Kebakaran Hutan Pemuteran Padam, BPBD Bali Minta Tetap Waspada

- Kebakaran hutan lindung di Pemuteran, Buleleng, telah berhasil dipadamkan dan BPBD Bali mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi kebakaran baru.
- BPBD Bali melakukan pemantauan titik panas selama 24 jam menggunakan citra satelit di seluruh wilayah Pulau Bali dan belum menemukan hotspot baru.
- Potensi kebakaran tidak hanya di kawasan hutan, tetapi juga pada lahan ilalang; masyarakat diminta menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang bisa memicu api.
Buleleng, IDN Times - Kebakaran yang melanda kawasan hutan lindung di Pemuteran, Kabupaten Buleleng pada Sabtu lalu, 18 Juli 2026 dinyatakan telah selesai ditangani dan api berhasil dipadamkan.
Meskipun demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengingatkan bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran agar semua pihak tidak lengah menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.
1. Api di kawasan hutan lindung Pemuteran sudah padam
.jpg)
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menyampaikan meskipun kebakaran bisa terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, faktor aktivitas manusia tetap menjadi ancaman yang sangat mungkin memicu kebakaran.
“Sudah selesai, api sudah padam. Tentu ini membuktikan tidak boleh lengah. Memang tanpa campur manusia hutan juga bisa terbakar. Tapi aktivitas manusia juga sangat bisa,” ujar Teja kepada IDN Times, Senin (20/7/2026).
Ia pun mengimbau seluruh elemen, mulai dari masyarakat hingga petugas di lapangan, agar bersama-sama menjaga kewaspadaan.
“Oleh karena itu semua mesti waspada, masyarakat, dan petugas. Jangan ada yang memicu api,” tegasnya.
2. Pemantauan titik panas 24 jam di seluruh Bali

Teja menegaskan bahwa BPBD Provinsi Bali terus melakukan pemantauan titik panas rawan kebakaran (hotspot) pada seluruh kawasan hutan di Bali. Pemantauan ini secara berkelanjutan selama 24 jam penuh. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya titik panas baru yang muncul di kawasan hutan Bali.
“Kami tetap memantau hotspot seluruh kawasan hutan di Bali 24 jam. Sampai saat ini belum ada lagi,” kata dia.
Pemantauan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit yang mencakup seluruh wilayah Pulau Bali, sehingga tidak terbatas hanya pada kawasan yang sebelumnya terdampak kebakaran.
“Pemantauan melalui citra satelit, dipantau seluruh pulau. Hasil belum ada hotspot muncul,” jelasnya.
3. Potensi hotspot tak hanya di kawasan hutan

Potensi munculnya hotspot tidak hanya berasal dari kawasan hutan semata. Teja mengatakan, lahan-lahan ilalang yang secara administratif bukan merupakan kawasan hutan pun berpotensi memunculkan titik panas apabila terjadi kebakaran.
“Lahan ilalang yang bukan hutan juga bisa muncul hotspot kalau terbakar, jadi bukan per kawasan,” imbuhnya.
Teja meminta agar seluruh masyarakat turut berperan aktif menjaga kelestarian hutan dengan tidak melakukan aktivitas yang berisiko memicu kebakaran. Terutama di musim kering, demi mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

















