Desa Utak Atik di Serangan Kembangkan Prototipe Energi Berbasis Komunal
- Desa Utak Atik di Serangan, Bali, mendorong masyarakat menjadi pelaku inovasi energi terbarukan melalui pendekatan bottom-up yang selaras dengan konteks sosial, budaya, dan ekosistem pesisir.
- Inisiatif CAST Foundation dan Fab Lab Bali ini berkembang dari program Desa Hidrogen Hijau, melibatkan lokakarya berkelanjutan bagi anak-anak, pemuda, banjar, hingga kelompok nelayan.
- Program telah mengembangkan tujuh prototipe bersama warga, termasuk teknologi hidrogen, alat nelayan, biodigester, dan pencacah sampah; dampak edukasi kuantitatif belum tersedia.
Denpasar, IDN Times - Desa Utak Atik di Bali adalah wadah bagi masyarakat desa yang mendorong mereka sebagai pelaku utama inovasi, bukan sekadar penerima teknologi. Desa Utak Atik merupakan inisiatif CAST Foundation, dan Fab Lab Bali.
Dalam menjalankan programnya melibatkan kelompok peneliti dan inovator lokal maupun internasional yang berasal dari latar belakang keahlian berbeda seperti desain, fabrikasi digital, teknik, serta ahli dalam pengembangan proyek dan program taraf internasional.
Design & Innovation Manager Fab Lab Bali, Tafia Sabila Khairunnisa, mengatakan inisiatif Desa Utak-Atik ini berawal dari program Desa Hidrogen Hijau yang dimulai pada awal 2024. Setelah melalui fase pertama selama dua tahun, program ini berkembang menjadi Desa Utak-Atik, yang diperkenalkan pada Desember 2025 dengan fokus sebagai wadah eksplorasi dan pengembangan teknologi energi terbarukan berbasis komunitas.
"Selama dua tahun terakhir, program secara rutin menyelenggarakan lokakarya bulanan bersama kelompok anak-anak di salah satu banjar di Serangan, dengan peserta yang sama untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung secara berkelanjutan. Pendekatan ini kemudian mulai diperluas melalui keterlibatan kelompok pemuda, banjar lainnya, serta kelompok nelayan," jelasnya.
1. Desa Utak Atik ini memang dikembangkan sebagai pendekatan bottom-up
Jelajah inovasi Desa Utak Atik di Serangan (Dok.IDN Times/istimewa) Founding Partner CAST Foundation, Wan Zaleha Radzi, mengatakan Desa Utak Atik ini memang dikembangkan sebagai pendekatan bottom-up, sebuah model yang dirancang untuk memantik nalar kritis masyarakat tentang pola hidup berkelanjutan, menjaga ekosistem pesisir, serta memastikan teknologi maju dapat diterapkan sesuai konteks sosial dan budaya lokal.
Dengan kata lain, Desa Utak Atik merupakan inisiatif pengembangan komunitas dan inovasi lingkungan berbasis teknologi di skala desa menuju Bali Emisi Nol Bersih 2045.
"Inisiatif ini mencakup kegiatan edukasi, riset dan eksperimen, serta pengembangan prototipe teknologi energi bersih yang diselaraskan dengan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan setempat, untuk mendukung pelestarian ekosistem pesisir dan peningkatan kapasitas masyarakat Serangan," jelasnya.
2. Desa Utak Atik menjembatani lokakarya dan pameran
Jelajah inovasi Desa Utak Atik di Serangan (Dok.IDN Times/istimewa) Desa Utak Atik sering menginisiasi lokakarya dan juga pameran inovasi teknologi. Misalnya sejumlah purwarupa atau prototipe teknologi yang menjadi solusi masyarakat di Desa Serangan seperti H2MINI, yang merupakan stasiun pengisian daya (charging station) universal bertenaga hidrogen; H2Gen, yakni generator produksi hidrogen berbiaya rendah; generator HHO untuk jukung nelayan; lampu kepala ergonomis untuk nelayan; dan pencacah sampah organik mobile.
Sementara itu, dalam kegiatan lokakarya, para nelayan di Desa Serangan diajak mencoba teknologi penerangan yang relevan dengan aktivitas melaut, yaitu diseminasi lampu kepala nelayan ergonomis dan workshop pembuatan lampu blinking jukung bertenaga surya. Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana teknologi dapat dikembangkan bersama masyarakat untuk merespons kebutuhan nyata, memperluas keterampilan teknis, dan membuka peluang bagi solusi yang lebih aman dan sesuai dengan konteks lokal.
“Di Desa Utak Atik ini kami mengajak para nelayan Desa Serangan agar lebih akrab dengan teknologi dan pemanfaatan energi terbarukan yang berlimpah ruah tersedia di Serangan. Nelayan bisa jadi pelaku utama masa depan berkelanjutan di daerahnya,” jelas Wan Zaleha.
3. Edukasi teknologi masyarakat belum memiliki data kuantitatif
Jelajah inovasi Desa Utak Atik di Serangan (Dok.IDN Times/istimewa) Sejauh ini, telah dikembangkan tujuh prototipe melalui proses ko-kreasi bersama masyarakat, mulai dari charging station bertenaga hidrogen; generator hidrogen untuk memasak; injeksi HHO untuk perahu jukung nelayan; lampu kepala ergonomis untuk nelayan; biodigester; pencacah sampah organik bergerak; dan pengeringan sirip Ikan bertenaga surya.
Pada fase berikutnya, pengembangan teknologi akan terus berlanjut dengan membuka ruang eksplorasi berbagai solusi energi terbarukan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Serangan.
"Saat ini, program belum memiliki data kuantitatif yang dapat merepresentasikan persentase masyarakat Serangan yang telah teredukasi teknologi. Fokus Desa Utak-Atik bukan semata-mata pada luasnya jangkauan edukasi, tetapi pada proses membangun pemahaman, keterampilan, dan transformasi pola pikir masyarakat terhadap teknologi dan energi terbarukan," jelas Tafia.










![[QUIZ] Pilih Satu Lokasi, Hantu Bali Ini Mungkin Mendekati Kamu](https://image.idntimes.com/post/20211214/leak1-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-d5876d2e915b02f846501cea404b44a7.jpg)









