Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Depresi Tertinggi Orang Indonesia Dialami Usia 15-24 Tahun

Kab. Badung
4 min read
Depresi Tertinggi Orang Indonesia Dialami Usia 15-24 Tahun
ilustrasi depresi (pexels.com/Renato)
  • Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi depresi nasional 1,4 persen, tertinggi pada usia 15–24 tahun sebesar 2 persen.
  • Survei menunjukkan 5,5 persen remaja usia 10–17 tahun mengalami gangguan mental; remaja yang serius mempertimbangkan bunuh diri naik dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.
  • Edukasi kesehatan mental berbasis komunitas didorong untuk mengurangi stigma, mengenali gejala, merespons dengan tepat, dan mengakses bantuan profesional, termasuk melalui dukungan perusahaan serta program MHAT.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Badung, IDN Times - Isu kesehatan mental mengambil porsi penting dalam kehidupan seseorang. Banyak dari mereka yang tidak menyadarinya, merasa tabu jika harus pergi untuk memeriksakan kondisi mentalnya.

Situasi ini dialami sebagian besar Warga Negara Indonesia (WNI), sehingga isu kesehatan mental yang merupakan bagian dari kesejahteraan secara keseluruhan, percakapannya di ruang publik terasa sulit.

Menurut Perwakilan Shuffle & Strides, Ira, banyak WNI tidak bisa mengidentifikasi akar permasalahan kesehatan mentalnya. Misalkan dari trauma atau hal-hal yang menjadi pemicu sehingga seseorang menjadi insomnia, stres, marah meledak-ledak, dan lainnya.

Masyarakat masih dibingungkan oleh persoalan karakter atau ada hal-hal yang memicu hal tersebut. Jadi, banyak WNI yang memerlukan bantuan tim profesional untuk memberikan edukasi, sehingga tahu apa yang terjadi pada dirinya.

"Warga Negara Indonesia kebanyakan pasien ya. WNI-WNI yang sudah terkena mental hanya sekadar tahu saja kalau dia itu tidak baik-baik saja. Tapi dia tidak bisa mengidentifikasikan akarnya itu dari mana," terangnya.

  1. 1. Banyak generasi muda Indonesia mengalami gangguan mental

    mental health (Unsplash.com/Dhaya Eddine Bentaleb)
    mental health (Unsplash.com/Dhaya Eddine Bentaleb)

    Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi nasional adalah 1,4 persen, dengan prevalensi tertinggi pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 2% persen. Sebuah survei kesehatan mental remaja nasional juga menemukan bahwa 5,5 persrn remaja Indonesia berusia 10–17 tahun mengalami gangguan mental, termasuk kecemasan, depresi, PTSD, dan ADHD.

    Sementara itu, laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti tren mengkhawatirkan untuk pelajar Indonesia berusia 13–17 tahun. Persentase remaja yang pernah serius mempertimbangkan untuk bunuh diri meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.

    WHO menyatakan bahwa angka-angka ini menegaskan perlunya meningkatkan akses terhadap dukungan kesehatan mental dan psikososial yang berkualitas.

    Angka-angka ini menunjukkan tantangan yang tidak dapat ditangani hanya ketika seseorang sudah mencapai titik krisis. Kesadaran dan edukasi juga penting. Orang perlu tahu cara mengenali ketika ada sesuatu yang mungkin tidak beres, cara memulai percakapan, cara merespons dengan tepat, dan di mana bantuan profesional dapat ditemukan.

  2. 2. Masyarakat harus memahami dampak edukasi kesehatan mental

    mental health (Unsplash.com/micheile henderson)
    mental health (Unsplash.com/micheile henderson)

    Perwakilan Shuffle & Strides, Ira, menjelaskan pihaknya merupakan organisasi nirlaba yang berfokus pada peningkatan kesadaran kesehatan mental melalui edukasi berbasis komunitas, gerak, dan percakapan terbuka. Satu di antaranya berlari, yang disebut juga menjadi program dalam menjaga kesehatan mental.

    Program Shuffle & Strides bertujuan mengurangi stigma dan membuat pengetahuan kesehatan mental lebih mudah diakses. Edukasi dilakukan terkaita dengan mengenali tanda dan gejala tantangan kesehatan mental yang umum; memahami cara berkomunikasi dengan seseorang yang mungkin sedang berjuang; mempelajari alat praktis untuk memberikan dukungan yang tepat; memahami sumber daya kesehatan mental dan pilihan perawatan yang tersedia; hingga mengetahui kapan dan di mana mencari dukungan profesional.

    "Tujuannya bukan menjadikan peserta sebagai profesional kesehatan mental, melainkan memberi orang awam pengetahuan yang lebih baik, kesadaran yang lebih besar, dan kepercayaan diri yang lebih kuat untuk mendukung orang-orang di sekitar mereka," terangnya.

    Dampak edukasi kesehatan mental tidak berhenti ketika sesi pelatihan berakhir, tetapi jiga menciptakan efek yang berantai. Seorang peserta kembali ke tempat kerja, keluarga, lingkaran pertemanan, atau komunitasnya dengan pengetahuan yang dapat memengaruhi cara mereka memahami dan merespons kesehatan mental.

  3. 3. Perusahaan berperan untuk penanganan kesehatan mental

    Fun run
    Shuffle & Strides bersama GM Mamaka Hotels & Resort berbicara soal mental health (IDN Times/Ayu Afria)

    General Manager Mamaka Hotels & Resorts, Joel Bartlett, mengatakan perusahaan membuat perpanjangan tangan untuk mendukung edukasi kesehatan mental. Misalnya, pelaksaan Fun Run dengan melibatkan berbagai kalangan dan komunitas sehingga memungkinkan untuk menjangkau masyarakat yang teredukasi terkait kesejahteraan mental.

    Mamaka Fun Run sejak awal dirancang menjadi lebih dari sekadar perlombaan, namun pengalaman komunitas Kuta hingga memadukan energi lari tepi pantai dengan hiburan, aktivitas kebugaran, dan suasana sosial.

    Bermitra dengan Shuffle & Strides, pihaknya ingin mendukung perluasan Pelatihan Kesadaran Kesehatan Mental (Mental Health Awareness Training/MHAT). Program tersebut dirancang untuk memberikan pengetahuan praktis dan kepercayaan diri kepada masyarakat agar lebih memahami tantangan kesehatan mental dan mendukung orang-orang di sekitar mereka.

    Joel Bartlett mengatakan kesehatan mental tidak selalu terlihat. Adakalanya kita mungkin tidak tahu siapa yang sedang berjuang atau kita tidak tahu siapa yang membutuhkan dukungan.

    "Kami tahu bahwa kesehatan mental bisa sulit dibicarakan, sehingga kami ingin mendukung sesuatu yang praktis, yaitu edukasi yang memberi orang kepercayaan diri untuk mengenali ketika seseorang mungkin sedang berjuang dan tahu bagaimana meresponsnya," ungkapnya.


    Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

    Kementerian Kesehatan Indonesia menyarankan masyarakat yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat.

    Dalam keadaan darurat, berikut ini nomor kontak yang dapat dihubungi.

    Bali Mental Health & Suicide Prevention Helpline

    Love Inside Suicide Awareness (LISA)

    Bahasa Indonesia +62 811 3855 472

    Berbahasa Inggris +62 811 3815 472

    Jangan Bunuh Diri || telp: (021) 9696 9293 || email: janganbunuhdiri@yahoo.com

    Organisasi INTO THE LIGHT || message via page FB: Into The Light Indonesia (@IntoTheLightID) || direct message via Twitter: @IntoTheLightID

    Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Telp. 021-8514389 Website: http://www.skizofrenia.org/

    LSM Jangan Bunuh Diri || Telp 021-0696 9293.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More