Batuk Terus-terusan, Anak 10 Tahun di Bali Derita TBC Kulit

Ini catatan penting untuk keluarga

Denpasar, IDN Times - Sudah satu bulan anak perempuan (10) asal Kota Denpasar dirawat di rumah sakit (RS) daerah Denpasar karena menderita tuberkulosis (TBC) kulit. Selama itu, ia berjuang untuk mencari kesembuhan di ruang isolasi. Tak banyak keluarga yang bisa menemaninya di dalam ruangan tersebut. Sebab ruangan itu didesain khusus untuk pasien tropic infectious.

Bibinya, KTT (34), bercerita sebelumnya tidak ada anggota keluarga yang terdeteksi memiliki riwayat TBC, hingga keponakannya mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Meski dinyatakan tidak menular, tapi pasien harus menjalani pengobatan selama berbulan-bulan, dan bobotnya turun menjadi 22 kilogram untuk anak seusia 10 tahun.

1. Berawal dari batuk yang tak kunjung sembuh dan dinyatakan TBC kulit

Batuk Terus-terusan, Anak 10 Tahun di Bali Derita TBC Kulitilustrasi anak batuk-batuk (littlespurspedi.com)

Sang keponakan awalnya mengalami batuk-batuk sekitar 6 bulan lalu. Ia lalu dibawa berobat ke dokter, dan mendapatkan obat. Tapi batuk yang dideritanya terus muncul, dan tak kunjung reda. Kondisi itu membuatnya semakin lemah hingga dilarikan ke RS.

"Mulanya dikira hanya batuk biasa karena cuacanya memang kurang bagus. Akhirnya karena semakin menjadi dan ponakan semakin kurus, lemah, sekitar 1 bulan lalu dibawa ke rumah sakit," kata KTT.

Hasil pemeriksaan mendalam menyebutkan, pasien suspek TBC dan harus menjalani perawatan di ruang isolasi. Setelah dilakukan observasi, diketahui aia menderita TBC kulit yang tidak menular.

"Hasilnya, ponakan TBC kulit yang tidak menular. Penyakit yang menular adalah jika TBC paru," ungkapnya.

2. Pengobatan dilakukan berbulan-bulan, dan tidak boleh bolong

Batuk Terus-terusan, Anak 10 Tahun di Bali Derita TBC Kulitilustrasi obat-obatan (IDN Times/Mardya Shakti)

Masa perawatan di RS itu bertepatan dengan libur sekolah. Sehingga keponakannya bisa mendapatkan perawatan secara intens. Setelah hampir satu bulan dirawat di RS, keponakan diizinkan pulang pada akhir Juni 2023 dan menjalani rawat jalan. Pihak sekolah juga memberikan dukungan dengan memberikan izin untuk pemulihan kesehatan pasien lebih dulu.

Selama rawat jalan, sang keponakan harus menjalani pengobatan secara rutin 6 bulan berturut-turut dan terjadwal. Jika pengobatannya terlambat atau melewati jadwal sedikit saja, maka pengobatannya harus diulang lagi selama 6 bulan.

"Mengonsumsi obat secara rutin selama 6 bulan dan harus di jadwal yang sama. Tidak boleh telat, tidak boleh ada bolong. Jika ada bolong, maka harus ulang lagi selama 6 bulan," cerita KTT.

Karena proses perawatanya masih panjang sampai 6 bulan ke depan, KTT berharap setelah keponakannya sembuh nantinya bisa lebih mawas diri. Karena apa pun bisa terjadi walaupun sudah berusaha hidup sehat.

Pihak keluarga merasa terbantu karena pengobatan ini ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dan obatnya bisa diambil di puskesmas setiap seminggu sekali.

3. Sebulan menjaga pasien di ruang isolasi, jadi ingat kesehatan sendiri

Batuk Terus-terusan, Anak 10 Tahun di Bali Derita TBC Kulitilustrasi batuk pada anak (babycentre.co.uk)

Selama perawatan di ruang isolasi, pihak RS hanya memperbolehkan satu hingga dua orang saja yang menjaga pasien. Dalam satu kamar hanya berisi satu pasien saja.

Mengingat ruang perawatan ini adalah ruang khusus, maka kondisinya sepi, dan tidak banyak orang sebagaimana ruang perawatan lainnya. Selama di sana juga tidak ada baju khusus yang harus dikenakan oleh penunggu pasien.

"Sebisa mungkin penjaga harus terus pakai masker dan jaga kebersihan. Tidak khawatir akan tertular karena sudah niat untuk saudara, apa pun akan dilakukan. Tapi penting juga bagi penjaga untuk ingat dengan kesehatan diri sendiri," ujar KTT.

Rencananya pada pertengahan Juli 2023 ini, pihak keluarga meminta izin kepada pihak sekolah agar boleh menungguinya jika memang sudah diperbolehkan masuk kelas. Namun jika tidak diperbolehkan, maka pihak keluarga akan mengajukan izin belajar dari rumah.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran penting untuk keluarga ya. Cepat sembuh, adik.

Topik:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya