Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Momen Galungan dan BBM Nonsubsidi Jadi Faktor Naiknya Inflasi Bali
Mural ikonik pada dinding bangunan di Jalan Gunung Kawi Denpasar. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Inflasi tahunan Bali pada Juni 2026 mencapai 3,27 persen, naik dari 2,94 persen tahun sebelumnya menurut BPS Provinsi Bali.
  • Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan momen Hari Raya Galungan menjadi faktor utama pendorong inflasi, terutama pada komoditas makanan, minuman, dan tembakau.
  • BPS Bali berharap setelah Galungan dan Kuningan harga komoditas kembali normal agar laju inflasi serta biaya transportasi tetap terkendali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Angka inflasi tahun ke tahun (year-on-year) di Bali pada periode Juni 2026 sebesar 3,27 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juni 2025 dengan angka inflasi sebesar 2,94 persen.

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan memaparkan bahwa kenaikan bensin nonsubsidi dan momen Hari Raya Galungan menjadi faktor peningkatan inflasi tahunan di Bali pada periode Juni 2026.

“Bulan Juni ini pendorongnya banyak kenapa dia (inflasi)  tinggi, yang pertama Galungan. Kedua ada kenaikan BBM nonsubsidi. Jadi, berlipat-lipat dorongannya untuk kenaikan harga,” ujar Agus di Kantor BPS Bali pada Rabu (1/7/2026). Berikut informasi selengkapnya.

1. Galungan dan harga BBM nonsubsidi jadi andil berlapis peningkatan inflasi

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan. (IDN Times/Yuko Utami)

Agus menegaskan saat Hari Raya Galungan, inflasi di Bali tak terelakkan. Kenaikan terbesar pada Galungan 2026 ada pada komoditas makanan, minuman, dan tembakau. Misalnya daging babi sebagai jenis komoditas spesifik yang mengalami kenaikan harga di Bali pada momen hari raya tersebut.

“Galungan pasti inflasi. Komoditasnya makanan, minuman, dan tembakau itu komoditas utama dengan andil besar karena bobotnya paling besar,” paparnya.

Meningkatnya angka inflasi Bali pada Juni 2026, juga disebabkan oleh kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi. Sejak 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dengan menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green. Pertamax dari awalnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu Pertamax Green semula Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

2. Prediksi BBM nonsubsidi menjadi faktor penyebab inflasi tertinggi di Bali ke depan

Poster massa Aksi Bali Bergerak singgung BBM mahal hingga janji 19 juta lapangan pekerjaan. (IDN Times/Yuko Utami)

Kebijakan kenaikan BBM nonsubsidi yang tergolong faktor administered price atau kenaikan harga karena kebijakan negara, berpotensi menjadi faktor penyebab meningkatnya inflasi secara kontinu di Bali.

Agus memprediksi kenaikan bensin nonsubsidi akan berpengaruh sebagai faktor baru peningkatan inflasi, yang sebelumnya didominasi komoditas makanan, minuman, dan tembakau.

“Dalam jangka panjang bisa jadi karena hampir semua pergerakan perekonomian membutuhkan itu ya. Apa orang mau mengangkut bahan bakunya, orang mengangkut bahan jualannya dan seterusnya,” jelas Agus.

3. Berharap setelah Galungan harga komoditas kembali normal

Dagang sesajen di Jalan Gunung Kawi Denpasar melayani pengunjung yang membeli canang. (IDN Times/Yuko Utami)

Secara umum, kenaikan inflasi di Bali secara tahunan disebabkan kenaikan komoditas pangan. Meskipun demikian, Agus juga mengingatkan agar tetap menjaga kestabilan harga tiket pesawat dan sejenisnya. Sebab imbas kenaikan harga tiket pesawat dikhawatirkan menjadi pemicu menurunnya kunjungan wisatawan.

Ia juga berharap setelah Galungan dan Kuningan, harga komoditas kian membaik, sehingga dapat menekan laju inflasi di Pulau Dewata.

“Ya mudah-mudahan setelah Hari Raya Galungan harganya akan kembali normal karena permintaannya berkurang dan lain sebagainya,” imbuh Agus.

Editorial Team

Related Article