Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Petani di Subak Jaka Tabanan Manfaatkan Drone Untuk Pemupukan
Petani di Subak Jaka melakukan pemupukan dengan menggunakan drone (Dok.IDNTimes/Istimewa)
  • Petani Subak Jaka di Tabanan menguji drone sprayer untuk pemupukan organik di lahan 35 are, sebagai upaya mempertahankan pertanian organik yang luasnya terus menyusut.
  • Lahan padi organik Subak Jaka turun dari 10 hektare pada 2019 menjadi 3 hektare pada 2026, dipicu tingginya biaya produksi dan pemeliharaan.
  • Pemupukan drone menyelesaikan 35 are dalam 30 menit, dibanding dua jam secara manual; petani berharap pemerintah membantu pengadaan drone seharga sekitar Rp175 juta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tabanan, IDN Times - Petani di Tabanan mulai mengaplikasikan teknologi dalam mengolah pertaniannya. Seperti yang dilakukan petani di Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan. Mereka mengubah pola bertani, terutama dalam pemupukan organiknya dengan penerapan teknologi modern berupa drone sprayer untuk pemupukan.

Pekaseh Subak Jaka, Ir I Wayan Yusa mengatakan uji coba telah dilakukan sekitar 13 hari lalu di lahan organik Subak Jaka, Tempek Tirtanadi seluas 35 are. Pemupukan menggunakan drone ini juga menjadi salah satu langkah subak untuk mempertahankan luasan lahan organik yang saat ini semakin menyusut.

1. Lahan organik di Subak Jaka terus mengalami penurunan

Petani di Subak Jaka melakukan pemupukan dengan menggunakan drone (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Yusa menjelaskan, pada tahun 2019 pola pertanian padi organik di Subak Jaka tercatat seluas 10 hektare. Jumlah ini terus mengalami penyusutan dimana tahun 2023 tercatat menjadi 5 hektare dan saat ini di tahun 2026 tersisa 3 hektare.

Menurut Yusa, penyusutan tersebut terutama dipengaruhi tingginya biaya produksi dan pemeliharaan pertanian organik. Kondisi itu membuat petani kesulitan mempertahankan pola tanam organik meski harga gabah dan beras organik relatif lebih tinggi. “Salah satu kendala sulitnya mempertahakan lahan padi organik adalah biaya produksi dan pemeliharaan cukup tinggi,” ujarnya, Kamis (17/9/2026)

2. Pemupukan dengan drone di lahan padi lebih efisien

Petani di Subak Jaka melakukan pemupukan dengan menggunakan drone (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Total luas Subak Jaka sekitar 48 hektare dengan 3 hektare menerapkan pola pertanian organik. Dalam pola ini, kebutuhan pupuk menjadi salah satu beban petani. Pupuk organik yang dibeli petani mencapai sekitar Rp1.800 per kilogram. Semakin luas lahannya, maka biaya pembelian pupuk organik juga semakin besar. Apalagi jika pupuk organik ini dibeli petani secara swadaya.

Yusa mengatakan selama ini bantuan pupuk organik dari pemerintah belum mencukupi kebutuhan petani untuk mempertahankan pola tanam organik sepanjang tahun. Petani hanya memperoleh bantuan sekitar 10 kilogram pupuk organik padat per are dari Pemerintah Provinsi Bali melalui program Simantri dan diberikan sekali dalam setahun. “Kalau kami menanam dua kali setahun, kebutuhan pupuk untuk penanaman berikutnya harus kami penuhi secara swadaya,” katanya.

Untuk efisiensi waktu pemeliharaan, Subak Jaka kemudian melakukan uji coba pemupukan di lahan organik seluas 35 are menggunakan drone. Langkah ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan penyemprotan secara manual menggunakan mesin. Yusa menjelaskan sebagai perbandingan, untuk penyemprotan 35 are secara manual, petani membutuhkan sekitar tujuh tangki dengan waktu pengerjaan mencapai dua jam. Sedangkan menggunakan drone sprayer, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan sekitar 30 menit.

“Setelah bekerja, menurut pengamatan saya, drone ini sangat efektif. Untuk 35 are hanya sekitar 30 menit selesai, sedangkan kalau manual bisa sampai dua jam,” ungkap Yusa.

3. Petani harap pemerintah membantu teknologi drone

Petani di Subak Jaka melakukan pemupukan dengan menggunakan drone (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Meski efisien, teknologi ini masih sulit dijangkau petani secara mandiri. Harga satu unit drone sprayer berikut kelengkapannya mencapai sekitar Rp175 juta. Untuk ini, Yusa berharap pemerintah dapat membantu kelompok petani organik menyediakan teknologi tersebut.

“Setelah melihat efektifnya penggunaan drone ini, tentu kami berharap ada perhatian pemerintah. Kami ingin mengajukan proposal. Tetapi petani juga harus bisa menjadi operatornya,” jelasnya.

Yusa menilai penggunaan teknologi modern dalam pertanian menjadi salah satu upaya agar profesi petani tetap menarik dan pola pertanian organik tidak semakin ditinggalkan. Efisiensi waktu dan tenaga diharapkan dapat mengurangi beban petani sekaligus membuat pengelolaan lahan organik lebih praktis.

Curated For You

Editorial Team

Related Article