunan baru, dan bercocok tanam. 

    Carik walangati artinya hari yang tidak baik untuk melakukan pernikahan/wiwaha, atiwa-tiwa/ngaben dan membangun rumah. Dina carik merupakan hari yang tidak baik dipakai dewasa. 

  2. 2. Baik memuja leluhur

    Ilustrasi merajan atau tempat persembahyangan di setiap rumah umat Hindu di Bali. (IDN Times/Yuko Utami)
    Ilustrasi merajan atau tempat persembahyangan di setiap rumah umat Hindu di Bali. (IDN Times/Yuko Utami)

    Kala buingrau adalah hari baik untuk menebang kayu, membuat bubu, memuja pitra atau leluhur. Namun, tidak baik untuk membangun dan mengatapi rumah.

    Kala ingsor artinya mengandung sifat/tanda-tanda mengecewakan. Kala sudukan merupakan hari yang tidak baik untuk memindahkan orang sakit dan menunjukkan unsur perombakan. 

    Macekan agung artinya baik membuat benda-benda runcing untuk pura seperti pengawin, tumbak, senjata pengider-ider, dan lainnya. Macekan lanang adalah hari baik untuk membuat taji, tumbak, keris, dan alat penangkap ikan. 

  3. 3. Baik menggarap sawah

    Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)
    Ilustrasi sawah (IDN Times/Yuko Utami)

    Pamacekan artinya baik untuk mengerjakan sawah/kebun serta membuat tombak penangkap ikan. Namun, tidak baik melaksanakan yadnya.

    Pepedan adalah hari baik untuk membuka lahan pertanian baru. Namun, tidak baik untuk membuat peralatan dari besi. Rangda tiga merupakan hari yang tidak baik melakukan upacara pawiwahan atau perkawinan. 

    Salah wadi artinya tidak baik untuk melakukan Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Pararasan: Laku Bintang, Pancasuda: Lebu Katiup Angin, Ekajalaresi: Suka Rahayu, Pratiti: Sadayatana.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More