Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Hal yang Akan Kamu Lepas Kalau Memilih Quiet Living
ilustrasi seseorang merasa tenang setela menjalani quiet living (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)
  • Quiet living mengajak hidup lebih tenang dengan fokus pada hal penting, tanpa mengejar validasi sosial, terlihat sibuk, atau terus berada dalam kebisingan digital.

  • Gaya hidup ini mendorong pemilihan relasi suportif, pengurangan kebiasaan scroll media sosial, serta pembatasan belanja impulsif yang dipicu bosan, stres, atau keinginan validasi.

  • Penerapannya mencakup keberanian menolak saat kapasitas terbatas dan melepaskan standar sukses orang lain demi membangun hidup yang lebih jujur, nyaman, dan sesuai diri sendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Quiet living digambarkan sebagai gaya hidup yang mengutamakan ketenangan dan fokus pada hal penting, termasuk melepaskan kebiasaan terlihat sibuk, kecanduan media sosial, belanja pelarian, serta standar sukses orang lain.
  • Who?
    Orang yang ingin menerapkan quiet living menjadi kelompok yang dibahas, terutama mereka yang ingin mengurangi stres, menjaga batas diri, dan memilih lingkungan pertemanan yang lebih suportif.
  • Where?
    Penerapan quiet living berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berinteraksi dengan teman, menggunakan media sosial, bekerja, berbelanja, dan menetapkan tujuan pribadi.
  • When?
    Perubahan dilakukan saat seseorang memilih memasuki fase quiet living; tidak ada waktu atau lokasi khusus yang disebutkan.
  • Why?
    Gaya hidup ini dipilih untuk mengurangi tekanan mencari validasi sosial, kebisingan digital, stres, kelelahan, serta dorongan mengikuti pencapaian dan standar hidup orang lain.
  • How?
    Dilakukan dengan memberi waktu beristirahat, menyeleksi pertemanan, membatasi konten media sosial, berbelanja berdasarkan kebutuhan, berani menolak permintaan, dan membangun target hidup sesuai kebutuhan diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Quiet living merupakan gaya hidup untuk menjalani hari dengan lebih tenang dan fokus pada hal-hal penting. Hal ini bukan berarti hidup menyendiri, tidak punya ambisi, atau menolak semua kesenangan.

Gaya hidup ini menjadi cara untuk memilih hidup tenang tanpa harus mengejar validasi sosial dan hidup dalam kebisingan digital. Kalau kamu benar-benar ingin memasuki era ini, ada beberapa hal yang akan kamu lepas kalau benar-benar masuk era quiet living.

1. Kebutuhan untuk selalu terlihat sibuk

ilustrasi sedang bekerja (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dulu, kita mungkin sering merasa harus kelihatan sibuk, gercep (gerak cepat) balas chat, dan ambil semua kerjaan supaya dianggap bernilai di mata orang lain. Padahal, sibuk belum tentu bikin kita benar-benar produktif, sering kali malah bikin stres dan capek sendiri.

Kalau kamu sudah masuk ke era quiet living, istirahat itu kebutuhan, bukan berarti malas. Kadang, meluangkan waktu untuk bengong dan santai, justru bikin kepala jauh lebih ringan serta dapat mengambil keputusan yang lebih pas.

2. Circle pertemanan yang isinya bikin capek

ilustrasi circle pertemanan yang positif (pexels.com/Elina Fairytale)

Quiet living bakal bikin kamu jadi lebih selektif untuk menghindari mereka yang suka hobi bikin drama, suka nge-judge, dan bikin minder. Secara otomatis, kamu akan mulai nyaman dengan teman-teman yang selalu bikin nyaman dengan obrolan bermutu dan saling support.

Circle pertemanan yang positif dapat membuat kamu bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain. Berhenti berteman dengan orang yang toxic bukan berarti jahat, tetapi menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental.

3. Kecanduan scroll media sosial

Scrolling social media (pexelS.com/Ron Lach)

Pasti, kamu sering mengalami niat hati hanya untuk melihat story teman, tapi malah kebablasan scroll sampe stres sendiri gara-gara membandingkan hidup dengan orang lain. Di fase quiet living, kamu bakal mulai berhenti untuk melakukan kebiasaan ini, entah itu dengan unfollow akun yang bikin insecure atau memilih konten yang isinya lebih bermutu.

Pelan-pelan, kamu akan sadar bahwa gak semua hal dalam hidup harus di-post media sosial. Ada kalanya, momen bahagia hanya dinikmati sendiri tanpa perlu dilihat banyak orang.

4. Sering belanja cuma buat pelarian

ilustrasi paket belanja online (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Bagi sebagian orang, pasti pernah mengalami tiba-tiba check-out belanjaan online, padahal barangnya gak penting-penting banget. Niatnya mau lihat-lihat, eh malah berujung kalap gara-gara lagi bosan, stres, dan mencari pelarian supaya mood naik.

Kalau sudah menerapkan quiet living, kamu akan mikir dua kali untuk check-out. Bukan berarti tidak boleh belanja, tetapi lebih ke kualitas dan kebutuhan, jadi bukan sekadar lapar mata atau mencari validasi.

5. Gak berani menolak karena takut dibilang jahat

ilustrasi seorang wanita berani menolak permintaan orang lain (pexels.com/Yan Krukau)

Dulu, mungkin kamu susah untuk menolak permintaan orang karena takut dibilang jahat atau egois. Di fase ini, kamu akan sadar kalau menolak itu hal wajar, terutama saat kamu memang tidak sanggup atau kapasitas energinya sudah habis.

Menjaga batas diri bukan tindakan egois, tetapi langkah terbaik agar kamu tidak tumbang. Kamu bisa memberikan energi yang lebih tulus saat benar-benar ingin membantu orang lain.

6. Mengikuti standar sukses orang lain

ilustrasi seorang wanita berhasil menerapkan quiet living (pexels.com/Gustavo Fring)

Banyak dari kita mati-matian mengejar karier, gaya hidup, dan pencapaian tertentu hanya karena mengikuti standar orang lain. Quiet living bakal bikin kamu berhenti sebentar dan mulai bertanya pada diri sendiri.

Kamu akhirnya ikhlas melepaskan target-target yang dulunya kelihatan keren, tapi malah menyiksa diri sendiri. Sebagai gantinya, kamu pelan-pelan membangun hidup versi diri sendiri yang jauh lebih jujur, tenang, dan nyaman tanpa terpengaruh dengan standar sukses orang lain.

Memasuki ke era quiet living, berarti kamu akan tumbuh dengan cara yang lebih sehat tanpa menyiksa diri sendiri. Gak perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain, kamu bisa menikmati proses hidupmu sendiri dengan lebih tenang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article