Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Petani Desa Tangguntiti Mengandalkan Embung Saat Kekeringan
ilustrasi ladang jagung (pexels.com/Nayla Charo)
  • El Nino Godzilla diprediksi melanda Indonesia April–Oktober 2026, menyebabkan kekeringan di berbagai wilayah termasuk Tabanan, Bali.
  • Petani Tabanan mengandalkan Bendungan Telaga Tunjung dan sumur pribadi untuk menjaga pasokan air pertanian selama musim kering.
  • Untuk beradaptasi, petani beralih dari padi ke palawija seperti jagung yang lebih hemat air, dengan dukungan pipa dan pompa bantuan pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tabanan, IDN Times - El Nino Godzilla diprediksi akan berdampak di Indonesia pada April hingga Oktober 2026. Akibatnya, kekeringan akan melanda sejumlah wilayah termasuk Bali. Cuaca panas menyengat hingga kekeringan perlu diwaspadai.

Kepalak Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri, mengatakan potensi kekeringan di Tabanan selama ini tidak separah kabupaten atau kota lainnya di Bali.

“Kalau di Tabanan selama ini tidak parah-parah banget seperti di kabupaten lain,” kata Giri di Kantor BPBD Tabanan, pada Rabu (1/4/2026).

Andalkan Bendungan Telaga Tunjung dan sumur

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri. (IDN Times/Yuko Utami)

Giri mengatakan, daerah persawahan di Tabanan yang biasanya menghadapi kekeringan adalah Desa Tangguntiti dengan bentangan sawah hampir 100ha (hektare). Namun, mereka kini mengandalkan Bendungan atau Embung Telaga Tunjung di Kecamatan Kerambitan. Embung tersebut menjadi penyalur air di area persawahan Desa Tangguntiti.

Selain mengandalkan embung, kata Giri petani di kawasan tersebut telah memiliki sumur sendiri. Sumur tersebut untuk memenuhi kebutuhan pertanian. Sementara itu, sumber air untuk konsumsi berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tabanan. 

“Kebanyakan petani di sana bikin sumur dia. Bikin sumur sendiri. Nanti untuk pertanian ini,” imbuhnya.

Petani beralih ke palawija

ilustrasi umbi-umbian (pexels.com/wendywei)

Selain mempersiapkan sumber air, petani di Tabanan mulai beralih jenis tanam. Setelah memanen padi, mereka kini menanam palawija seperti jagung, karena kata Giri, lebih sedikit penggunaan airnya. Peralihan jenis tanaman ini perlu dilakukan, karena sumber air tidak mampu memenuhi aliran ke jenis tanaman padi.

“Kalau padi itu sudah gak mungkin mengandalkan air sungai. Ada yang lebih banyak, padi itu resapannya lebih tinggi karena di sebelah-sebelahnya kering ya,” imbuhnya.

Meskipun potensi debit air sungai menurun, petani dengan tanaman palawija masih bisa bertahan. Kawasan Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan misalnya, telah memiliki pipa besar untuk aliran air sungai. 

“Walaupun kering panjang itu tidak habis airnya. Masih tetap ada airnya. Di wilayah Timpag, Kerambitan. Itu yang biasanya menopang untuk kebutuhan air ya untuk di daerah Selemadeg Timur,” ujar Giri.

Bantuan dari instansi lain hingga Pemerintah Pusat

ilustrasi pipa air (pexels.com/ Luis Quintero)

Sementara itu, bantuan untuk mengantisipasi kekeringan juga datang dari instansi lainnya. Seperti membangun pipa hidrolik untuk mengaliri air ke wilayah selatan. Pipa tersebut untuk mengaliri wilayah Tangguntiti Selatan, Beraban, dan Tegal Mengkeb. Mata air bersumber dari kawasan utara Tabanan.

Adapun ketiga wilayah seperti Tangguntiti, Beraban, dan Tegal Mengkeb telah berturut-turut jadi daerah terdampak kekeringan di Tabanan.

“Ketika sudah masuk musim kering itu sudah benar-benar kering. Artinya aktivitas di sawah itu untuk padi itu gak bisa, makanya beralih petani di sana menanam jagung,” katanya.

Kawasan tersebut juga telah menerima bantuan pembangunan pompa besar untuk mengaliri area pertanian. Kata Giri, pompa tersebut bantuan dari Pemerintah Pusat.

Editorial Team