Gianyar, IDN Times - Kelestarian kunang-kunang di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, menjadi perhatian khusus. Belum lama ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Warmadewa memetakan polusi cahaya buatan pada malam hari (artificial light at night atau ALAN) di Rumah Konservasi Kunang-Kunang.
Menurut Dosen Program Studi Agroteknologi, Desak Ketut Tristiana Sukmadewi, hasil kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kawasan masih tergolong gelap dan aman bagi kunang-kunang.
"Ke depan, tim berencana menyusun pedoman desain pencahayaan ramah kunang-kunang, dimulai dari area laboratorium. Upaya ini diharapkan dapat menjadikan Desa Taro sebagai contoh ekowisata berkualitas yang menyeimbangkan kebutuhan manusia dengan kelestarian satwa malam," terangnya.
Lebih lanjut, disebutnya bahwa Pengelola Rumah Konservasi Kunang-Kunang membuat gerakan Bring Back The Light menjadikan tempat tersebut pusat pelestarian sekaligus destinasi ekowisata. Di kawasan tersebut tercatat empat genus kunang-kunang, yaitu Abscondita, Lamprigera, Luciola, dan Pteroptyx. Seiring berkembangnya kunjungan wisata, kebutuhan penerangan untuk keamanan pengunjung ikut meningkat.
"Cahaya buatan dapat mengganggu sinyal kawin kunang-kunang yang mengandalkan cahaya tubuhnya sendiri," terangnya.
Kegiatan yang didanai hibah internal Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Warmadewa tahun 2026 tersebut melibatkan mahasiswa Program Studi Arsitektur, di antaranya Made Arya Adiartha, I Gede Surya Darmawan, I G. A. Istri Bintang Duta Dynasti, dan I Kadek Kessa Pradnyadiva Putra. Mereka kemudian menyusun grid pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) berukuran 5×5 meter yang menghasilkan 263 titik ukur di seluruh area fasilitas. Pengukuran dilakukan pada 8 Agustus 2026 pukul 19.00 Wita menggunakan lux meter. Setiap titik diukur pada tiga ketinggian, yaitu permukaan tanah, 1 meter, dan 2 meter, untuk mewakili habitat larva dan zona terbang kunang-kunang dewasa.
"Data kemudian dimasukkan ke spreadsheet interaktif yang secara otomatis menampilkan peta panas (heatmap) intensitas cahaya. Logika peta panas ini dikembangkan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI)," jelasnya.
Hasilnya ia ungkap cukup menggembirakan. Sekitar 92–93 persen titik ukur tercatat di bawah 1 lux, yang berarti sebagian besar kawasan masih tergolong gelap dan aman bagi kunang-kunang. Meski demikian, tim menemukan tiga titik dengan intensitas di atas 20 lux, yaitu laboratorium penangkaran kunang-kunang, toilet umum, dan bangunan penjualan minyak kelapa. Laboratorium menjadi prioritas utama karena cahayanya terdeteksi tinggi di ketiga ketinggian pengukuran.
Agar pemantauan dapat berlanjut, tim mengalihkan teknik pemetaan ini kepada mitra. Pada 26 September 2026, staf Rumah Konservasi Kunang-Kunang mengikuti pelatihan satu hari yang mencakup tata letak grid, protokol pengukuran, pengisian data, dan cara membaca peta panas, dilanjutkan dengan simulasi. Dengan bekal ini, staf dapat mengulang pemetaan secara berkala, terutama sebelum membangun fasilitas baru.
"Evaluasi terhadap enam perwakilan mitra menunjukkan respons sangat positif. Program memperoleh skor rata-rata 4,35 dari 5, dengan 90,8 persen penilaian menyatakan setuju atau sangat setuju. Seluruh responden menyatakan mampu menjalankan pemetaan secara mandiri. Sebagian mitra juga berharap pendampingan pemantauan dapat terus berlanjut," pungkasnya.
