Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta Menarik Kartini Ketika Melawan Perkawinan Anak
Kartini bersama kedua adiknya. Foto diambil oleh KITLV Leiden. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Buku Habis Gelap Terbitlah Terang ternyata diseleksi Rosa Manuela Abendanon, sehingga beberapa surat Kartini yang berisi kritik terhadap pemerintah Belanda dan isi personal tidak diterbitkan.
  • Kartini pernah menyebut dirinya sebagai 'anak Buddha' dan memilih tidak makan daging setelah mengalami kesembuhan dari sakit melalui ritual di kelenteng Welahan, Jepara.
  • Tiga adik Kartini melanjutkan perjuangan emansipasi perempuan lewat pendidikan dan kerajinan, sementara Kartini sendiri menolak praktik perkawinan anak dengan menikah di usia 24 tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Empat fakta tentang kehidupan Raden Ajeng Kartini yang jarang diketahui, termasuk pandangannya terhadap perkawinan anak, kebiasaan tidak makan daging, serta perjuangan adik-adiknya setelah ia wafat.
  • Who?
    Raden Ajeng Kartini, Rosa Manuela Abendanon, Sulastin Sutrisno, serta tiga adik Kartini yaitu Roekmini, Kardinah, dan Soematri.
  • Where?
    Kisah dan surat-surat Kartini banyak berasal dari Jepara dan Welahan di Jawa Tengah, serta diterbitkan kembali oleh lembaga di Belanda dan Indonesia.
  • When?
    Kehidupan dan surat-surat Kartini terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20; penerbitan ulang surat lengkap dilakukan pada tahun 1987.
  • Why?
    Kartini menolak praktik sosial yang dianggap mengekang perempuan, termasuk perkawinan anak dan ketidakadilan kolonial, sebagai bagian dari perjuangannya untuk emansipasi perempuan.
  • How?
    Kartini menyampaikan gagasan melalui surat kepada sahabatnya di Belanda; sebagian disensor sebelum akhirnya diterbitkan lengkap oleh KITLV dengan terjemahan akademisi UGM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kehidupan Kartini selalu menarik untuk direfleksikan bersama. Ada berbagai sumber yang menjelaskan tentang kehidupannya. Misalnya seri Buku Tempo Gelap Terang Hidup Kartini.

Tulisan di buku ini dikemas dalam pendekatan jurnalistik. Sehingga gaya tulisannya lebih mengalir mendeskripsikan kehidupan dan nilai-nilai yang diyakini Kartini.

Melalui buku ini akan dirangkum empat fakta tentang Kartini dan orang terdekatnya yang jarang diketahui. Penasaran? Ini informasi selengkapnya.

1. Tidak semua surat Kartini diterbitkan dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

Kartini bersama kedua adiknya. Foto diambil oleh KITLV Leiden. (IDN Times/Yuko Utami)

Tahu gak sih? Buku asli berisi surat-surat Kartini berjudul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), ternyata sudah diseleksi oleh Rosa Manuela Abendanon, seorang Mandri di Belanda.

Surat-surat yang ‘disensor’ oleh Abendanon di antaranya saat Kartini menuliskan kecamannya terhadap Pemerintah Belanda soal monopoli candu di Jawa. Ia juga mengkritik kepindahan seorang residen dari Jepara. Karena Jepara dianggap sudah aman dan sejahtera. Surat bernada personal juga tidak dimasukkan.

Pada 1987, KITLV menerbitkan surat-surat lengkap Kartini, totalnya ada 150 korespondensi. Surat itu diterjemahkan oleh seorang Guru Besar Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), Sulastin Sutrisno.

2. Kartini tidak makan daging

ilustrasi daging (pexels.com/Gustavo Denuncio)

Jejak Kartini yang tidak makan daging, dapat dibaca pada suratnya kepada Abendanon. Kartini menyebut dirinya sebagai “anak Buddha” setelah meminum air dicampur abu lidi shio dari sebuah kelenteng di Welahan, Jepara, Jawa Tengah.

Setelah meminum air shio itu, Kartini yang sakit keras perlahan membaik. Suratnya juga menuliskan, “bahwa saya anak Buddha, dan itu sudah menjadi alasan mengapa saya tak makan daging.” Surat ini termasuk yang tidak diterbitkan Abendanon. 

3. Nasib tiga adik Kartini setelah ditinggal sang kakak

Kartini bersama kedua adiknya. Foto diambil oleh KITLV Leiden. (IDN Times/Yuko Utami)

Adik Kartini yaitu Roekmini, Kardinah, dan Soematri melanjutkan perjuangan Kartini dengan mengumpulkan para perajin batik dan ukiran kayu Jepara. Nilai-nilai emansipasi perempuan berhasil ditanamkan Kartini kepada adik-adiknya.

Karya para pengrajin menjadi buah tangan korespondensi ketiga adik perempuan Kartini saat ke Belanda. Roekmini mendirikan sekolah perempuan di rumahnya bersama Sejarawan dan Asisten Residen Jepara, A Muhlenfeld.

Mereka juga ikut mengawal gerakan Boedi Oetomo pada 1908 dengan seruan kepada pemuda Jawa yang berpikiran maju untuk memulai organisasi dengan semboyan “Jawa Maju” demi kepentingan warga lokal.

4. Melawan perkawinan anak pada zamannya

ilustrasi menikah (Pexels.com/Emma Bauso)

Kartini menikah di usia 24 tahun. Pada masa itu menikah di usia 20-an bukanlah hal lazim. Masa itu memperbolehkan anak perempuan berusia 14 tahun untuk menikah. Pilihan Kartini di masa itu termasuk di luar zona nyaman.

Pilihannya untuk menikah di usia 24 tahun adalah sebagai bentuk perlawanan atas perkawinan anak. Meskipun pernikahan Kartini membuat beberapa impiannya tertunda, hingga Ia menutup mata dan meninggalkan dunia.

Editorial Team

Related Article