Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

"Londo Ireng" Picu Aksi Jurnalis Bali, Prabowo Didesak Minta Maaf

Kota Denpasar
"Londo Ireng" Picu Aksi Jurnalis Bali, Prabowo Didesak Minta Maaf
Aksi damai Serikat Jurnalis Bali desak permintaan maaf Presiden Prabowo Subianto usai sebut jurnalis, LSM, dan peneliti sebagai londo ireng. (IDN Times/Yuko Utami)
Intinya Sih
5W1H
  • Serikat Jurnalis Bali menggelar aksi damai saat car free day di Renon, Denpasar, merespons pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, wartawan, LSM, dan pengamat sebagai londo ireng.
  • Aksi melibatkan sejumlah organisasi jurnalis, poster kritik, orasi, teatrikal, serta petisi masyarakat sipil yang memuat tanda tangan dan kritik terhadap rezim Prabowo-Gibran.
  • SJB menilai label londo ireng merendahkan dan mendelegitimasi kerja jurnalistik, lalu mendesak Prabowo meminta maaf serta mempertanyakan dasar pelabelan tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Denpasar, IDN Times - Momen hari bebas kendaraan atau car free day di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Niti Mandala, Renon, Denpasar tampak berbeda, Minggu (2/8/2026) pagi.

Masyarakat umum yang lari pagi berhenti sejenak menyaksikan para jurnalis memegang berbagai jenis poster aksi. Poster itu bertuliskan Kritik adalah Vitamin Bukan Racun Negara, Jurnalis Bukan Londo Ireng, hingga Presiden Harus Minta Maaf.

Aksi ini sebagai respon atas pernyataan, Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis, wartawan, LSM, dan pengamat sebagai londo ireng pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center pada 23 Juli 2026 panen kecaman.

Para jurnalis ini tergabung dalam Serikat Jurnalis Bali (SJB), di dalamnya terdapat sejumlah organisasi jurnalis, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali, dan sebagainya.

Koordinator Aksi, Rizky Setyo Samudro, menjelaskan persiapan aksi ini sejak pukul 07.00 Wita. Pihaknya juga menyediakan kain putih besar untuk sarana masyarakat sipil berekspresi dan tanda tangan petisi.

“Kami sebagai pengontrol sosial di publik, setiap kontrol sosial juga tidak ingin setiap pernyataan Kepala Negara mendiskreditkan kami sebagai pilar keempat demokrasi sebagai antek-antek asing atau londo ireng,” ujar Rizky setelah aksi.

Antusiasme masyarakat sipil cukup tinggi hingga ikut memberikan dukungan kepada para jurnalis lewat petisi. Bentangan kain putih penuh dengan tanda tangan dan kritik terhadap rezim Prabowo-Gibran.

Kata Rizky, petisi itu nantinya akan disampaikan kepada pengurus pusat di masing-masing organisasi.

Tak hanya bersuara lewat orasi dan berbagai poster, ada tiga orang jurnalis yang berperan sebagai Prabowo Subianto, Puan Maharani, hingga Sufmi Dasco. Mereka memerankan sosok politisi yang dinilai kontroversial dalam menyatakan pendapat di forum-forum kenegaraan.

Londo ireng dalam konteks sejarah Indonesia adalah istilah peyoratif yang digunakan untuk menyebut antek penjajah, kolaborator, atau pihak yang berkhianat. Istilah ini juga merujuk pada orang yang membela kepentingan kolonial atau asing daripada bangsanya sendiri. 

Pada akhir aksi, jurnalis mengungkapkan pernyataan dan mendesak permintaan maaf dari Prabowo Subianto. Mereka menegaskan bahwa penggunaan istilah ini untuk melabeli jurnalis dan elemen masyarakat sipil adalah tindakan yang merendahkan, mengecilkan, dan mendelegitimasi profesi serta kerja-kerja jurnalistik di lapangan.

“Kami meminta agar Pak Presiden meminta maaf, apa dasarnya presiden mencap kami sebagai londo ireng. Faktanya upah saja masih minim malah dituduh,” tegas Rizky.

Aksi damai ini berakhir pada pukul 10.00 Wita. Meskipun demikian, Rizky menegaskan pihaknya tetap mendesak permintaan maaf dari Presiden RI ke-8 itu.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More