Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Vaksinasi Rabies Gratis di Kedonganan, Petugas Sampai ke Rumah

Vaksinasi Rabies Gratis di Kedonganan, Petugas Sampai ke Rumah
Seekor anjing milik warga Banjar Kerthayasa yang hendak divaksin rabies pada Selasa 21 April 2026. (IDN Times/Ayu Afria)
Intinya Sih
5W1H
  • Program vaksinasi rabies gratis di Banjar Kerthayasa Kedonganan dilakukan door to door oleh enam petugas, dengan target 50 anjing dan antusiasme warga yang cukup tinggi.
  • drh I Putu Sudiantara Cipta menjelaskan beberapa HPR tidak boleh divaksin, seperti yang sedang sakit atau hamil, serta penggunaan teknik tulup untuk anjing sulit ditangani.
  • Warga diimbau segera mencuci luka gigitan HPR diduga rabies dan melapor ke puskesmas agar status hewan dapat dipantau serta penanganan medis dilakukan tepat waktu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Badung, IDN Times - Suasana Banjar Kerthayasa, Desa Kedonganan tidak begitu ramai, pada Selasa (21/4/2026) pagi. Terlihat hanya ada dua petugas kesehatan hewan yang menunggu partisipasi warga untuk mengikuti vaksinasi massal rabies.

Hingga pukul 10.10 Wita, tercatat baru 19 anjing yang sudah vaksinasi di lokasi banjar. Sementara itu, tiga orang petugas lainnya door to door melakukan vaksinasi ke rumah warga.

Seorang warga, Wayan Angga, bercerita program ini sangat bermanfaat bagi warga yang memiliki Hewan Penular Rabies (HPR). Ada rasa aman dan nyaman yang ia rasakan ketika HPR-nya telah mendapatkan vaksin rabies, terlebih diberikan secara gratis oleh pemerintah dan dilayani ke rumah-rumah.

Sebanyak lima ekor anjing berusia 3-4 tahun di rumahnya telah menjalani vaksinasi satu per satu. Anjing-anjing tersebut sudah langganan program ini setiap tahunnya.

"Saya sebagai warga Kedonganan sangat apresiasi untuk program ini, karena membantu untuk kenyamanan warga secara keseluruhan dari segi safety-nya, keamanannya," terangnya.

Keberhasilan vaksinasis rabies tergantung partisipasi warga

Anjing Bali
Seekor anjing milik warga Banjar Kerthayasa yang divaksin rabies pada Selasa 21 April 2026. (IDN Times/Ayu Afria)

Penanggung Jawab Program, drh I Putu Sudiantara Cipta, ditemani oleh lima orang petugas lainnya untuk melayani vaksinasi massal rabies pada hari ini. Ia bersama timnya berjalan kaki menyambangi rumah-rumah warga sambil menenteng alat suntik, vaksin, tulup, kartu vaksinasi, dan kalung warna.

Dalam praktiknya di lapangan, warga sangat antusias mengikuti program tahunan ini. Mereka dilayani secara gratis, terutama bagi mereka yang kesulitan membawa anjingnya ke titik lokasi. Sudiantara mengatakan, keberhasilan penanganan penyakit rabies ini berada di tangan warga itu sendiri.

"Yang terdata 50 ekor (di Banjar Kerthayasa)," ungkapnya.

Sudiantara menjelaskan, ada beberapa kriteria HPR yang tidak diperbolehkan mendapatkan suntikan vaksin rabies. Yaitu HPR yang sedang sakit, sehingga penyuntikan vaksin rabies justru akan membuatnya semakin sakit. Kemudian anjing yang sedang hamil, untuk menghindari stres pascavaksinasi yang berisiko kepada janinnya.

"Kasus rabies itu masih ada," terangnya.

Vaksinasi teknik tulup diandalkan untuk HPR yang susah ditangani

Anjing Bali
Perlengkapan vaksinasi rabies di Banjar Kerthayasa pada Selasa 21 April 2026 (IDN Times/Ayu Afria)

Ada beberapa teknik vaksinasi rabies di antaranya menyuntik langsung HPR yang mudah ditangani. Namun, jika HPR-nya susah ditangani, petugas akan menggunakan teknik tulup. Menurut Sudiantara, teknik ini efektif jika HPR berada di ruang gerak yang terbatas. Teknik tulup terasa sangat sulit dilakukan apabila HPR berada di ruang gerak yang lebih lebar, seperti jalanan atau di luar rumah.

"Setelah vaksinasi, jangan mandiin anjingnya karena takut anjingnya demam, sementara kita tidak tahu," katanya.

Ia mengakui banyak juga anjing tak bertuan berkeliaran di lingkungan warga. Anjing ini berisiko menderita rabies dan membahayakan warga. Status vaksinasinya juga tidak diketahui. Karena itu, ia berpesan agar warga turut aktif melaporkan ke Puskeswan.

"Sebaiknya jangan SKSD-lah (sok kenal sok dekat) sama anjingnya. Sebaiknya kita hindarilah kalau anjingnya tidak bertuan. Apalagi tidak ada kalungnya itu," ungkapnya.

Langkah penanganan gigitan HPR positif rabies

Anjing Bali
Seekor anjing milik warga Banjar Kerthayasa yang hendak divaksin rabies pada Selasa 21 April 2026. (IDN Times/Ayu Afria)

Bagi korban gigitan HPR yang diduga positif rabies, disarankan segera mencuci luka menggunakan air mengalir selama 12 menit. Langkah selanjutnya adalah mencucinya kembali menggunakan sabun. Setelah dibilas, baru diberi antiseptik seperti alkohol atau betadine. Selanjutnya korban disarankan segera ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan dan melakukan pelaporan.

Kasus gigitan anjing diduga rabies yang dilaporkan lebih awal, akan memudahkan petugas dalam memantau status HPR tersebut. Pemantauan dilakukan sekitar 2 minggu setelah adanya laporan kejadian. Hal ini untuk memastikan status HPR tersebut, dan tindakan lanjutan VAR terhadap korban gigitan.

"Anjing itu kalau positif rabies, umurnya itu 2 minggu pasti mati setelah menggigit. Karena di fase menggigit itu, dia sudah di fase gila. Dia udah gila, otaknya sudah tidak ada respon," ungkapnya.

Penanganan anjing atau HPR diduga rabies yang mati juga tidak sembarangan. Petugas akan mengambil bagian otaknya untuk dibawa ke laboratorium demi kepentingan pemeriksaan statusnya. Hasil pemeriksaan otak HPR terduga rabies menjadi indikator penentuan, apakah statusnya positif rabies. Sementara itu, bangkai HPR dikuburkan tanpa otak seperti biasa.

"Virus rabies itu menularnya lewat air liur. Air liur itu bisa karena gigitan," ungkapnya.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More