Comscore Tracker

Fenomena Kasus Remas Payudara di Bali, Candu Miras Memicu Maladaptif

Semua bisa jadi korban maupun pelaku

Denpasar, IDN Times – Kepolisian Sektor (Polsek) Pupuan Kabupaten Tabanan menangkap seorang pelaku percobaan pemerkosaan dan pelecehan seksual, I Putu APP (20), Senin (30/11/2020) lalu. Ia meremas payudara korbannya. Aksi itu ia lakukan kepada empat perempuan di hari yang sama.

Belum selesai kasus ini, media sosial (Medsos) kembali dihebohkan oleh pengakuan seorang netizen pada Rabu (2/12/2020), bahwa kakaknya menjadi korban remas payudara di daerah Panjer, Kota Denpasar. Terkait kejadian ini, Kanit Reskrim Polsek Denpasar Selatan, AKP Hadimastika Karsito Putro, yang dikonfirmasi Jumat (4/12/2020) menyampaikan korban melapor di Kepolisian Resor kota (Polresta) Denpasar.

Lalu bagaimana penjelasan perilaku tersebut dari ilmu psikologi? Berikut penjelasan Dosen Program Studi Psikologi Universitas Bali Internasional, Aritya Widianti, kepada IDN Times.

Baca Juga: Komunikasi COVID-19 Satu Pintu di Bali Banyak Kurangnya, Imbauan Terus

1. Efek dari pengaruh zat psikoaktif

Fenomena Kasus Remas Payudara di Bali, Candu Miras Memicu Maladaptiftheconversation.com

Menurut Aritya, fenomena perilaku itu terjadi karena pengaruh zat psikoaktif dalam minuman yang dikonsumsi oleh pelaku. Seperti kasus yang didalami oleh Polsek Pupuan tersebut. Polisi menyebutkan tersangka dalam pengaruh minuman beralkohol.

Ketika seseorang mengonsumsi minuman beralkohol, kandungan zat kimia yang ada di dalam tubuhnya akan memengaruhi pengalaman, perilaku subjektif, dan bekerja pada sistem saraf yang dimiliki seseorang.

“Perilaku seseorang sangat dipengaruhi stimulus dan bagaimana stimulus tersebut diproses di dalam otak. Ketika seseorang mengonsumsi miras, di mana miras sama-sama kita tahu mengandung zat-zat kimia, yang jika dikonsumsi berdampak merugikan,” jelasnya, Jumat (4/12/2020).

2. Kecanduan dapat memengaruhi proses mental seseorang

Fenomena Kasus Remas Payudara di Bali, Candu Miras Memicu Maladaptifscienceabc.com

Zat psikoaktif yang menyenangkan secara sesaat ini berdampak merugikan, karena memengaruhi sistem kerja saraf melalui banyak cara. Ketika seseorang mengonsumsinya secara terus menerus, tentu akan muncul efek withdrawal (Penghentian pemakaian memberi efek berlawanan ketika zat psikoaktif diberikan pertama kali).

“Individu jadi sulit mengendalikan perilaku mencari zat tersebut. Jika sudah kecanduan, memengaruhi proses mental seseorang. Perilakunya menjadi maladaptif (Individu dalam menyesuaikan masalah menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya). Bisa saja pelaku selain terbiasa mengonsumsi miras juga terpapar tontonan pornografi (Mungkin). Perlu ditelisik lebih dalam,” kata Aritya.

3. Berujung suka melanggar aturan sosial

Fenomena Kasus Remas Payudara di Bali, Candu Miras Memicu MaladaptifIlustrasi Borgol (Dok. IDN Times)

Kejadian remas payudara dan percobaan pemerkosaan di atas, kata Aritya, perlu ditelusuri dari hulu sampai hilir. Sebab kesehatan mental harus diupayakan oleh semua lapisan masyarakat agar sejahtera.

“Kita bisa bayangkan apabila seseorang aktif mengonsumsi miras, kemudian ditambah hobi melihat tontonan pornografi, maka tidak heran orang tersebut perilakunya sangat maladaptif. Sering melanggar aturan-aturan sosial misalnya,” tuturnya.

Begitu pula pengawasan peredaran miras di masyarakat. Mulai kemudahan mendapatkannya, hingga menyikapi kejadian semacam ini secara komprehensif. Bukan tidak mungkin pengawasan yang tidak konsisten akan sering memunculkan kejadian serupa, namun dengan pelaku dan korban yang berbeda.

4. Pelaku pelecehan seksual bisa dikenali ciri-cirinya secara psikologis:

Fenomena Kasus Remas Payudara di Bali, Candu Miras Memicu MaladaptifIlustrasi Pelecehan (IDN Times/Arief Rahmat)

Sebenarnya semua orang berpotensi menjadi korban maupun pelaku pelecehan seksual. Tidak memandang jenis kelamin atau gender, usia, dan latar belakang. Pelaku pelecehan seksual memiliki ciri-ciri psikologis yang bisa dikenali. Seperti yang pernah ditulis oleh IDN Times berjudul Waspadai 5 Tanda Psikologis pada Pelaku Pelecehan Seksual, berikut ini ciri-cirinya:

  1. Umumnya punya kepribadian narsistik, psikopati, dan machiavellianisme

Laman Psychology Today menyebut kondisi ini sebagai "the dark triad" atau triad kegelapan. Ada tiga sifat sekaligus yang dimiliki oleh pelaku di antaranya narsisme, psikopati, dan machiavellianisme.

Narsisme merupakan pandangan seseorang yang melambung atas dirinya sendiri. Biasanya kurang memiliki empati, dan tidak peduli apakah kamu suka atau tidak atas tindakan mereka. Sebab mereka punya pemikiran kalau dirinya kuat dan layak dikagumi.

Pelaku pelecehan seksual berkepribadian narsistik akan membenarkan tindakan pelecehannya, dan menganggap korban adalah orang yang pantas untuk mendapatkannya. Contohnya, pelaku melakukan catcalling. Kalau korban risih, pelaku akan berujar ini adalah hal wajar yang harus diterima karena korban memiliki wajah rupawan, memakai pakaian terbuka, fisik yang mengundang nafsu, dan alasan lainnya.

Pelaku pelecehan seksual juga memiliki sifat psikopati. Artinya, mereka kerap mendominasi orang lain, tidak punya empati, sering mengeksploitasi, manipulatif dan cenderung impulsif agresif.

Pelaku pelecehan yang psikopat akan melecehkan orang lain secara sadar dan tidak merasa bersalah telah melakukannya.

Pelaku pelecehan seksual juga punya sifat machiavellianism. Dapat diartikan sebagai ketiadaan moral dan penuh tipu daya. Pelaku pelecehan seksual biasanya punya ketiga sifat tersebut.

2. Melakukan pembenaran atas tindakan mereka sendiri

Laman Psychology Today menyebutkan, pelaku pelecehan seksual cenderung melakukan pembenaran atas tindakannya sendiri. Prinsip moral umum sudah tidak berlaku di kehidupan mereka. Pelaku akan menganggap pelecehan yang dilakukannya adalah tindakan yang bisa diterima. Contohnya: "Dulu, perempuan gak marah tuh kalau saya goda. Justru itu pujian karena mereka cantik. Kok sekarang pada sensi, ya?"

3. Ada 5 bentuk moral disengagement yang dimiliki oleh pelaku pelecehan

  • Moral justification: Menganggap pelecehan sebagai tindakan yang bisa diterima
  • Euphemistic labeling: Memakai istilah yang telah didistorsi untuk menyebut perilaku mereka
  • Displacement of responsibility atau pengalihan tanggung jawab: menghubungkan pelecehan dengan kekuatan di luar kendali mereka. Misalnya pelaku melecehkan dan berdalih, "Nafsu saya tidak bisa ditahan, sudah dari sananya."
  • Advantageous comparison: Pelaku menganggap bahwa perilakunya bisa lebih buruk, tetapi mereka tidak melakukannya untuk membuat korban "merasa beruntung". Contohnya "Masih mending cuma disiul-siul, belum dipegang kan?"
  • Dehumanization and attribution of blame: Ini adalah tendensi untuk menyalahkan korban. Karena korban dianggap melakukan tindakan yang memprovokasi untuk melecehkan. Misalnya, menyalahkan pakaian korban yang terbuka sebagai 'undangan' untuk pelaku melakukan pelecehan.

Untuk informasi selengkapnya, dapat kamu klik link di sini ya.

5. Perempuan dianggap sebagai objek semata

Fenomena Kasus Remas Payudara di Bali, Candu Miras Memicu MaladaptifIlustrasi Pelecehan (IDN Times/Mardya Shakti)

Sekarang berbicara pada lingkup yang lebih spesifik ya. Yaitu pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki kepada korban perempuan. Pelaku biasanya cenderung misoginis, menganggap relasi antara kedua gender tidak setara dan menganggap perempuan adalah objek semata.

Contohnya, "Salah mereka sendiri, kenapa keluar malam?" , atau "Kenapa gak melawan atau kabur atau menolak atau teriak saja? Berarti sama-sama mau dong."  Kalimat-kalimat ini biasanya akan disematkan kepada korban pelecehan seksual maupun pemerkosaan. Apabila seseorang punya tendensi untuk mengucapkan kalimat tersebut, ia punya kesempatan menjadi pelaku pelecehan di kemudian hari.

Baca Juga: Diduga Mabuk, Pemuda Asal Tabanan Bali Nekat Coba Setubuhi 4 Perempuan

Topic:

  • Ayu Afria Ulita Ermalia
  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya