Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perempuan Tabanan Kembangkan Pertanian Berbasis Teknologi

Perempuan Tabanan Kembangkan Pertanian Berbasis Teknologi
Petani muda asal Tabanan, Ni Putu Meilanie Ary Sandi (Dok.IDNTimes/Istimewa)
Intinya Sih
  • Ni Putu Meilanie Ary Sandi, perempuan muda asal Tabanan, memilih meneruskan profesi ayahnya sebagai petani dan mengembangkan pertanian organik berbasis teknologi di Desa Bangli, Baturiti.
  • Meilanie memanfaatkan inovasi seperti mulsa jerami, pupuk organik buatan sendiri, serta teknologi digital untuk efisiensi produksi dan pemasaran hasil panen ke sektor pariwisata melalui media sosial.
  • Ia mengajak generasi muda agar tidak ragu bertani dengan metode modern seperti urban farming dan hidroponik, menegaskan bahwa pertanian kini bisa dilakukan secara bersih dan berteknologi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tabanan, IDN Times - Profesi petani di Tabanan saat ini masih dianggap profesi yang tidak menjanjikan oleh kebanyakan generasi muda. Di tengah penilaian akan profesi petani yang dianggap tidak menjanjikan, perempuan asal Tabanan, Ni Putu Meilanie Ary Sandi (23).

Dengan kesadaran penuh, dia justru meneruskan profesi ayahnya sebagai petani. Namun, sebagai generasi Z, Meilanie tidak tergantung pada pertanian konvesional. Ia mengembangkan pertanian organik berbasis teknologi di Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.

1. Meilanie menemukan profesi petani itu menyenangkan

Ilustrasi kebun sayuran.
Ilustrasi kebun sayuran. (unsplash.com/peng weng)

Pada awalnya, Meilanie memandang profesi petani adalah aktivitas yang disebutnya sebagai kegiatan membantu orangtuanya saja. Tetapi lama-lama, ia merasakan aktivitas bertani ternyata menyenangkan.

Menurut Meilanie, ia dulu lebih fokus sekolah dan sempat hidup nomaden di Badung. Namun pandemi COVID-19 mengubah arah hidupnya. Dia pun harus kembali pulang kampung ke Desa Bangli, Baturiti dan mulai serius membantu orangtuannya menggarap lahan.

"Dari sana saya kemudian menyadari ternyata seru juga jadi petani," katanya, Rabu (22/2/2026).

2. Meilanie menerapkan teknologi dalam bertani

Ilustrasi kebun sayur (Freepik.com/ Freepik)
Ilustrasi kebun sayur (Freepik.com/ Freepik)

Menurut Meilanie bertani saat ini tidak lagi identik dengan cara konvensional yang berat dan kotor. Inovasi sederhana seperti penggunaan mulsa dari jerami atau sekam padi, hingga racikan pupuk organik buatan sendiri, mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas tanaman.

Ia mengatakan, ayahnya sampai punya formula pupuk sendiri yang disemprot halus seperti embun untuk menjaga kondisi tanaman. "Cara ini lebih efisien tanpa harus bergantung penuh pada pupuk pabrikan,” katanya.

Kemajuan teknologi digital juga dimanfaatkan secara maksimal oleh Meilanie, khususnya untuk pemasaran hasil panen. "Saya mengandalkan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk hotel dan restoran di sektor pariwisata," ujarnya.

3. Meilanie menjual hasil panen secara digital

IMG-20260421-WA0033.jpg
Petani muda asal Tabanan, Ni Putu Meilanie Ary Sandi (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Menurut Meilanie minat anak muda untuk bertani masih dipengaruhi kebiasaan dan lingkungan. "Banyak yang belum merasakan langsung proses dan tantangan di lapangan, sehingga menganggap pertanian kurang menarik," kata dia.

Padahal, menurutnya, bertani bisa dimulai dari skala kecil, bahkan di perkotaan melalui metode urban farming, seperti hidroponik atau penanaman dengan polybag.

Sebagai generasi muda, ia mengajak generasi sebayanya untuk tidak ragu terjun ke dunia pertanian. “Bertani sekarang tidak harus kotor, sudah banyak teknologi yang bisa membantu. Jadi jangan takut jadi petani,” katanya.

Share
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Bali

See More