Denpasar, IDN Times - Minikino, organisasi film pendek yang berbasis di Bali, kembali memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem film global melalui partisipasi aktif Direktur Program, Fransiska Prihadi. Menurutnya, pencapaian internasional ini sekaligus membawa angin segar bagi visi Kota Denpasar yang tengah dirancang sebagai Kota yang Ramah Film. Namun, keberhasilan ini sekaligus juga menjadi catatan penting bagi sinergi dukungan domestik.
Di tengah ambisi menjadikan Denpasar sebagai pusat kreativitas film, pencapaian mandiri yang diraih Minikino dan Fransiska Prihadi ini diharapkan dapat menarik perhatian lebih serius dari pemerintah kota maupun pemerintah pusat. Sangat disayangkan apabila prestasi yang mengharumkan nama bangsa di kancah internasional ini lebih banyak mendapat pengakuan dan dukungan nyata dari pihak asing dibandingkan dari rumah sendiri.
"Dukungan konkret dari pemerintah Indonesia dan Kota Denpasar bukan sekadar kebutuhan finansial, melainkan pengakuan bahwa inisiatif lokal seperti Minikino adalah aset strategis nasional yang perlu digandeng dan didorong guna mewujudkan ekosistem film yang berkelanjutan dan inklusif di Indonesia dan atau di kota Denpasar khususnya," jelasnya.
Setelah kiprahnya di Vilnius, Lithuania, dan Clermont Ferrand, Prancis awal tahun lalu, Fransiska Prihadi juga melakukan kunjungan strategis yang didukung penuh oleh Pemerintah Québec dan Kedutaan Besar Kanada di Indonesia.
Alhasil, kunjungan ini berhasil membuka berbagai peluang kolaborasi yang konkret. Salah satu hasil nyata adalah undangan bagi Mélissa Bouchard, Head of Programming REGARD (Kepala divisi programming REGARD), untuk hadir sebagai anggota dewan juri di Minikino Film Week 12 yang akan diselenggarakan di Bali pada 11-18 September 2026 mendatang.
Selain itu, selama di Québec, Fransiska terlibat dalam berbagai kegiatan industri termasuk sesi penting The Donut Network dan sesi Meet the Filmmakers. Di mana ia berinteraksi langsung dengan para pembuat film, distributor, dan institusi budaya internasional seperti Festival du Nouveau Cinéma dan Le FIFA. Partisipasi ini lebih dari sekadar meningkatkan visibilitas film pendek Indonesia, tetapi juga memposisikan Minikino sebagai mitra strategis dan jembatan budaya antara ekosistem film Asia Tenggara dan Amerika Utara.
Selain pertukaran juri, Minikino juga tengah menjajaki program Québec Cinema in Southeast Asia / Indonesia. Program ini direncanakan akan membawa kurasi film pendek Québec ke hadapan penonton Indonesia melalui format pemutaran yang inklusif dan edukatif, memperkuat peran Minikino sebagai konsultan pemrograman internasional. Langkah ini digadang-gadang menjadi fondasi kuat bagi kerja sama jangka panjang tahun 2026-2027, yang membuktikan bahwa film pendek adalah medium diplomasi budaya yang efektif dan berdaya saing tinggi.
