Foto hanya ilustrasi (Pexels.com/Savannah Dematteo)
Faktor lainnya adalah hasil dari masyarakat patriarki, laki-laki lebih memiliki akses yang leluasa terhadap kepemilikan sumber daya dibandingkan dengan perempuan (Abbot, dkk, 2005). Perempuan cenderung memiliki ketergantungan baik secara materi maupun non materi pada laki-laki, seperti halnya terbiasa dimanja saat bepergian (perempuan kerap dilarang menggunakan ojek online ataupun membawa kendaraan sendiri sehingga perempuan terbiasa diantar jemput), diberi bunga secara tiba-tiba ataupun barang-barang lainnya. Perempuan (korban) cenderung menerima dan tunduk terhadap kekerasan yang dialaminya. KDP dipicu dari adanya kontrol atas laki-laki terhadap sumber daya yang ada (materi ataupun non materi) terhadap perempuan yang menimbulkan relasi kuasa dan ketergantungan.
Selain itu, daya tawar yang dimiliki dalam hubungan berakibat pada meningkatnya prevalensi pelecehan berbasis gender yang berkontribusi pada kepatuhan perempuan terhadap perilaku kekerasan. Pada umumnya, laki-laki akan memposisikan diri sebagai makhluk yang lebih kuat dan berkuasa, sementara perempuan juga cenderung memperlihatkan bahwa dirinya merupakan individu yang lebih rapuh dan perlu perhatian lebih. Dinamika ini menyebabkan hubungan yang terjalin tidak sejajar, di mana laki-laki akan memiliki otoritas yang lebih tinggi dan kuasa yang lebih banyak atas perempuan. Perempuan akan menjadi cenderung pasif dan senantiasa mengikuti serta menuruti keinginan sang laki-laki.
Menurut Feiring (1996, dalam Ellis, Crooks, & Wolfe, 2008), pengalaman pacaran merupakan pengalaman pertama remaja dalam memiliki hubungan privat. Sehingga hal ini menjadikan emosi mereka belum dapat terkontrol dengan baik. Hal ini dapat meningkatkan emosi, termasuk perasaan cemas, takut, dan menimbulkan stres. Sehingga terkadang membuat mereka melakukan tindakan agresif sebagai manifestasi dari emosi yang mereka hadapi. Pernyataan ini juga didukung oleh Carolyn dkk (2004 dalam Brown, dkk tahun 2009) yang menyebutkan bahwa remaja usia 16-24 tahun tidak memiliki banyak pengalaman dan kemandirian, serta dipengaruhi oleh dukungan dari teman sebaya yang juga tidak memiliki cukup pengalaman. Oleh karenanya, mereka memiliki kecenderungan menyelesaikan masalah ataupun berupaya menangani emosi berdasarkan intuisi dan pengaruh dari teman-teman dalam peer group mereka.
Pengalaman yang terbatas, emosi yang belum stabil, ketidakmandirian, dan pengetahuan yang kurang luas, serta dukungan yang salah dari rekan sebaya semakin menguatkan bagaimana kekerasan dalam pacaran dapat terjadi di hubungan remaja. Hal ini akhirnya memberikan pembatasan dalam remaja memberikan respons yang tepat terkait dating violence (Powers & Kerman, 2006) dan kebanyakan dari remaja justru menganggap hal tersebut merupakan bukti bahwa mereka saling mencintai (Levi, 1990 dalam O’Keefe, 2005).