Petani Tabanan Tunda Panen, Kekurangan Tenaga Akibat Libur Panjang

- Petani di Kecamatan Selemadeg dan Selemadeg Timur menunda panen karena kekurangan tenaga pemanen akibat libur panjang Idul Fitri.
- Ketua Gapoktan menekankan pentingnya Sekaa Manyi agar petani tidak tergantung pada tenaga pemanen dari luar daerah.
- Hasil panen di Subak Asah menurun hingga 20 persen karena cuaca hujan terus-menerus yang menyebabkan sebagian gabah menghitam.
Tabanan, IDNTimes- Libur panjang Idul Fitri menyebabkan petani di Tabanan mengalami kesulitan mendapatkan tenaga pemanen. Seperti yang terjadi pada petani di daerah Kecamatan Selemadeg dan Kecamatan Selemadeg Timur. Petani di dua daerah ini terpaksa menunda waktu panennya yang sebenarnya sudah bisa dilaksanakan sejak minggu lalu.
Ketua Gapoktan Lanyah Bajera Tiga Kecamatan Selemadeg, I Ketut Sunada, mengatakan daerah yang tidak memiliki sekaa manyi (kelompok pemanen) memang tergantung pada tenaga pemanen dari luar.
"Beberapa petani yang tidak memiliki sekaa manyi di daerahnya saat ini memang kesulitan mencari tenaga pemanen. Seperti di Kecamatan Selemadeg dan Selemadeg Timur, ada petaninya yang mengundur waktu panennya," ujarnya, Rabu (25/3/2026)
1. Tunda panen bisa berpengaruh pada kualitas gabah

Sunada mengatakan penundaan panen ini tentunya berimbas pada kualitas gabah.
"Diharapkan dengan mulai adanya arus balik, tenaga pemanen bisa didapatkan. Sehingga panen bisa dilaksanakan minggu-minggu ini," katanya.
Ia melanjutkan, rata-rata untuk 1 hektare lahan sawah dibutuhkan setidaknya 10 tenaga pemanen dengan waktu pengerjaan 2-3 hari.
"Untuk upah biasanya tenaga pemanen dapat Rp110 ribu per orang per hari," ujar Sunada.
2. Pentingnya keberadaan Sekaa Manyi untuk melakukan panen

Sunada melanjutkan, di tengah kesulitan mendapatkan tenaga pemanen, menjadi penting bagi setiap kelompok subak untuk memiliki Sekaa Manyi di daerahnya. Contohnya Subak Lanyah Bajera III yang tetap bisa panen meski tenaga pemanen dari luar sulit didapatkan.
"Kebetulan subak kami memiliki Sekaa Manyi. Jadi saat musim panen, Sekaa Manyi ini bergerak," katanya.
Hal yang sama juga dipaparkan oleh Pekaseh Subak Asah, Desa Karya Sari, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, I Ketut Sudiastra. Ia mengatakan petani di subaknya tidak terlalu tergantung pada tenaga pemanen dari luar.
"Kami punya Sekaa Manyi beranggotakan 20 orang. Jadi, jika membutuhkan tenaga panen, Sekaa Manyi ini yang bergerak," ujarnya.
3. Hasil panen menurun akibat cuaca yang tidak mendukung

Sudiastra mengaku bahwa untuk panen kali ini, hasil panen di Subak Asah menurun hingga 20 persen dari panen sebelumnya. Menurutnya, pada panen sebelumnya, biasanya menghasilkan 3-5 ton per hektar.
"Tetapi panen kali ini, 20 persen gabahnya rusak menghitam," ujarnya.
Adapun gabah menghitam ini akibat cuaca hujan yang terus-menerus turun di wilayah Pupuan.
"Turunnya produksi gabah ini karena cuaca. Mengakibatkan 20 persen gabah menghitam," kata Sudiastra.


















