Mengunjungi Sugiono dan Jamet di Bali Wildlife Rescue Centre

Kamu pernah main ke sini gak?

Tabanan, IDN Times - Kabupaten Tabanan rupanya memiliki pusat penyelamatan satwa liar, yaitu Bali Wildlife Rescue Centre di Jalan Teratai Nomor 49, Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan. Tempat yang berdiri di atas lahan seluas 3,2 hektare ini terdapat 55 ekor satwa liar langka dan dilindungi.

Ada juga kambing gembrong endemik Kabupaten Karangasem yang langka. Para satwa ini rata-rata disiapkan untuk dirilis atau dilepaskan ke habitatnya. Berikut kunjungan IDN Times melihat secara satwa liar yang langka di Bali Wildlife Rescue Centre, Kabupaten Tabanan.

Baca Juga: Sampah Sungai di Tabanan Diolah untuk Bahan Dinding Vila

Baca Juga: Fakta Unik Giant Tree di Bali, Jadi Lokasi Syuting TXT

1. Satwa berasal dari perdagangan ilegal, hingga dipelihara tanpa surat izin

Mengunjungi Sugiono dan Jamet di Bali Wildlife Rescue CentreBeruang madu di Bali Wildlife Rescue Centre, Kabupaten Tabanan. (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Bagaimana satwa-satwa liar ini bisa berada di Bali Wildlife Rescue Centre?  Sesuai dengan fungsinya yaitu penyelamatan satwa liar, Bali Wildlife Rescue Centre menerima satwa yang diselamatkan dari perdagangan ilegal, hingga dipelihara tanpa surat izin.

"Para satwa ini merupakan satwa yang dulunya diperdagangkan secara ilegal hingga dipelihara tanpa surat izin. Satwa ini kemudian dibawa ke sini untuk disiapkan kembali ke habitatnya," ujar Dokter Hewan sekaligus Manajer Bali Wildlife Rescue Centre Tabanan, Dyah Ayu Risdasari Tiyar Noviarini, Kamis (9/2/2022).

Total sudah ada 55 ekor satwa liar di Bali Wildlife Rescue Centre mulai dari Jalak Putih, Beruang Madu, berbagai jenis Elang termasuk Elang Laut Perut Putih, Burung Kakaktua Jambul, Buaya Air Tawar, hingga Rubah. Perlu waktu bagi para satwa untuk bisa dirilis atau dilepaskan ke habitatnya. Mereka memerlukan waktu untuk mengeluarkan sifat liarnya, sebab rata-rata satwa di sana jinak dan akrab dengan manusia.

"Jadi di sini, mereka dipulihkan dulu sifat liarnya sebelum dilepas. Ada yang cepat, ada yang lama juga," jelas Novi.

2. Operasional sempat terimbas pandemik COVID-19

Mengunjungi Sugiono dan Jamet di Bali Wildlife Rescue CentreVolunteer sedang membersihkan kandang satwa di Bali Wildlife Rescue Centre, Kabupaten Tabanan. (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Bali Wildlife Rescue Centre didirikan oleh yayasan Friend of the National Parks Foundation, di mana semua biaya operasionalnya tergantung dari donasi. Selama pandemik, biaya operasionalnya cukup bermasalah karena mereka hanya menerima pendonasi tetap. Biaya operasional di Bali Wildlife Rescue Centre sebesar Rp45 juta per bulan. Namun itu di luar biaya pelepasan satwa. Kalau ada satwa yang hendak dilepasliarkan, maka mereka akan membuka donasi.

"Saat ini ada pengalihan pengaturan pembiayaan, dan kami pun di sini berinovasi dengan cara varian makanan satwa kami kurangi. Misalkan biasanya dari lima jenis, hanya dua jenis tanpa mengurangi kuantitasnya," kata Novi.

Selain menerima donasi, tempat ini juga menerima volunteer. Jadi bagi pelajar yang ingin belajar satwa liar, atau ingin membantu seperti memberi makan satwa hingga membersihkan kandang, bisa datang langsung ke Bali Wildlife Rescue Centre. Jika ingin mengetahui bagaimana cara menjadi volunteer atau berdonasi, kamu bisa mengunjungi situs mereka di https://www.fnpf.org/.

3. Breeding Kambing Gunung asli Karangasem

Mengunjungi Sugiono dan Jamet di Bali Wildlife Rescue CentreKambing gembrong breeding di Bali Wildlife Rescue Centre di Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Selain penyelamatan satwa liar, Bali Wildlife Rescue Centre juga melakukan breeding atau pembiakan kambing endemik Kabupaten Karangasem yang biasa disebut Kambing Gembrong.

Ada tiga ekor jantan dan ekor betina Kambing Gembrong pada awalnya. Namun kini sudah menghasilkan 20 ekor Kambing Gembrong. Karena bukan satwa liar, Kambing Gembrong yang dihasilkan lewat breeding ini nantinya akan membuka adopsi dengan biaya tertentu.

"Tidak dilepas seperti satwa liar, jadi nanti open adopt bagi yang berminat dengan pembiayaan tertentu," kata Novi.

Bulu Kambing Gembrong lebat dan menjuntai, bisa menjadi hewan peliharaan yang unik. Menurut Novi, jika mau bulunya bagus, Kambing Gembrong harus dimandikan sebulan sekali. Uniknya, ketiga jantan Kambing Gembrong memiliki nama di antaranya Sugiono, Yamaha, dan Jamet. Kenapa namanya begitu ya?

"Iseng aja," jawabnya singkat sambil tertawa.

Kamu tertarik memelihara Kambing Gembrong? Datang saja ke Bali Wildlife Rescue Centre di Kabupaten Tabanan.

Topik:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya