Gamelan Selonding dari 100Kg Plastik Daur Ulang Bergema di Bali

- Seniman Dewa Bayu membuat penyangga gamelan Selonding dari hampir 100 kilogram sampah plastik, terinspirasi kondisi lingkungan dan sekaligus mengampanyekan pengelolaan sampah.
- Bali menghasilkan sekitar 1,25 juta ton sampah per tahun, dengan plastik lebih dari 17 persen; Recycle Me menyediakan drop box PET daur ulang di 20 gerai M Mart.
- CCEP Indonesia mendorong ekonomi sirkular melalui pengumpulan botol PET pascakonsumsi, penggunaan rPET sejak 2023, serta kolaborasi peritel, pemerintah daerah, dan mitra pengelolaan sampah.
Badung, IDN Times - Suara gamelan Selonding Bali terdengar lebih keras di tepi Pantai Seminyak akhir pekan lalu. Menariknya, penyangga gamelan yang dimainkan bukan dari bahan biasanya, malah terbuat dari daur ulang plastik.
Seniman sekaligus inisiator dari pembuatan gamelan recycle sampah plastik, Dewa Bayu (26), mengatakan untuk membuat rancangan gamelan tersebut menghabiskan hampir 100kg (kilogram) sampah plastik. Ide tersebut terinspirasi dari alam.
"Sekarang apa yang saya bisa sumbangsih pada alam? Jadi di alam saya banyak, di lingkungan saya banyak melihat sampah. Lalu dari sanalah tercetus idenya untuk membuat gamelan ini," jelasnya.
1. Seniman juga kampanye soal pengelolaan sampah

ilustrasi botol plastik (pexels.com/mali maeder) Menurut Dewa Bayu, untuk merealisasikan idenya tersebut, ia bekerja sama dengan pihak lain untuk mendapat bahan baku plastik. Penyangga gamelan yang dibuat 8 bulan lalu, diakuinya juga menghadapi kendala sosial dalam aplikasinya. Karena tidak semua pihak sepakat sampah dijadikan bagian dari gamelan karena bertentangan dengan tradisi.
"Yang terbaru dari kami itu ada aksesori dari plastik gitu. Ada gelungan, ada yang berbasis pokoknya tradisi. Kami meminimalisir penggunaan apa ya organik dari alam itu kami ganti dari plastik," ucapnya.
2. Kontribusi dunia usaha dalam pengelolaan sampah

Drop box untuk sampah PET (IDN Times/Ayu Afria) Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), Bali menghasilkan sekitar 1,25 juta ton sampah setiap tahun atau setara dengan 3.436 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sampah plastik menyumbang lebih dari 17 persen. Sebagai lokasi destinasi wisata, Bali menghadapi tantangan pengelolaan kemasan yang berkelanjutan, misalnya pengumpulan dan daur ulang kemasan pascakonsumsi.
Beberapa perusahaan bergabung misalnya Coca-Cola System di Indonesia, yang terdiri dari Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia) dan Coca-Cola Indonesia, bersama PT Global Retailindo Pratama, perusahaan ritel yang membawahi jaringan M Mart dan Big M meluncurkan inisiatif Recycle Me. Upaya ini untuk meningkatkan pengumpulan kemasan pascakonsumsi melalui penyediaan drop box botol PET di 20 gerai M Mart di Bali. Drop box botol PET tersebut juga terbuat dari daur ulang sampah plastik.
“Bali saat ini menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang cukup besar sehingga membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan. Masyarakat membutuhkan akses yang lebih mudah untuk mengembalikan kemasan pascakonsumsi agar dapat didaur ulang," ungkap Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Dwi Arbani.
3. Ekonomi sirkular di Bali harus didorong mulai dari persoalan sampah

Ilustrasi minuman botol (IDN Times/Ayu Afria) Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia, Dhedy Adi Nugroho, mengatakan membangun ekonomi sirkular membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari desain dan produksi kemasan, pengumpulan pascakonsumsi, hingga proses daur ulang dan penggunaan kembali. Peran partisipasi masyarakat yang lebih besar dalam mengembalikan botol PET pascakonsumsi ke fasilitas drop box yang tersedia di gerai-gerai M Mart, akan masuk ke rantai nilai daur ulang sehingga dapat digunakan kembali sebagai bahan baku kemasan baru.
Sejak tahun 2023, Coca-Cola di Indonesia telah menggunakan recycled PET (rPET) dalam portofolio kemasannya sebagai bagian dari upaya meningkatkan penggunaan material daur ulang dan mengurangi sampah kemasan.
"Melalui kemitraan di seluruh rantai nilai, kami ingin membantu menciptakan sistem di mana kemasan tidak dipandang sebagai sampah, melainkan sebagai sumber daya bernilai yang dapat terus dimanfaatkan," jelasnya.
Peritel berperan memperluas akses masyarakat terhadap fasilitas pengumpulan kemasan dan edukasi daur ulang, serta kolaborasi pemerintah daerah dan mitra TPS 3R dalam pengelolaan kemasan pascakonsumsi. Hal ini dikarenakan jaringan gerai peritel terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari konsumen, antara konsumen dengan sistem pengumpulan kemasan pascakonsumsi.
![[OPINI] Bali Tidak Boleh Melupakan Peristiwa 65 dan Dampaknya](https://image.idntimes.com/post/20260810/81e11935-35b6-41e2-b910-dc624991a8bd_2b0a20c0-42b2-40ca-96fd-8db472014bf4_watermarked_idntimes-2.jpeg)
![[QUIZ] Uji Pengetahuan Fakta Provinsi Bali Menjelang HUT ke-68](https://image.idntimes.com/post/20250409/natalia-indah-932-1825408f10a29e57b2f8621c6624b34f-8712277261bdc9de4809017efa2923d2.jpg)
















