Denpasar, IDN Times – Sistem komunikasi satu pintu diakui memang sangat penting di masa pandemik wabah, krisis, bencana, dan kritis. Tujuannya agar informasi yang disampaikan tidak simpang siur, dan tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat. Namun, yang terjadi ketika wabah COVID-19, masyarakat justru memiliki persepsinya sendiri atas apa yang sedang dilakukan dan tidak dilakukan oleh pemerintah.
Hal ini ditegaskan oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, Dr Ni Made Ras Amanda Gelgel, saat dimintai pendapatnya oleh IDN Times pada Senin (5/10/2020). Kondisi itu terjadi karena tidak adanya faktor media atau saluran dalam proses komunikasi yang berjalan saat ini.
“Sistem komunikasi itu kan teorinya ada sumber, ada medianya, salurannya apa, ada pesannya, dan ada khalayaknya. Kalau yang kita lihat ini, sistem komunikasinya saja salurannya yang nggak ada. Jadi bagaimana, misalnya pemerintah mengomunikasikan pesan. Pesannya pun akhirnya tidak sampai. Jadi ini pesan tidak sampai, saluran tidak ada,” paparnya melalui sambungan telepon.
Kondisi ini juga dirasakan di Provinsi Bali. Yakni ada gap atau jarak terkait informasi COVID-19. Sehingga akhirnya masyarakat mendapatkan informasi dari sumber lain. Khawatirnya adalah jika sumber lain yang dipakai oleh masyarakat itu berasal dari media sosial (Medsos) yang tidak memverifikasi informasinya. Maka, pesan yang tersampaikan akan menjadi beragam.
