ilustrasi memory card (unsplash.com/Tom Pumford)
Sesampai di kosnya daerah Kota Denpasar, Gede terus memikirkan kondisi keluarganya. Ibunya yang hanya tukang sapu, buruh lipat tas, dan penjual kue tentu tidak cukup untuk membiayai kehidupan mereka. Apalagi Gede dan adiknya juga masih memerlukan sokongan dana, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun sekolah.
Lalu ia berpikir untuk menjual memori handphone 8 GB miliknya yang biasa ia gunakan untuk menyimpan tugas sekolah. ia menjualnya seharga Rp40 ribu di grup jual beli lokal Facebook. Ia mengakui postingannya mendapatkan banyak respon, namun sebagian dari mereka menawar setengah harga.
“Saya kepikiran dah itu waktu di rumah. Ah, coba jual memori gitu. Saya posting dulu memori. Saya jual harganya Rp40 ribu itu, harganya kalau mau ditawar lagi boleh. Nah malah banyak yang nge-bully itu dah langsung. Tapi saya nggak tanggapin gitu,” ceritanya.
Ia tidak mengingat siapa saja yang membully-nya saat itu. Namun kata-kata pedas yang dilontarkan melalui pesan tertulis itu sempat ia baca dan masih teringat jelas. Mulai dari bentuk komentar "Nggak mati aja sekalian", yang ditujukan untuk ayahnya yang sedang dirawat di rumah sakit. Hingga dibilang "Modus", "Nggak punya otak", hingga dikomentari "Jual bapak".
“Ya malah biarlah nggak apa-apa. Tapi lama kelamaan kok makin keras nge-bully-nya gitu. Habis itu saya coba posting yang lain. Ada HP (Handphone) bapak saya, Nokia nggak kepakai tapi masih bisa hidup kan. Saya coba foto, saya post juga di Facebook. Saya post ada juga yang mau beli, syukur juga. Dari Mengwi (Nama Kecamatan di Kabupaten Badung) orangnya minta ketemu sama saya, langsung dicek HP-nya dapat Rp75 ribu gitu,” ungkapnya.
Uang Rp75 ribu tersebut kemudian digunakan untuk makan, bekal, uang bensin ke rumah sakit, dan membeli kuota internet. Ia lalu bertemu dengan relawan dari Yayasan Relawan Bali yang memintanya agar tidak menjual memori tersebut.
“Relawan Bali ini dah yang ngasih tahu saya untuk jangan jual memori. Simpan aja memorinya. Saya nanti sama teman-teman bantu,” menirukan ucapan relawan tersebut.
“Nah, saya awalnya nggak mau gitu. Takut saya dikira ngemis-ngemis soalnya di Facebook saya sudah di-bully habis-habisan gitu. Tapi akhirnya bli-nya (Nama panggilan mas di Bali) yang datang ke rumah sakit malamnya gitu,” jelasnya.
Akhirnya dari uang Rp75 ribu dan bantuan relawan tersebut, Gede urung menjual memori handphone-nya.