RTH dan Pohon Tua Area Hotel di Bali Perlu Dipertahankan

Denpasar, IDN Times – Perkembangan pariwisata Bali nampaknya berkorelasi dengan perubahan lahan dan lingkungan. Meski begitu, pengusaha akomodasi pawisata di Bali perlu mempertahankan keberadaan pohon-pohon tua, dan menyediakan ruang terbuka hijau (RTH).
Menurut Direktur Griya Santrian sekaligus Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida B Agus Sidharta Putra, pohon tua dan RTH bisa menjadi daya tarik wisatawan Eropa dan Australia. Ia mencontohkan Griya Santrian a Beach Resort and Spa di Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar.
Resort seluas 1,5 hektare ini mengusung konsep 40 persen bangunan dan 60 persen RTH. Sedangkan Puri Griya Santrian berdiri di atas lahan 4 hektare. Resort ini juga membatasi 3 lantai saja.
“Gak ada lantai 4, lantai 5. Memang (Pasar) Eropa dan Australia mencari tropical garden yang luas,” kata pria yang juga sebagai Ketua Yayasan Pembangunan Sanur ini.
Pihaknya juga mempertahankan pohon-pohon tua di area resort, yang menurut Sidharta telah berusia ratusan tahun. Yaitu Pohon Trembesi, Pohon Jati, Pohon Bunut, Pohon Camplung, dan beberapa jenis lainnya. Pohon Trembesi di depan resort termasuk the best view di sepanjang jalan Sanur karena besar dan tua.
“Itu ditanam oleh kakek saya. 150 tahun, 120 tahun. Ini kan dulu ladang kakek saya. Dulu batas-batas itu kan pohon,” ungkapnya.
Pihaknya menyoroti akhir-akhir ini banyak pohon berusia ratusan tahun ditebang, dan diganti dengan bangunan beton di beberapa lokasi. Ia menilai, pemerintah sudah semestinya menggalakkan controlling.
“Janganlah (jangan ditebang). Saya melihatnya juga miris. Itu betul-betul pohon kehidupan, memberi banyak hidup. Banyak fungsi selain history, juga indah,” katanya.







![[QUIZ] Uji Pengetahuan Hari Raya Sugihan Jawa dan Sugihan Bali](https://image.idntimes.com/post/20241009/img-4498-017bacf9834e546a92c3b452be3f75f5_watermarked_idntimes-2.jpeg)











