Siswa Keluhkan Makanan MBG di Bali, Sayur dan Buah Basi

MS membawa pulang makanan MBG yang diterimanya
Orangtua siswa mewanti-wanti anaknya untuk mengecek makanan sebelum dimakan
Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengakui keluhan makanan basi
Denpasar, IDN Times - Seorang pelajar perempuan kelas 2 sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Denpasar yang berinisial MS mengaku kecewa dengan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab dia kerap menerima makanan dalam kondisi basi. MS terpaksa tidak memakan paket MBG tersebut, dan memilih memasukkannya ke dalam kotak makanan untuk dibawa pulang.
"Ada senangnya, ada jeleknya juga. Jeleknya makanannya basi. Kebanyakan buah sama sayurnya yang basi," kata MS, pada Jumat (3/10/2025).
1. MS memilih membawa pulang makanan MBG yang diterimanya

MS menilai, program MBG sebenarnya bisa membantu dia hemat uang saku, karena tidak perlu membeli makanan atau camilan di sekolah. Apalagi, MS jarang sarapan ketika berangkat ke sekolah.
Paket MBG yang biasa dia terima terdiri dari nasi, sayur, dua sampai tiga jenis lauk, dan buah-buahan. Paket tersebut diterima MS setiap Senin sampai Jumat, pukul 12.00 WIB. Menurutnya, sebagian siswa seangkatannya membawa pulang makanan MBG yang diterimanya karena mereka pulang sekitar pukul 13.00-14.00 Wita.
"Kadang (menu) ayam, telur rebus, sama sayur wortel. Ada nasinya sama buah. buah potongan, semangka," terangnya.
2. Orangtua siswa mewanti-wanti anaknya untuk mengecek makanan sebelum dimakan
Sementara itu ibu rumah tangga di Denpasar, Laura, mendukung upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak melalui program MBG, selama dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sesuai dengan ketentuan, termasuk higienis dan bergizi.
Meski demikian, dia tak memungkiri ada rasa khawatir juga yang muncul di benaknya. Terlebih setelah mencuat kasus keracunan makanan MBG di sejumlah wilayah Tanah Air. Oleh karena itu, dia pun mewanti-wanti anaknya agar lebih waspada dan cermat sebelum mengonsumsi makanan MBG.
"Saya ingatkan anak saya untuk mencium aromanya, mengecek makanan dengan lebih teliti sebelum dimakan," terangnya.
Di sekolah anaknya, kata Laura, program MBG sudah berjalan selama tiga pekan. Sebelum pelaksanaan MBG itu, para siswa diminta mengisi form terkait alergi. Laura berharap program MBG di Bali tetap amanah. Setiap pengelolanya bisa menjaga pemenuhan gizi dan kebersihan makanan. Di sisi lain, Laura juga berharap program MBG sebaiknya diutamakan untuk anak-anak yang memang memerlukan.
3. Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengakui keluhan makanan basi

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, I Nyoman Gede Anom, mengungkap bahwa Bali memiliki satuan tugas (satgas) yang satu di antaranya bertugas melaksanakan monitoring dan evaluasi. Satgas tersebut merupakan gabungan dari berbagai dinas hingga Kamar Dagang dan Industri Bali.
Satgas telah memonitoring dan mengevaluasi beberapa SPPG dan memantau pembagian MBG ke sekolah penerima. Dari hasil tersebut, diungkapnya ada beberapa temuan yang menjadi catatan untuk ditindaklanjuti seperti pembuangan limbah cair, dan pest control yang harus dibenahi.
"Keluhan dari anak-anak sekolah sudah langsung kami koordinasikan dengan SPPI selaku pimpinan SPPG, seperti porsi yang kurang, terkadang container makanan tidak bersih atau makanan yang berbau. Kondisi di atas kami berikan waktu ke SPPG untuk menindaklajuti dan kami follow up tujuh hari setelah monev (monitoring dan evaluasi), baik secara langsung maupun secara online," jelasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Bali, Kombespol Arisandy mengatakan Polda Bali memiliki dua SPPG di Denpasar dan Kabupaten Jembrana. Kedua SPPG tersebut menjadi fokus kepolisian dalam hal jaminan higienis makanan.
"Sebelum makanan didistribusi akan dicek dulu oleh Tim Secutiry Food dari Biddokkes Polda Bali," katanya.



















