Banjir Bandang, Ratusan Warga Banjar Buleleng Krisis Air Bersih

Buleleng, IDN Times - Banjir bandang menerjang Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng sejak 6 Maret 2026, mengakibatkan dua korban meninggal dunia dan dua lainnya hilang. Wilayah tersebut juga mengalami kerusakan infrastruktur dan krisis air bersih.
Derasnya aliran banjir mengakibatkan pipa-pipa saluran air bersih warga sekitar rusak parah. Berdasarkan pencatatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, ada 951 kepala keluarga (KK) terdampak pipa aliran air bersih yang rusak.
Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng berkoordinasi dengan sejumlah instansi vital untuk membahas penanganan krisis air bersih imbas banjir. Asisten I Setda Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, melalui rapat koordinasi tersebut menyepakati sejumlah langkah penanganan darurat.
Berdasarkan rilis resmi Pemkab Buleleng, langkah darurat itu seperti pengerahan dua unit alat berat oleh Dinas PUPR Perkim. Alat berat itu untuk membantu penanganan di lokasi terdampak selama enam hari, dengan estimasi kebutuhan operasional dan mobilisasi alat.
Langkah darurat lainnya yakni menyiapkan distribusi air bersih menggunakan enam unit mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di beberapa desa terdampak.
"Desa yang memerlukan suplai air bersih meliputi Banjar Tegeha, Tampekan, Banjar, Dencarik, Banyuseri, dan Bestala,” papar Ariadi.
Mobil tangki air ini disediakan secara kolaboratif oleh BPBD Kabupaten Buleleng, BPBD Provinsi Bali, PMI Kabupaten Buleleng, Dinas Lingkungan Hidup, serta PDAM Buleleng.
Sementara itu, pada sektor pelayanan masyarakat, Dinas Sosial menyiapkan bantuan logistik bagi warga terdampak. Dinas Kesehatan melalui puskesmas memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Satpol PP turut melakukan penjagaan di pos lapangan untuk memastikan situasi tetap kondusif.
Percepatan koordinasi lanjutan, tersedia Posko Terpadu di Kantor BPBD Kabupaten Buleleng serta Pos Lapangan di Polsek Banjar. Kata Ariadi, unsur TNI dan Polri juga menyatakan kesiapan untuk mendukung penanganan di lapangan, termasuk bantuan tenaga jika dibutuhkan.
"Selain penanganan terhadap masyarakat, perhatian juga diberikan pada fasilitas pendidikan yang terdampak,” tutur Ariadi.
Sejumlah sekolah seperti SD Negeri 5 Banjar, SMP Negeri 3 Seririt, dan TK Bestala akan ditangani melalui kegiatan gotong royong pembersihan secara manual agar aktivitas belajar mengajar dapat kembali normal.


















