Denpasar, IDN Times - Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, mengklaim progres Sensus Ekonomi di Bali baru mencapai 23 persen. Hal tersebut berdasarkan prelis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali yang memperkirakan jumlah rumah tangga, jumlah usaha, dan indikator lainnya.
“Kalau yang paling tinggi capaiannya masih Buleleng, yang paling rendah capaiannya Kota Denpasar,” ujar Agus pada Rabu (1/7/2026) di Kantor BPS Provinsi Bali.
Rendahnya capaian Sensus Ekonomi sementara di Kota Denpasar karena faktor kendala petugas lapangan. Mulai dari responden yang sulit ditemui hingga tingkat pemahaman sensus ekonomi.
“Daerah perkotaan itu mungkin selain respondennya memang susah ditemui karena ketika petugas ke rumah tidak bisa ketemu dan seterusnya,” ujar Agus.
Tingkat pemahaman responden di Kota Denpasar terhadap kegiatan Sensus Ekonomi dianggap belum terpenuhi.
“Kemudian juga ada dalam tanda kutip pemahaman responden yang mungkin belum terlalu baik terkait dengan sensus, masih ada yang curiga adanya sensus dan seterusnya,” imbuhnya.
Ia menyampaikan data yang diperoleh dalam Sensus Ekonomi amat krusial untuk penyusunan kebijakan di ranah ekonomi. Termasuk akan mendata jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Kalau sekarang masyarakat yang mau berusaha itu menolak, bagaimana pemerintah bisa punya data terkait UMKM dan segala macam gitu,” kata Agus.
