Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
DBD Renggut Nyawa Balita di Buleleng, Ini Langkah Dinkes Bali
ilustrasi virus dengue dan nyamuk penyebab demam berdarah/DBD (commons.wikimedia.org/NIAID)
  • Seorang balita di Banyuning Timur, Buleleng meninggal akibat DBD, menjadi kasus kematian pertama di Bali periode Januari–April 2026 dengan total 102 kasus tercatat di wilayah tersebut.
  • Dinas Kesehatan Bali dan Buleleng memperkuat koordinasi serta menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk melalui kegiatan rutin PSN setiap Jumat dan penyuluhan metode 3M plus kepada masyarakat.
  • Dinkes Bali mengoptimalkan peran jumantik, mendistribusikan larvasida serta RDT DBD ke seluruh kabupaten/kota, dan bekerja sama dengan BMKG untuk antisipasi cuaca yang memengaruhi perkembangan nyamuk.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Buleleng, IDN Times - Seorang balita di Banyuning Timur, Kelurahan Banyuning, Kabupaten Buleleng, meninggal dunia karena demam berdarah dengue (DBD) pada Selasa, 7 April 2026 lalu. Kasus meninggalnya korban akibat DBD ini menjadi yang pertama di Bali pada periode Januari hingga April 2026. 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat, sepanjang Januari hingga April 2026 ada 102 kasus DBD di Buleleng. Angka itu menjadikan Buleleng sebagai daerah dengan kasus DBD tertinggi keempat se-Bali. Kasus DBD tertinggi pertama pada periode yang sama berada di Kabupaten Gianyar dengan 176 kasus, kedua di Kabupaten Badung dengan 169 kasus, ketiga di Kabupaten Karangasem dengan 107 kasus. Bagaimana tanggapan dan langkah penanganan dari Dinkes Bali? Berikut informasi selengkapnya.

Giat pemberantasan sarang nyamuk di Buleleng

ilustrasi jentik-jentik nyamuk (pexels.com/Helena Jankovicova Kovacova)

Kepala Dinkes Provinsi Bali, I Nyoman Gede Anom, menjelaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng terhadap kasus meninggalnya balita karena DBD. 

“Sudah dilakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dan Dinas Kesehatan Kab Buleleng sudah bergerak melakukan kegiatan preventif,” ungkap Anom pada Selasa (14/4/2026).

Puskesmas di Buleleng tengah gencar melakukan langkah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) setiap hari Jumat. Petugas berkeliling desa serta melakukan penyuluhan di gedung puskesmas. Penyuluhan tersebut ditujukan kepada masyarakat yang berkunjung ke puskesmas.

Tekankan metode 3M plus

ilustrasi nyamuk menghisap darah (pexels.com/Shyamli Kashyap)

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti menjelaskan lebih lanjut sejumlah langkah yang dilakukan mencegah DBD di kabupaten/kota se-Bali. Langkah-langkah itu melalui pelaksanaan promosi kesehatan untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan 3 M plus.

Berdasarkan situs resmi Kementerian Kesehatan RI, langkah 3 M sebagai berikut.

  • Menguras tempat penampungan air

  • Menutup tempat-tempat penampungan air

  • Mendaur ulang berbagai barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD pada manusia.

Adapun poin plus yang dimaksud meliputi sejumlah langkah tambahan, misalnya menanam tanaman penangkal nyamuk, memeriksa tempat penampungan air, memelihara ikan pemakan jentik, dan sebagainya.

Penguatan peran jumantik dan distribusi tes cepat DBD

Ilustrasi puskesmas (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Sepanjang tahun 2025, ada 10.438 kasus DBD di Bali, 13 orang di antaranya meninggal dunia. Menanggapi itu, Raka menjelaskan selain 3M plus, optimalisasi peran juru pemantau jentik (jumantik) amat krusial. “Mengoptimalkan peran jumantik di kab/kota, Dinas Kesehatan Prov Bali telah mendistribusikan larvasida ke seluruh kab/kota,” tutur Raka pada Selasa (14/4/2026).

Dinkes Bali juga bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mendapatkan dan menyebarkan informasi musim demi antisipasi cuaca dengan perkembangan nyamuk. Langkah lainnya, Raka menyebutkan Dinkes Bali telah mendistribusikan RDT (Rapid Diagnosa Tes) DBD ke kabupaten/kota se-Bali untuk diagnosa cepat DBD di puskesmas.

Editorial Team