Bali Tetap Jadi Idaman Bisnis Konstruksi

Denpasar, IDN Times - Pesona Bali memberikan kestabilan tersendiri dalam bisnis konstruksi. Bali diungkap akan tetap menjadi tujuan para investor dalam berinvestasi. Hal tersebut disampaikan oleh Founder PT BMG, Rakhmad Wibisono, bahwa banyak dari mereka yang membidik Asia Tenggara khususnya di Bali untuk mengamankan investasinya. Kesempatan tersebut diakuinya menjadi peluang bisnis jasa konstruksi yang menjanjikan.
"Yang saya tahu seperti ini, orang-orang Eropa Timur yang terdampak perang dan memiliki dana lebih dari 1 juta dolar itu akan kebingungan berinvestasi. Akhirnya dengan properti ini, mereka lebih aman berinvestasi di Bali, di Pattaya, ataupun di Asia Tenggara," ungkapnya.
1. Perbedaan bisnis konstruksi di Jawa dan Bali

Menurut Rakhmad Wibisono, dalam bisnis konstruksi di Bali dan Jawa tidak memiliki perbedaan yang spesifik. Perkembangan konstruksi di Jawa lebih banyak ke proyek yang anggarannya bersumber dari Pemerintah daerah dan pusat. Sedangkan perkembangan bisnis konstruksi di Bali lebih banyak terhubung dengan proyek-proyek yang berasal dari luar Negara Indonesia, dengan kecenderungan tuntutan kualitas dan standar yang lebih tinggi. Kebiasaan tersebut kemudian rencananya akan segera ia terapkan pada bisnis konstruksi di Jawa.
"Jadi sebenarnya sama-sama. Hanya di Bali dituntut lebih profesional. Orang Spanyol, UK, dan luar negeri mereka maunya profesional," terangnya.
Ia juga lebih banyak menerima poyek konstruksi di Bali, terutama wilayah Badung Selatan berupa bangunan vila dan apartemen.
2. Investor diedukasi soal perizinan sebelum menggunakan jasa kontraktor

Tidak sekadar bisnis, ia juga menekankan kepada calon investor di Bali agar taat perizinan sebelum menggunakan jasa kontraktornya. Hal ini untuk menghindari kemungkinan permasalahan-permasalahan perizinan yang akan timbul, misalnya pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).
"Saat ini kami sedang menekankan jangan sampai investor asing maupun lokal tidak ada perizinan yang didulukan," ungkapnya.
Selain itu, pihaknya juga tidak segan memberikan masukan kesesuaian bangunan dengan budaya Bali kepada pengembang pribadi. Mengingat Bali juga memiliki aturan terkait bangunan sesuai dengan arsitektur Bali.
3. Pekerja konstruksi terbanyak diambil dari Jawa

Sejauh ini, para pekerja konstruksi di Bali sekitar 80 persen diakuinya merupakan pekerja dari Jawa. Dua puluh persennya merupakan pekerja dari Bali yang fokus seni misalnya pada gravir, pahat, pekerjaan yang memerlukan ketelitian, dan pemasangan batu.
"Perusahaan konstruksi itu tergantung dalam 3 hal. Dalam hal waktu, biaya, dan dalam hal kualitas. Jadi ini semua saling keterikatan," terangnya.
Meski baru berdiri setahun namun bisnis di bidang konstruksinya berkembang cepat di tiga lokasi di antaranya Bali, Surabaya, dan Mojokerto. Untuk memaksimalkan peluang bisnis tersebut, perusahaan ini memiliki 5 perusahaan lainnya yang bergerak di bidang yang berbeda namun terintegrasi.
"Sebenarnya kami berawal dari Bali, semua konsep semua ide semua usaha. Rencana kami mau gandeng, saat ini kan semua logistik atau material yang kami butuhkan ada di Jawa," ungkapnya.



![[QUIZ] Uji Pengetahuan Tebak Makna Simbol Dewi Saraswati](https://image.idntimes.com/post/20220830/inspirasi4-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-368be3d4b386e227c928db93b011873b.jpg)














