Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Budidaya Jamur Tiram, Berawal Cari Sampingan saat Pandemik

Budidaya  Jamur Tiram, Berawal Cari Sampingan saat Pandemik
Budidaya jamur tiram di Desa Petiga Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Tabanan, IDN Times - Berawal hendak mencari pendapatan alternatif saat pandemik COVID-19, warga di Desa Petiga Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan mengembangkan budidaya jamur tiram pada awal tahun 2022. Kini usaha tersebut terus berkembang. 

Bukan hal mudah memulai usaha ketika pandemik COVID-19 melanda. Pelaku usaha budidaya jamur tiram harus merasakan berkali-kali kegagalan, khususnya dalam mengembangkan media tanam atau baglog. 

Seperti apa kisah mereka? Simak nih ulasan berikut. 

1. Sempat gagal empat kali membuat media tanam pembibitan jamur

ilustrasi jamur (Freepik.com/wirestock)
ilustrasi jamur (Freepik.com/wirestock)

Salah satu pelaku budidaya jamur tiram di Desa Petiga yang juga Ketua Bumdes Tri Buana Mesari Desa Petiga,  Made Wira, mengungkap bahwa sebetulnya desanya dikenal karena potensi tanaman hias.

"Tetapi pemasaran tergantung sektor pariwisata sehingga saat pandemi COVID-19, penjualannya lesu. Melihat kondisi tersebut dicarilah solusi alternatif untuk menambah pendapatan dengan budidaya jamur tiram," kata Made Wira pada Selasa (20/2/2024).

Namun usaha ini tentu tidak serta merta berhasil. Made Wira mengaku sampai gagal empat kali dalam mencari komposisi yang pas untuk media tanam pembibitan (baglog) jamur tiram.

Dia tidak menyerah, hingga kemudian berhasil menemukan komposisi yang cocok dan berhasil mengembangkan budidaya jamur tiram di Desa Petiga. Informasi dan tata cara pembuatan media tanam yang dia lihat di Yotube juga gagal. "Sehingga otodidak mencari komposisi yang pas dan akhirnya berhasil," ujarnya.

2. Satu baglog menghasilkan 300-400 gram jamur tiram

Budidaya jamur tiram di Desa Petiga Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan (Dok.IDNTimes/Istimewa)
Budidaya jamur tiram di Desa Petiga Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Setelah mengetahui komposisi media tanam yang tepat, kata Made Wira, sebenarnya budidaya jamur tiram tidak terlalu sulit, terutama saat proses pembibitan sampai tumbuh jamur yang memerlukan waktu 25-30 hari.

"Meski perawatan mudah dan tidak perlu banyak tenaga namun ketelatenan menjaga kelembaban dan sanitasi di area pembibitan sangat penting, karena rentan terkontaminasi," ujarnya.

Ia melanjutkan, satu baglog jamur dalam rentang waktu 3 bulan bisa tumbuh 3-4 kali, dengan rata rata 100-110 gram per sekali panen. Oleh karena satu baglog  bisa tiga-empat kali panen, maka satu baglog bisa menghasilkan sekitar 300-400 gram jamur.

3. Produksi jamur tiram tergantung cuaca

ilustrasi kekeringan (pexel.com/FOX)
ilustrasi kekeringan (pexel.com/FOX)

Saat ini, salah satu tantangan utama dalam budidaya jamur tiram adalah perubahan cuaca. Menurut Made Wira, cuaca panas yang berlangsung sekarang menyebabkan produksi jamur tiram menurun. Padahal permintaan saat ini tinggi, terutama di wilayah Kecamatan Tabanan dan Kecamatan Kediri. Dia juga mengaku menerima pesanan dari Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. 

"Pesanan bisa sampai sampai ratusan kilogram. Tetapi saat ini  karena cuaca kering dan panas, kami tidak bisa memenuhi pesanan itu sepenuhnya, karena kapasitas produksi jamur segar yang dihasilkan hanya maksimal 35 kilogram," ujar Made Wira.

Untuk memaksimalkan pendapatan, Made Wira tak hanya berjualan jamur. Dia juga melayani pemesanan baglog jamur. Pesanan dia dapat, baik dari sekitar Tabanan bahkan hingga dari Kabupaten Karangasem.

"Permintaan dalam bentuk baglog tahun 2023 sampai 10 ribu buah dan awal tahun 2024 atau sampai bulan Februari ini sudah ada permintaan sebanyak 2 ribu baglog," kata dia. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ni Ketut Wira Sanjiwani
Ita Lismawati F Malau
Ni Ketut Wira Sanjiwani
EditorNi Ketut Wira Sanjiwani
Follow Us

Latest News Bali

See More

Lelang Jabatan Kadis di Tabanan, Pelamar Paparkan Ide dan Inovasi

08 Apr 2026, 16:45 WIBNews