Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Generasi Viral, Bagaimana Media Menciptakan Budaya Instan?

Generasi Viral, Bagaimana Media Menciptakan Budaya Instan?
Foto hanya ilustrasi (Sandra Buana Sari Photo)

Siapa yang tak kenal dengan tren viral di TikTok atau Instagram? Dalam hitungan detik, sebuah video atau foto bisa menjadi sorotan jutaan pasang mata. Menurut laporan Statista (2022), TikTok memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan di seluruh dunia, sementara Instagram terus menjadi salah satu platform terbesar untuk berbagi konten visual (Kemp, 2023). Namun, pernahkah kita berpikir, bagaimana budaya viral ini terbentuk? Dari mana asal-usulnya, dan apa dampaknya bagi masyarakat khususnya Generasi Z yang menjadi pelaku sekaligus penontonnya?

1. Evolusi media: dari gosip hingga internet

ilustrasi koneksi internet (pexels.com/Brett Jordan)
ilustrasi koneksi internet (pexels.com/Brett Jordan)

Menurut Morissan PhD (2022), perjalanan budaya manusia melewati empat tahap evolusi masyarakat, yang semuanya dipengaruhi oleh evolusi media yang digunakan. Tahap awal yaitu masa kesukuan (pre-agricultural society), manusia hidup dalam kelompok kecil dan mengandalkan budaya lisan untuk menyampaikan cerita. Gosip menjadi alat penting untuk membangun kepercayaan di antara sesama (Dunbar, 1998). Di era ini, tulisan mulai muncul dan menggantikan peran lisan, meskipun hanya segelintir orang yang bisa membaca. Meskipun buku menjadi media yang penting dan penggunaannya masih terbatas di kalangan elite, tetapi berhasil memengaruhi pola pikir masyarakat (McLuhan, 1964).

Selanjutnya adalah era industri, teknologi cetak seperti koran dan buku membuat informasi lebih mudah diakses, namun menciptakan individualism dan fragmentasi sosial karena orang dengan mudah mengakses informasi secara pribadi.

Saat ini kita berada dalam era masyarakat informasi, di mana teknologi digital seperti internet dan media sosial memungkinkan informasi tersebar dan mengubah cara kita berkomunikasi secara secara instan dan global (Morissan, 2022; Kemp, 2023).

Budaya viral yang kita alami sekarang adalah produk dari perjalanan panjang media dalam membentuk cara manusia berkomunikasi. Media sosial telah mengubah "pasar gosip" menjadi arena global tempat semua orang berbagi cerita, opini, hingga kontroversi (Papacharissi, 2015). Setiap unggahan adalah cerminan bagaimana kita memahami dunia, sekaligus cara kita berinteraksi dengan budaya digital.

2. Mengapa budaya viral begitu memikat?

foto hanya ilustrasi (pexels.com/Adrienn)
foto hanya ilustrasi (pexels.com/Adrienn)

Alasan budaya viral begitu memikat karena ia menyentuh naluri dasar manusia: kesenangan bergosip. Robin Dunbar, seorang antropolog dalam bukunya Grooming, Gossip, and the Evolution of Language (1998), menjelaskan bahwa bahasa manusia awalnya berkembang untuk bergosip. Saat ini, media sosial telah berevolusi sebagai platform global yang mengakomodasi kebutuhan ini dan menjadi "pasar gosip" terbesar, tempat orang-orang berbagi cerita tentang diri sendiri, opini, hingga kontroversi (Papacharissi, 2015).

Selain itu, budaya viral juga berakar pada kemampuan manusia menciptakan mitos bersama. Buku Sapiens: A Brief History of Humankind karya Yuval Noah Harari (2015) menjelaskan bahwa mitos membantu manusia bekerja sama dalam kelompok besar. Kini, mitos-mitos modern hadir berbentuk tren, meme, atau tantangan viral yang memberi kita rasa keterhubungan, meskipun kita tidak saling mengenal.

3. Budaya instan: berkah atau beban?

foto hanya ilustrasi (pexels.com/Tim Samuel)
foto hanya ilustrasi (pexels.com/Tim Samuel)

Budaya viral memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi memberikan ruang bagi suara-suara kecil untuk terdengar. Siapa pun bisa berbagi cerita dan mendapatkan perhatian tanpa memandang latar belakang. Kampanye sosial, seperti #SavePapua dan #BijakBerplastik, lahir dari kekuatan viralitas ini dan membuktikan bagaimana viralitas bisa menjadi alat perubahan sosial (Kim & Hastak, 2018). Banyak kampanye online yang berhasil menarik perhatian orang banyak karena memanfaatkan platform yang akrab dengan Gen Z, seperti Instagram dan TikTok, untuk menyebarkan pesan-pesan relevan maupun inspiratif.

Di sisi lain, budaya ini juga menciptakan tekanan sosial. Validasi online melalui likes, views, dan share menjadi begitu penting. Sehingga banyak orang rela melakukan apa saja demi kontennya viral. Fenomena ini mengingatkan kita pada era industri, di mana media massa menciptakan pola pikir individualistis dan terfragmentasi (McLuhan, 1964; Morissan, 2022).

4. Membangun budaya viral yang bermakna

foto hanya ilustrasi (pexels.com/Katerina Holmes)
foto hanya ilustrasi (pexels.com/Katerina Holmes)

Harari (2015) menjelaskan, kemampuan manusia menciptakan realitas imajinasi adalah keunikan yang membedakan homo sapiens dari spesies lain. Budaya viral adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka peluang besar untuk berbagi cerita dan menciptakan koneksi. Namun, di sisi lain, ia menuntut kita untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan memproduksi informasi. Pilihan untuk membentuk budaya digital yang lebih baik sebetulnya ada di tangan kita.

Semua lapisan masyarakat, mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan budaya digital sebagai alat perubahan positif bukan hanya tren sementara (Kemp, 2023; Turkle, 2011). Saat membuat konten, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini memberikan nilai? Apakah ini membantu orang lain? Dengan begitu, kita bisa memanfaatkan budaya viral untuk menyebarkan hal-hal yang bermanfaat, bukan sekadar hiburan kosong (Turkle, 2011). Jadi, seharusnya kita memanfaatkan teknologi untuk mendorong diskusi bermakna, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.

Referensi
Dunbar, R. (1998). Grooming, Gossip, and the Evolution of Language. Harvard University Press

Harari, Y. N. (2015). Sapiens: A Brief History of Humankind. Harper.
Kemp, S. (2023). Digital 2023: Global overview report. Retrieved from https://datareportal.com
Kim, S., & Hastak, M. (2018). Social network analysis: Characteristics of online social networks after a disaster. International Journal of Information Management, 39, 1–16. https://doi.org/10.1016/j.ijinfomgt.2017.10.003
McLuhan, M. (1964). Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill
Morissan, Ph.D. (2022). Kajian Media dan Budaya
Papacharissi, Z. (2015). Affective publics: Sentiment, technology, and politics. Oxford University Press
Statista. (2022). Number of TikTok users worldwide from 2019 to 2022
Turkle, S. (2011). Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

[QUIZ] Uji Pengetahuan Tebak Makna Simbol Dewi Saraswati

04 Apr 2026, 18:50 WIBNews