Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sejarah Canggu, Desa Wisata Populer di Bali

Sejarah Canggu, Desa Wisata Populer di Bali
Pembangunan di daerah Canggu, Kabupaten Badung. (IDN Times/Irma Yudistirani)
Intinya Sih
5W1H
  • Canggu awalnya desa tenang di Kuta Utara, kini jadi pusat wisata populer dengan vila, kafe, dan komunitas ekspatriat yang ramai.
  • Asal-usul nama Canggu diyakini terkait pelabuhan kuno Majapahit serta kisah keris sakti milik Kiai Petandakan yang disebut Begawan Canggu.
  • Dang Hyang Dwijendra pernah singgah di Canggu dan menciptakan tirta empul di Pantai Batu Bolong, menjadikan kawasan ini sakral sekaligus destinasi pantai eksotis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Desa Canggu telah berubah menjadi tempat favorit wisatawan, terutama turis asing di Bali. Selain memiliki deburan ombak pantai kesukaan para surfer, desa yang berada di wilayah Kuta Utara, Kabupaten Badung ini menjelma sebagai lokasi padat vila, tempat hiburan malam, hingga tempat nongkrong.

Banyak komunitas turis asing maupun ekspatriat yang tumbuh dan berkembang di sini. Dari yang sebelumnya sepi, Canggu juga terkenal sebagai wilayah yang sering mengalami kemacetan lalu lintas, terutama saat liburan tiba. Berikut ini sejarah Canggu hingga terkenal sampai sekarang.

1. Desa Canggu memiliki nama yang sama dengan pelabuhan kuno di Jawa

Suasana di Canggu. (unsplash.com/Sergey Chuprin)
Suasana di Canggu. (unsplash.com/Sergey Chuprin)

Dikutip laman Desacanggu.badungkab.go.id, sumber sejarah berdirinya Desa Canggu belum banyak ditemukan dalam bentuk data-data tertulis seperti lontar maupun benda-benda prasasti lainnya. Dari penuturan masyarakat secara turun temurun, Desa Canggu diyakini ada kaitannya dengan nama sebuah pelabuhan di Kerajaan Majapahit yang terletak di muara Kali Brantas.

Hal ini berasal dari pemikiran tetua terdahulu, bahwa ada beberapa Maha Rsi atau Mpu yang datang ke Bali pada zaman Kerajaan Majapahit. Maha Rsi atau Mpu tersebut menyebarkan ajaran-ajaran Hindu kepada masyarakat Bali.

2. Berhubungan dengan Kerajaan Gelgel

Lukisan landscape Pantai Canggu (IDN Times/Ayu Afria)
Lukisan landscape Pantai Canggu (IDN Times/Ayu Afria)

Babad Dalem Samprangan menyebutkan tentang Kerajaan Gelgel yang dipimpin oleh raja bergelar Sri Semara Kepakisan. Raja dari Bali tersebut diundang ke Majapahit, yang kala itu dipimpin oleh Hayam Wuruk bersama mahapatih saktinya, Gajah Mada. Raja Bali lalu mengutus patihnya yang bernama Kiai Petandakan.

Pada saat balik ke Bali, Kiai Petandakan menerima jimat sakti berupa sebilah keris sakti. Setelah itu, ia naik kapal berangkat dari pelabuhan yang bernama Begawan Canggu.

3. Ada kaitannya dengan keris sakti Kiai Petandakan

Ilustrasi keris. (YouTube.com/Bumi Mojopahit Channel)
Ilustrasi keris. (YouTube.com/Bumi Mojopahit Channel)

Setelah berangkat dari Tanah Jawa, keris tersebut jatuh di tengah lautan dalam perjalanannya menuju Bali. Namun sarung keris tidak ikut terjatuh ke laut.

Kiai Petandakan kemudian merapal mantra sakti, sehingga keris yang jatuh bisa kembali dengan sendirinya ke sarung. Keris tersebut lalu diberi nama Begawan Canggu.

Setibanya di Bali, dan saat menuju ke Kerajaan Gelgel, Kiai Petandakan beristirahat di suatu daerah sambil membawa keris Begawan Canggu. Tempat istirahat ini diberi nama Canggu.

4. Canggu berkaitan dengan Dang Hyang Dwijendra

Upacara di area Pura Batu Bolong, Canggu. (YouTube.com/Toney Julianz)
Upacara di area Pura Batu Bolong, Canggu. (YouTube.com/Toney Julianz)

Sekitar abad XIV, Dang Hyang Dwijendra atau juga dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rauh, melakukan perjalanan menuju Dalem Waturenggong di Kabupaten Gianyar. Dalam perjalanan itu, Maha Rsi yang berasal dari Kerajaan Majapahit ini singgah di daerah Canggu, tepatnya di Pantai Batu Bolong saat ini. Lontar Pedanda Sakti Wawu Rauh terdapat kutipan sebagai berikut:

"Tilar ring nyitdah, munggah ring samudra, sepenegaknya turun ring Canggu, kepernah putra apratistha pada, during ngasat babelanguangen wewecana, malih sungkan magerah, raris mekarya tirta empul sapteng tiri, malih kenak."

Artinya:

"Telah meninggalkan Desa Nyitdah melalui lautan, secepatnya tiba di Canggu. Lalu menampak seorang Brahmana (mediksa) yang mana belum sepakat di dalam pembicaraan lagi sakit merah (panas dingin), lalu membuat tirta empul 7 buah, dan selanjutnya beliau sembuh kembali."

Disebutkan, bahwa kekuatan yoga Dang Hyang Dwijendra dapat memunculkan air suci yang disebut dengan tirta empul di Pantai Batu Bolong. Makanya di Pantai Batu Bolong terdapat empat sumur yang mengeluarkan tirta empul. Untuk menghormati keberadaan keempat sumur tersebut, dibangunlah pura yang bernama Pura Batu Bolong.

5. Canggu dikelilingi oleh pantai yang eksotis

Suasana pantai di Canggu. (unsplash.com/Harry Cunningham)
Suasana pantai di Canggu. (unsplash.com/Harry Cunningham)

Canggu memiliki pantai yang ombaknya cocok untuk surfing. Kabar lokasi ini mulai tersebar dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya nama Canggu menjadi dikenal sebagai lokasi surfing yang ombaknya menantang, dan pantai dengan pemandangan eksotis.

Seperti diketahui, di sekitar Canggu terdapat sembilan pantai yang dijadikan tujuan wisata. Yaitu Pantai Canggu, Batu Mejan (Echo Beach), Pantai Berawa, Pantai Batu Bolong, Pantai Kayu Putih, Pantai Pererenan, Pantai Seseh, Pantai Nelayan, dan Pantai Mengening.

Keadaan ini juga membuat Canggu bertumbuh pesat. Vila-vila tumbuh bak jamur di musim hujan. Selain itu kafe, resto, hiburan malam, hingga beach club hadir di Desa Canggu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Latest News Bali

See More