Populasi Tupai Tak Terkendali, 1.400 Pemburu Turun ke Tabanan

- Petani Desa Selabih kewalahan menghadapi ledakan tupai yang merusak kelapa, kopi, kakao, dan sawo, sehingga berpotensi menurunkan hasil perkebunan warga.
- Gerakan pengendalian pada 20 September 2026 melibatkan 1.400 pemburu dari Bali hingga Banyuwangi, terbagi dalam 140 regu yang ditempatkan di 141 zona.
- Bupati Tabanan mendukung pengendalian gotong royong untuk menjaga produktivitas pertanian; kegiatan juga mencakup layanan kesehatan warga dan vaksinasi hewan penular rabies.
Tabanan, IDN Times – Petani di Desa Selabih, Kecamatan Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan, mengaku kewalahan menghadapi ledakan populasi tupai yang menyerang tanaman perkebunan mereka. Hama tersebut disebut semakin sulit dikendalikan dan mulai mengancam hasil panen komoditas seperti kakao dan kelapa yang menjadi sumber penghidupan warga.
Situasi itu mendorong digelarnya Gerakan Pengendalian (Gerdal) Hama Tupai pada Minggu (20/9/2026). Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 1.400 pemburu dari berbagai daerah di Bali hingga Banyuwangi dilibatkan untuk membantu mengurangi populasi tupai yang selama ini meresahkan petani.
Besarnya jumlah peserta menunjukkan bahwa persoalan hama tupai di wilayah tersebut tidak lagi dipandang sebagai masalah yang bisa ditangani petani secara individu. Pengendalian dilakukan secara massal dengan membagi para peserta ke dalam 140 regu yang disebar ke 141 zona pengendalian.
1. Petani tidak sanggup mengendalikan populasi tupai

tupai (commons.wikimedia.org/Ashley Lee) Desa Selabih dikenal sebagai salah satu kawasan pertanian dan perkebunan di Tabanan. Warga menggantungkan penghasilan dari berbagai komoditas seperti kelapa, kopi, kakao, dan sawo.
Namun dalam beberapa waktu terakhir, populasi tupai disebut semakin sulit dikendalikan. Hewan tersebut menjadi hama yang merusak tanaman perkebunan dan berpotensi menurunkan hasil panen petani.
Salah seorang petani Desa Selabih, Wayan Edi, mengatakan petani selama ini telah berupaya mengendalikan hama tersebut. Namun jumlah tupai yang terus bertambah membuat upaya itu tidak lagi efektif.
“Untuk hama tupai ini, dari petani sudah kewalahan tidak sanggup mengendalikan populasinya. Sekarang sudah ada membantu, jadi kami berterimakasih sekali. Harapan untuk kedepan semoga ini bisa berlanjut dan semoga hasil pertanian lebih meningkat,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan para pemburu menjadi harapan baru bagi petani untuk menekan gangguan hama yang selama ini berdampak pada produktivitas perkebunan.
2. Sebanyak 1.400 pemburu diterjunkan ke kawasan perkebunan

Ilustrasi tupai (commons.wikimedia.org/Laurens R. Krol) Tingginya antusiasme peserta terlihat dari jumlah pemburu yang datang dari berbagai kabupaten dan kota di Bali, bahkan hingga Banyuwangi.
Panitia mencatat sebanyak 1.400 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka dibagi ke dalam 140 regu, dengan masing-masing regu beranggotakan 10 orang. Seluruh regu kemudian disebar ke 141 zona pengendalian yang telah ditentukan.
Salah seorang peserta asal Taman Punggul, Abiansemal, bernama Satriya menegaskan tujuan utama kegiatan ini bukan untuk memusnahkan satwa tersebut, melainkan membantu masyarakat mengurangi populasi tupai yang telah berubah menjadi hama pertanian.
“Intinya kami ingin membantu, bukan membasmi. Kami dari pemburu membantu masyarakat dengan mengurangi tupai yang menjadi hama di sini,” katanya.
Peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp500 ribu per orang. Kegiatan itu juga menyediakan berbagai hadiah, mulai dari hadiah utama Rp5 juta hingga hadiah khusus bagi peserta yang memperoleh tupai terbanyak.
3. Dukung pengendalian hama bersama masyarakat

ilustrasi tupai saling mengejar (commons.wikimedia.org/Peter Trimming) Kegiatan Gerdal Hama Tupai turut dihadiri Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya. Ia menilai pengendalian hama secara gotong royong merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam membantu petani menjaga hasil pertanian mereka.
Menurut Sanjaya, berkurangnya populasi hama diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap produktivitas pertanian dan perkebunan masyarakat.
“Kegiatan seperti ini merupakan bentuk kebersamaan masyarakat dalam membantu petani mengendalikan hama. Dengan berkurangnya hama tupai, kita harapkan tanaman dan hasil pertanian masyarakat dapat lebih terjaga, sehingga produksi pertanian ke depannya semakin meningkat,” ujarnya.
Selain pengendalian hama, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pelayanan kesehatan masyarakat oleh UPTD Puskesmas Selemadeg Barat serta vaksinasi Hewan Penular Rabies (HPR) oleh Puskeswan 3 Megati.
Rangkaian kegiatan itu menjadi bagian dari upaya melibatkan berbagai pihak dalam mendukung keberlangsungan sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Selabih.

















