Pemberian Obat Cacing Pada Anak-Anak di Bali Mencapai 99 Persen

Denpasar, IDN Times - Belum lama ini, masyarakat Indonesia digegerkan kasus meninggalnya seorang anak perempuan, Raya (4), yang menderita cacingan hingga menyebar ke seluruh tubuhnya di Desa Cianaga, Sukabumi, Jawa Barat. Kasus tersebut menjadi perhatian khusus, baik pemerintah maupun orangtua sendiri.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Nyoman Gede Anom mengatakan, setiap tahun program pemberian obat massal untuk mencegah kecacingan pada anak sekolah sudah dilakukan. Obat cacing diberikan ke anak usia 1 sampai 12 tahun setiap tahun pada Februari dan Agustus.
"Kalau dianggap perlu, boleh sesuai indikasi atau arahan dokter (bagi orang dewasa)" terangnya.
1. Data capaian pemberian obat cacing di wilayah Bali

Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, sasaran dan cakupan POPM Kecacingan Provinsi Bali tercatat sebagai berikut:
(Sasaran usia 1-12 tahun)
Tahun 2023
Periode I
Sasaran 688.090 anak
Cakupan 99,88 persen
Periode II
Sasaran 687.229 anak
Cakupan 99,68 persen
Tahun 2024
Periode I
Sasaran 688.852 anak
Cakupan 99,91 persen
Periode II
Sasaran 680.370 persen
Cakupan 99,99 persen
Tahun 2015
Periode I
Sasaran 679.888 anak
Cakupan 99,97 persen.
2. Orangtua harus lebih perhatian terhadap pola hidup bersih anak

Ibu rumah tangga di Kecamatan Denpasar Utara, Radha (30), mengatakan sebagai ibu yang memiliki dua anak laki-laki menyadari aktivitas fisik mereka di luar ruangan. Maka, pemberian obat cacing menjadi agenda rutin.
Selain itu juga sebagai langkah pencegahan, ia rutin memastikan dan meminta anak-anaknya mencuci kaki serta tangan setelah datang dari luar. Termasuk sebelum makan, dan selesai memakai kamar mandi. Upaya lainnya, memotong kuku kaki dan tangan seminggu sekali serta pemberian minuman prebiotik.
"Untuk aktivitas tersebut, saya biasanya melakukan pemberian obat cacing tiga bulan sekali, lalu mengikuti program posyandu yang diberikan di sekolah setiap enam bulan sekali. Saya selalu memastikan anakku tidak jajan sembarangan," katanya.
3. Orang dewasa juga mengonsumsi obat cacing

Laila (29), warga yang tinggal di Kota Denpasar, juga rutin mengonsumsi obat cacing. Lantaran ia menduga dirinya cacingan. Hal tersebut dipicu kebiasaannya yang tidak suka mencuci tangan ketika makan. Selain itu, Laila juga kerap makan di warung dan kadang melihat makanan yang dibelinya dihinggapi lalat.
"Takut aja cacingan jadi minum Combantrin. Setelah minum, aku ngerasanya perutnya lebih ringan. Gak pengin makan ini itu," katanya.