- Cek bangunan dengan memastikan konstruksi rumah setidaknya punya struktur yang kuat
- Paham jalur evakuasi, terutama kalau kita sedang berada di wilayah pesisir selatan
- Hanya percaya BMKG, jangan termakan hoaks yang menentukan tanggal atau jam kejadian.
Potensi Gempa Megathrust Bali Menurut Ahli, Ini Langkah Mitigasinya

- BMKG menjelaskan potensi gempa megathrust di Selatan Bali pada Segmen Sumba dengan kekuatan hingga 8,5 MW, serta dampak dari segmen Jawa Timur yang bisa mencapai 8,9 MW.
- Masyarakat diimbau waspada terhadap gempa kuat dan lama, segera evakuasi ke tempat tinggi jika berada di pesisir, serta hanya mengacu pada informasi resmi BMKG untuk peringatan tsunami.
- Ahli geologi menegaskan Bali berada di zona subduksi aktif dengan risiko tsunami nyata; kesiapsiagaan dan infrastruktur mitigasi seperti sirine dan rambu evakuasi menjadi kunci menghadapi potensi bencana.
Denpasar, IDN Times - Potensi gempa megathrust di Indonesia kembali menjadi perbincangan termasuk wilayah Bali. Ketua Kelompok Kerja Info Dini Gempabumi dan Tsunami BBMKG Wilayah III Badung, Dwi Hartanto, menyampaikan gempa bumi megathrust berpotensi terjadi di Selatan Bali pada Segmen Sumba.
Berdasarkan Peta Megathrust Indonesia dari Pusat Studi Gempa Nasional Ditjen Cipta Karya 2024, kekuatan gempanya bisa mencapai 8.5 MW (magnitudo momen). Lalu, pada sisi Selatan Jawa dengan Segmen Jawa Timur berkekuatan 8.9 MW. Artinya, Bali diapit oleh dua potensi gempa megathrust.
“Iya benar, kalau gempanya terjadi di segmen Jawa Timur, Bali juga terdampak,” kata Dwi kepada IDN Times, Minggu (19/4/2026).
Saran mitigasi dari BBMKG untuk masyarakat

Dwi mengimbau agar masyarakat selalu waspada jika merasakan gempa bumi yang kuat dan lama. Terutama bagi masyarakat yang berada di kawasan pesisir pantai agar segera melakukan evakuasi ke tempat tinggi.
“Kemudian melihat info resmi BMKG, apakah gempa bumi tersebut berpotensi tsunami atau tidak,” imbuhnya.
Informasi resmi BMKG ini ada di aplikasi infobmkg, laman resmi BMKG, dan media nasional. Dwi menyampaikan beberapa titik wilayah Bali Selatan telah terpasang sirine peringatan gempa bumi dan tsunami.
Geolog dan Praktisi Manajemen Bencana, Ida Bagus Oka Agastya, menjelaskan Bali berada di dekat zona pertemuan dua lempeng besar, yaitu Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Jalur pertemuan itu disebut sebagai zona subduksi. Saking luas dan besarnya zona ini, maka disebut sebagai Mega Thrust.
Oka menambahkan, pada sisi Selatan Bali hingga ke arah Pulau Sumbawa melewati Lombok, terdapat segmen yang dikenal dengan nama Segmen Sumba.
Potensi gempa megathrust terhadap Bali

Selain berpotensi gempa dengan magnitudo mencapai 8,5 MW hingga 9,0 MW, potensi tsunami turut menyertai.
“Karena pusat gempanya berada di laut dengan kedalaman dangkal dan melibatkan pergerakan vertikal lempeng, risiko tsunami di pesisir selatan Bali seperti Kuta, Uluwatu, Nusa Dua, dan Sanur adalah nyata,” papar Oka.
Oka juga menyoroti faktor seismic gap. Isu ini kembali hangat karena wilayah Selatan Bali dianggap sebagai seismic gap. Artinya, sebagai kondisi yang sudah sangat lama tidak mengalami gempa besar, sehingga energi yang terkumpul diyakini sudah sangat besar.
Meskipun punya pengaruh signifikan, kewaspadaan dan kesiapan adalah hal krusial dalam menghadapi potensi gempa megathrust. Menurut Oka, pengaruhnya terhadap Bali adalah kerusakan ringan hingga berat pada bangunan yang tidak tahan gempa. Jika tsunami terjadi, diperkirakan gelombang bisa sampai ke pantai dalam waktu sekitar 20-30 menit. Kata Oka, rentang waktu tersebut merupakan waktu emas (golden time) untuk evakuasi.
Potensi gempa megathrust ada sebagai pengingat mitigasi

Kondisi Bali sebagai destinasi wisata, membuat isu gempa megathrust sangat sensitif. Oka mengatakan, setidaknya Bali telah memiliki infrastruktur mitigasi yang cukup baik dibandingkan daerah lain, seperti sirine tsunami dan rambu evakuasi. Ia menekankan bahwa potensi gempa megathrust tidak sama dengan prediksi megathrust.
“Ini yang perlu digarisbawahi. Potensi itu pasti ada. Tapi kapan terjadinya, tidak ada satu pun teknologi di dunia yang bisa memprediksi,” kata dia.
Ia menyarankan masyarakat agar tidak terlalu panik. Diskursus gempa megathrust ada sebagai pengingat, bukan untuk menakut-nakuti. Oka mengingatkan agar mulai mengingat langkah-langkah mitigasi awal sebagai berikut:
![[QUIZ] Tebak Alat Musik Tradisional Bali di Lagu Girl Group No Na](https://image.idntimes.com/post/20260216/upload_b5731254c5cbf4389da5cf6edf16c1f0_f4577875-5a36-4799-93e2-61bf09c0166a.jpg)

![[QUIZ] Uji Pengetahuanmu Tentang Kartini](https://image.idntimes.com/post/20250422/whatsapp-image-2025-04-22-at-162535-ac71668fed7a35e841f1fa69ead69f65.jpeg)


![[OPINI] Krisis Kepercayaan Publik dan Masa Depan Demokrasi Indonesia](https://image.idntimes.com/post/20240622/edwin-andrade-4v1dc-eocwg-unsplash-1-6863b62c2bfc9a4c0bdfe6caacd76b0e-69d807e48394b00a0b6fd2ee33358cf8.jpg)


![[QUIZ] Uji Pengetahuanmu Tentang Tumpek Landep](https://image.idntimes.com/post/20220406/tumpeklandep1-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-ff673c524528ecaca01bb11466faf4f1.jpg)









