Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Subak di Jatiluwih Menerima Pendapatan Rp1,22 Miliar Pada 2025

Subak di Jatiluwih (IDN Times/Ayu Afria)
Subak di Jatiluwih (IDN Times/Ayu Afria)

Tabanan, IDN Times- Manajemen Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih membagikan pendapatan atau pahpahan berdasarkan kesepakatan bersama setiap tahunnya. Adapun pendapatan bersih DTW Jatiluwih dialokasikan sebesar 45 persen untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Tabanan, dan 55 persen lainnya disalurkan kepada para pihak di Desa Jatiluwih. Penerima alokasi 55 persen tersebut meliputi Desa Dinas Jatiluwih, Desa Adat Jatiluwih, Desa Adat Gunungsari, Subak Jatiluwih, Subak Abian Gunungsari, dan Subak Abian Jatiluwih.

Untuk ke subak-subak di Jatiluwih pada 2025, pahpahan yang disalurkan mencapai Rp1.222.066.005. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp1.109.744.914. Manajer DTW Jatiluwih, Ketut Purna, mengatakan selain pahpahan, DTW Jatiluwih juga menyalurkan CSR ke subak. Pada 2025, jumlah CSR mencapai Rp580 juta.

1. Pahpahan menurut drastis pada Desember 2025

20250719_104853.jpg
DTW Jatiluwih (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Berdasarkan data DTW Jatiluwih, secara rinci pahpahan yang dibagikan ke subak-subak di Jatiluwih per bulan adalah Januari Rp56.426.648; Februari Rp57.731.487; Maret Rp55.999.159; April Rp113.385.719; Mei Rp114.376.630; Juni Rp110.792.782; Juli Rp129.185.740; Agustus Rp196.862.635; September Rp138.012.915; Oktober Rp117.313.556; November Rp87.308.214; dan Desember Rp44.667.520

Purna mengatakan, penurunan pembagian pahpahan ke subak di Jatiluwih pada Desember karena adanya penurunan drastis jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

"Penurunannya mencapai 80 persen. Dari yang biasanya 1000-an per hari jadi sekitar 120 an per hari," ujarnya.

2. Manajemen Jatiluwih fokus dalam memulihkan kepercayaan wisatawan

Lahan sawah di Jatiluwih, Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)
Lahan sawah di Jatiluwih, Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Adanya pemasangan seng oleh petani di Jatiluwih berkontribusi dalam menurunkan kunjungan wisman. Bahkan beberapa agen wisata di luar negeri membatalkan kunjungan ke DTW Jatiluwih karena alasan keamanan. Setelah seng diturunkan, pihak manajemen DTW Jatiluwih akan meneruskan informasi ini ke stakeholder pariwisata, agen, hingga paguyuban pariwisata.

Menurut Purna, untuk mengembalikan minat pasar internasional sangat penting menjaga stabilitas kawasan, serta membangun komunikasi yang harmonis antara petani, manajemen operasional, hingga badan pengelola.

“Diharapkan jika ada persoalan ke depan, bisa diselesaikan dengan duduk bersama. Kami siap menjembatani agar tidak lagi berdampak pada citra pariwisata Jatiluwih,” katanya.

Selain stabilitas sosial, tantangan pemulihan juga terletak pada sistem penjualan paket wisata internasional yang disusun jauh hari. Menurut Purna, agen perjalanan Eropa umumnya menyusun paket wisata enam bulan sebelum keberangkatan, bahkan menetapkan destinasi dan harga sejak April untuk periode enam bulan ke depan.

“Kalau sampai Jatiluwih dicoret dari paket sekarang, dampaknya bisa terasa sampai satu tahun. Karena itu pemulihan harus dilakukan secepat mungkin,” jelasnya.

3. Penyaluran CSR ke subak

IMG-20260105-WA0027.jpg
Petani Jatiluwih mencabut seng, pada Senin (5/1/2026). (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Purna melanjutkan, selain pahpahan, pihak manajemen DTW Jatiluwih juga menyalurkan CSR ke subak-subak di Jatiluwih. Untuk tahun 2025 ini, dana CSR yang dibagikan sebesar Rp580 juta. CSR yang disalurkan berupa dana pupuk untuk subak di Jatiluwih, hingga dana pelaksanaan upacara seperti Ngusaba Alit di subak-subak Jatiluwih.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

Polisi Menetapkan Kepala BPN Bali Tersangka Penyalahgunaan Jabatan

12 Jan 2026, 23:04 WIBNews