Hadapi Ancaman Pesisir, Desa Serangan Jadi Laboratorium Inovasi Energi

- Desa Serangan, berpenduduk sekitar 4.080 jiwa, menghadapi tantangan menjaga tradisi melaut karena nelayannya mayoritas berusia 50–70 tahun dan membutuhkan inovasi teknologi lokal.
- Program Desa Utak-Atik menyasar Serangan karena persoalan energi fosil, pasokan LPG, sampah, reklamasi, dan ekonomi pesisir saling berkaitan serta belum terjangkau inovasi skala besar.
- Melalui pendekatan komunitas, program ini menghubungkan teknologi open source dan frugal dengan banjar untuk menjadikan desa laboratorium inovasi energi, limbah, polusi, mobilitas, dan kebutuhan lokal.
Denpasar, IDN Times - Serangan adalah desa pulau kecil di Kecamatan Denpasar Selatan yang dihuni sekitar 4.080 penduduk. Desa ini terbagi dalam enam lingkungan banjar dan satu Kampung Bugis. Sistem banjar adalah organisasi sosial tradisional di Bali yang berfungsi sebagai wadah gotong royong dan pengaturan kehidupan masyarakat berdasarkan adat istiadat setempat.
Sementara Kampung Bugis adalah wilayah desa yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Infrastruktur komunitas Desa Serangan, menjaga dinamika keharmonisan banjar dan kampung tetap baik hingga saat ini.
Kepala Lingkungan (Kelihan Dinas) Banjar Dukuh, Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, I Wayan Suaka, mengatakan mereka dihadapkan pada kelestarian tradisi melaut. Saat ini nelayan di Serangan rata-rata usinya 50-70 tahun, sehingga untuk mempermudah pekerjaannya, mereka membutuhkan inovasi teknologi berdasarkan potensi desa sendiri.
"Harapan saya, dengan mempermudah hidup para nelayan, anak-anak muda di Serangan juga akan terhubung kembali dengan tradisi melaut di Serangan. Tidak hanya lewat pariwisata tetapi juga hidup sehari-hari”, ujarnya.
1. Desa Serangan dipilih karena mencerminkan kompleksitas tantangan energi

Pelabuhan Serangan dan aktivitas masyarakat (IDN Times/Ayu Afria) Menurut Design & Innovation Manager Fab Lab Bali, Tafia Sabila Khairunnisa, Indonesia memasuki fase krusial dalam transisi energi bersih. Namun, sebagian besar inisiatif masih berfokus pada infrastruktur berskala besar atau riset berbasis laboratorium yang belum terhubung dengan realitas di tingkat lokal.
Akibatnya, terdapat kesenjangan signifikan antara inovasi teknologi dan penerapannya secara nyata. Terutama di wilayah pesisir dan perdesaan, di mana tantangan energi, pengelolaan sampah, degradasi lingkungan, dan keterbatasan ekonomi saling berkaitan sehingga tidak dapat diselesaikan secara terpisah.
"Desa Serangan dipilih karena mencerminkan kompleksitas ini berbagai tantangan energi dan lingkungan tersebut secara langsung. Masyarakat menghadapi berbagai tekanan, mulai dari ketergantungan pada bahan bakar fosil (bensin), ketidakstabilan pasokan LPG, hingga persoalan sampah, dan kerentanan ekosistem pesisir akibat reklamasi yang berdampak pada ekonomi," terangnya.
2. Lingkungan Serangan dalam kategori kerentanan tinggi wilayah pesisir

Pelabuhan Serangan di Denpasar Selatan (IDN Times/Ayu Afria) secara lingkungan, Serangan berada di kategori kerentanan pesisir tertinggi di Bali, bersebelahan dengan TPA Suwung, dan menghadapi penebangan mangrove untuk pembangunan komersial. Tantangan-tantangan ini saling memperkuat dan memperburuk satu sama lain.
Tafia menyebutkan di sisi lain, masyarakat memiliki kebutuhan dan potensi yang besar untuk terlibat langsung dalam pengembangan energi bersih. Hal ini menunjukkan perlunya ekosistem inovasi terpadu yang menghubungkan pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas masyarakat, dan pemanfaatan energi terbarukan yang relevan dengan kebutuhan lokal.
"Desa Utak-Atik hadir untuk menjembatani kesenjangan antara inovasi teknologi dan kebutuhan masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas," terangnya.
3. Desa sebagai unit spasial yang ideal untuk mengatasi masalah
Jelajah inovasi Desa Utak Atik di Serangan (Dok.IDN Times/istimewa) Founding Partner Meaningful Design Group, Tomas Diez, mengatakan desa sebagai unit spasial yang ideal untuk mengatasi masalah utama di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Teknologi open source dan frugal sangat selaras untuk diterapkan bersama institusi budaya yang sudah mapan seperti banjar, untuk berinovasi bersama masyarakat lokal dan menjawab tantangan yang mereka hadapi. Tujuannya adalah menjadikan desa sebagai laboratorium tempat eksperimen dan inovasi terus berlangsung untuk memecahkan masalah lokal.
"Energi, limbah, polusi, dan mobilitas adalah beberapa topik yang kami garap, namun cakupan kami tidak terbatas pada hal-hal tersebut saja," jelasnya.








![[QUIZ] Pilih Satu Lokasi, Hantu Bali Ini Mungkin Mendekati Kamu](https://image.idntimes.com/post/20211214/leak1-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-d5876d2e915b02f846501cea404b44a7.jpg)












