Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bali Butuh Banyak Pohon Kepala untuk Produksi Arak

Bali Butuh Banyak Pohon Kepala untuk Produksi Arak
Ilustrasi pohon kelapa. (IDN Times/Yuko Utami)
Intinya Sih
5W1H
  • Pemerintah Provinsi Bali mempercepat budidaya pohon kelapa untuk memenuhi kebutuhan bahan baku arak yang meningkat pesat sejak diberlakukannya Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020.
  • Kemudahan perizinan melalui skema Perumda membuat 30 koperasi arak Bali kini dapat berproduksi secara legal tanpa harus menumpang izin perusahaan besar.
  • Asosiasi Koperasi Arak Bali (ASIKI) menyiapkan rencana kerja termasuk ekspansi arak Bali ke pasar internasional, sejalan dengan target peningkatan kualitas dan daya saing produk lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Denpasar, IDN Times - Arak sebagai minuman beralkohol khas Bali mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Perhatian tersebut berupa penempatan produk arak Bali di pusat perbelanjaan hingga area gerai Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Perjalanan arak di Bali kian melesat sejak adanya Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Menyusul kemudahan perizinan dan skema usaha melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda). Pelaku usaha arak bali, Wayan Juli Arsana, mengatakan skema usaha arak lewat Perumda akan menambah peluang usaha bagi pendatang baru usaha arak.

"Kalau izin alkohol perumda final secara legal, pasti banyak teman-teman yang bisa produksi tapi tidak ada pabrik akan produksi di pabrik alkohol milik perumda," ujar Arsana kepada IDN Times, Sabtu (28/3/2026).

Satu sisi, peningkatan peluang usaha arak dan permintaan di pasaran berdampak pada ketersediaan bahan baku. Arak terbuat dari fermentasi kelapa maupun nira lewat proses penyulingan dan menghasilkan kadar alkohol hingga 50 persen. Bagaimana ketersediaan kelapa di Bali sebagai bahan baku arak? Berikut informasi selengkapnya.

Butuh lebih banyak pohon kelapa untuk produksi arak

ilustrasi pohon kelapa (pixabay.com/dududelpy)
ilustrasi pohon kelapa (pixabay.com/dududelpy)

Gubernur Bali, Wayan Koster, menyebutkan arak di Duty Free keberangkatan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai terbilang laku. Melalui pidato setahun jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali, Koster mengatakan arak bali laku keras mengalahkan Red Label.

Ia juga memaparkan laporan dari sejumlah produsen arak Bali, dalam sebulan mampu menghabiskan 400-600 liter. Besaran produksi itu, kata Koster terhalang ketersediaan tuak sebagai bahan baku arak.

“Ternyata agak terhalang karena produksi tuaknya itu tidak cukup. Jadi karena itu harus dilakukan percepatan penanaman pohon kelapa agar ada kelapa tegak dalam waktu 4 tahun sudah panen,” imbuh Koster.

Ia menegaskan percepatan program budidaya pohon kelapa tidak hanya untuk memenuhi produksi arak tradisional. Tetapi juga untuk kebutuhan upakara umat Hindu di Bali. 

Kemudahan perizinan arak tradisional

koster pidato.jpeg
Gubernur Bali Wayan Koster saat pidato setahun kepemimpinan pada Rabu, 25 Maret 2026. (IDN Times/Yuko Utami)

Kebutuhan pasokan bahan baku arak tradisional di Bali, kata Koster menunjukkan minat arak di kalangan wisatawan mancanegara (wisman). Peningkatan produksi dan percepatan penanaman pohon kelapa juga bertujuan memenuhi ekspor arak.

Peningkatan produksi dan daya minat terhadap arak tidak terlepas dari kemudahan perizinan industri arak bali. Kementerian Perindustrian RI memberikan izin produksi usaha arak kepada Pemprov Bali melalui skema Perusahaan Umum Daerah (Perumda). Perizinan ini memudahkan pelaksanaan industri arak dari bisnis ke bisnis.

“Dengan izin ini maka selama ini koperasi arak yang menggunakan numpang perusahaan yang punya izin harus bayar ratusan juta di depan, sekarang gak perlu lagi, gak perlu lagi modal yang Rp100 juta ini,” papar Koster.

Ada 30 koperasi arak bali gabung Perumda

llustrasi Arak Bali (Dok.IDN Times/Sandra)
llustrasi Arak Bali (Dok.IDN Times/Sandra)

Ada 30 koperasi arak bali yang bernaung dalam Perumda tersebut. Selama ini, kendala perizinan membuat produsen arak di bawah koperasi harus menumpang dengan usaha besar yang memiliki izin. Kini koperasi tersebut bergabung dalam Perumda. 

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Koperasi Arak Bali (ASIKI), I Wayan Sumerta, mengatakan 30 koperasi arak bali dalam asosiasi dan naungan Perumda ini baru dibentuk pada Rabu lalu, 25 Maret 2026.

"Telah dibentuk pada 25 Maret 2026 kemarin di Gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Perwakilan Bali," kata Sumerta, Sabtu (28/3/2026).

Ada 11 orang pengurus yang berasal dari koperasi arak bali masing-masing dengan 14 poin rencana kerja tahun 2026. Satu di antaranya ASIKI berencana menindaklanjuti peluang arak bali menuju pasar internasional melalui Atase Perdagangan diseluruh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang ada. Rencana arak bali go international itu membutuhkan Surat Pengantar Gubernur Bali.

Rencana kerja itu selaras dengan keinginan Koster. Ia menegaskan tugas selanjutnya agar kemasan arak tradisional dari Bali semakin berkualitas. Peningkatan daya saing dengan produk serupa dari negara lainnya menjadi target bersama ekosistem usaha arak bali. Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng ini meyakini arak dapat bersaing dengan produk minuman dunia seperti soju, Korea, sake, Jepang, dan wiski dari Benua Eropa. 

Menurutnya, peningkatan produksi dan daya saing arak bali dapat menaikkan kesejahteraan hidup petani pohon kelapa di sejumlah daerah Bali, khususnya Kabupaten Karangasem.

“Jadi hidupnya itu dari tuak yang didapat dari pohon kelapa dan seterusnya. Saya senang sekali melihat penghidupan petani kita di Kabupaten Karangasem,” kata dia.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More