Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
CORI Robotic Surgical System Bantu Layanan Ortopedi, Ini Keunggulannya
Tim dokter Ortopedi Siloam Hospitals Bali mengoperasikan CORI Robotic Surgical System dari Tawada Healthcare (THC) secara perdana pada April 2026 (Dok.IDN Times/Istimewa)
  • CORI Robotic Surgical System hadir di beberapa kota besar Indonesia dan digunakan untuk operasi ortopedi dengan teknologi pemetaan 3D yang meningkatkan akurasi tindakan medis.
  • Robot ini memungkinkan dokter melakukan operasi penggantian sendi lutut secara real-time tanpa CT scan, menghasilkan pemotongan tulang yang lebih presisi dan mempercepat pemulihan pasien.
  • Sistem CORI mempersonalisasi karakter tulang tiap pasien dengan ketelitian hingga derajat nol koma, memastikan sudut potong dan ukuran implan sesuai anatomi individu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Badung, IDN Times - CORI Robotic Surgical System buatan Amerika menjadi andalan di layanan Ortopedi modern. Sales Director Advance Treatment Tawada Healthcare (THC), Rosmiaty Tio menjelaskan, di Bali, robot ada di RS Siloam. Selain itu juga terdapat di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, serta Pekanbaru.

Kecanggihannya dalam memetakan 3D tulang untuk membantu mensimulasikan dan menentukan sudut pemotongan tulang diklaim sangat akurat dibanding teknologi lainnya yang ada saat ini. Alat ini telah digunakan untuk menyelesaikan 400 kasus osteoarthritis di Indonesia sejah launching tahun 2024.

"Di sini ada teknologi robotik. Ini menggunakan sistem 3D mapping. Jadi benar-benar kondisi pasien itu bisa langsung terlihat langsung," jelasnya.

1. Pemotongan sendi bisa lebih presisi

CORI Robotic Surgical System dari Tawada Healthcare (THC (IDN Times/Ayu Afria)

Menurut Rosmiaty Tio, tekologi CORI Robotic Surgical System memosisikan pasien di kondisi real-time sebelum dilakukan tindakan operasi. Robot ini sebagai solusi modern yang aman, presisi, minim nyeri dan proses pemulihan yang lebih cepat. Lebih lanjut, sistem navigasi yang terdapat pada Robotic Assisted Arthroplasty CORI memungkinkan dokter melakukan tindakan operasi dengan tingkat akurasi tinggi melalui pemetaan anatomi lutut pasien secara 3D dan real-time langsung di ruang operasi, tanpa memerlukan CT scan.

Kondisi tersebut berbeda dengan cara yang konvensional, dimana pasien akan melakukan CT Scan terlebih dahulu, untuk kemudian menentukan jadwal operasi yang bisa berjarak dalam hitungan minggu bahkan bulan. Kondisi tersebut justru diungkap berpotensi terjadinua perubahan bentuk dari waktu pengambilan CT Scan dan saat tindakan.

"Jadi biasanya kan ada juga misalnya pasien kalau habis operasi penggantian sendi lutut itu mereka berasa lebih sakit, kurang nyaman untuk melakukan ibadah salat atau sebagainya itu bisa terjadi pemotongan sendi lutut yang berlebih atau kurang. Nah, dengan teknologi ini bisa membantu dokter benar-benar melakukan jauh lebih presisi," terangnya.

2. Karakter tulang setiap pasien berbeda

Dokter Spesialis Ortopedi Siloam Hospitals Bali, Erwin Saspraditya menjelaskan terkait dengan operasi penggantian lutut (IDN Times/Ayu Afria)

Lebih lanjut, Product Manager Orthopedic Tawada Healthcare, M Fadli Fatahillah menjelaskan robot saat pemotongan sendi lutut menggunakan instrumentasi konvensional biasa, akan menyamaratakan tulang pasien. Artinya semua tulang pasien dianggap sama. Sedangkan dengan robotik ini, kondisi tulang pasien lebih dipersonalisasi. Setiap pasien memiliki karakter tulang sehingga tidak ada lebih potong, dan presisi pada sudut potongnya.

"Kalau yang dikerjakan robot ini, dia itu mempersonalisasi setiap pasien. Jadi, tiap pasien itu tulang pasti berbeda-beda ya. Jadi, nanti arahnya, angle-nya, kemudian sudut potongannya itu akan berbeda-beda juga," jelasnya.

3. Derajat potongan mencapai angka nol koma

ilustrasi cedera lutut (pixabay.com/users/tungart7-38741244)

Lebih lanjut penggunaan robot ini diungkap memiliki ketelitian yang tinggi. Setelah CORI Robotic melakukan pemetaan 3D tulang pasien, selanjutnya akan masuk proses planing penentuan implan yang akan dipakai pasien mulai dari ukuran hingga sudut potongnya.

"Nah, untuk sudut potongannya ini akan terlihat sampai derajat yang mili, kecil sekali gitu ya. Kalau untuk instrumentasi biasa, dia mungkin kita hanya bisa lihat 1-2 mili. Sedangkan kalau dengan robotik ini sampai nol koma, lebih presisi," jelas Fadli

Robot ini akan mensimulasikan hasil, sehingga bisa lebih awal membaca hasil akhir sebelum tindakan berlangsung. Setelah semuanya oke, maka dokter akan melakukan decision maker, pemotongan tulang.

"Pemotongan tulang ini sebenarnya kalau untuk yang konvensional menggunakan gergaji. Iya, gergaji. Sedangkan untuk alat ini menggunakan sistem bor. Halus sekali," jelasnya.

Editorial Team

Related Article