Denpasar, IDN Times - Pagi di Kabupaten Gianyar selalu dimulai dengan hal yang sama bagi Komang Merta (54), menyiapkan sesajen dan menghitung uang belanja. Namun sejak beberapa bulan terakhir, satu di antara dua rutinitas itu berubah menjadi lebih berat.
Di tangannya, lembaran uang Rp50 ribu kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan simbol dari pilihan-pilihan kecil yang harus diambil setiap hari antara cukup atau kurang, antara tradisi dan kebutuhan dapur.
“Sekarang bunga saja bisa Rp50 ribu per kilo,” ujarnya pelan ketika berbincang kepada IDN Times.
Harga itu bukan sekadar angka. Bagi Merta, itu berarti satu jenis kebutuhan sudah menyerap sebagian besar anggaran hariannya.
