- Lontar Dharma Caruban. Berasal dari kata Dharma yang berarti tata cara, dan Carub berarti mencampur. Sehingga lontar ini memuat tata cara pengolahan makanan yang disukai oleh para dewa
- Kakawin Dharma Sawita atau Abdi Kebenaran. Merupakan satu-satunya kakawin (puisi berbahasa Jawa kuno) yang membahas tentang 17 bumbu rempah
- Purincining Ebatan atau rincian ebatan. Berisi tentang rincian bahan untuk membuat basa genep (bumbu genap) dan takarannya.
Fakta Base Genep, Simbol Dewa Penjaga Arah Mata Angin

- Dua pemuda Bali dari Komunitas Film Sarad menciptakan buku dan web series 'Jangkep: Warisan Cita Rasa Bali' untuk menggali makna spiritual dan budaya di balik kuliner tradisional Bali.
- Profesi belawa atau berawa memiliki peran penting dalam sejarah kuliner Bali, bertugas mengolah bahan makanan berdasarkan kepercayaan, adat, serta menjaga keamanan hidangan bagi raja pada masa lampau.
- Base genep menjadi inti kuliner Bali dengan enam rasa utama yang melambangkan arah mata angin dan dewa penjaganya, sekaligus berfungsi sebagai dasar obat alami dalam kehidupan masyarakat.
Satu di antara kekayaan tradisi dan budaya Bali adalah kuliner. Kuliner tradisional Bali dikenal unik karena kaitannya dengan cara pengolahan, jenis bumbu yang digunakan, dan orang yang mengolahnya.
Pembuatan kuliner tradisional Bali sendiri ternyata tidak sembarangan. Ada beberapa hal yang perlu diketahui agar olahan makanannya menghasilkan rasa enak dan baik untuk tubuh.
Berikut ini kumpulan fakta kuliner Bali yang wajib kamu ketahui, dikutip dari buku dan dokumenter web series "Jangkep: Warisan Cita Rasa Bali" karya Komunitas Film Sarad.
1. Inilah dua pemuda Bali yang membuat buku dan dokumenter web series "Jangkep: Warisan Cita Rasa Bali"

Dua pemuda Bali dari komunitas Film Sarad, Nirartha Bas Diwangkara dan Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha, memandang kuliner Bali tidak sebatas lahir untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Lebih dari itu, kuliner Bali diolah untuk memenuhi spiritual manusia. Produser Buku dan Dokumenter Web Series "Jangkep: Warisan Cita Rasa Bali", Nirartha Bas Diwangkara, ingin mengajak pembaca untuk menyadari bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem dan hirarki alam semesta.
"Buku dan dokumenter web series 'Jangkep: Warisan Cita Rasa Bali' adalah sebuah penemuan kembali mengenai arti kuliner Bali bagi masyarakatnya secara fundamental, untuk mengenal dan melihat ke dalam kenapa makanan Bali sangat penting keberadaannya dalam segala level kehidupan di hidup kami sebagai orang Bali yang penuh dengan simbol spiritual," kata Nirartha.
Kuliner Bali, menurut sang Sutradara, Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha, turut berkontribusi terhadap tata cara masyarakat menjalani adat dan budayanya selama ini. Untuk itu, ia bersama komunitas Film Sarad menciptakan karya ini sebagai media pemetaan dalam pergerakan serta penggunaan kuliner Bali yang autentik dalam kehidupan sehari-hari.
"Karya yang terdiri dari buku dan web series ini dimaksudkan untuk meneruskan pesan yang disepakati para tetua di Bali tentang pengolahan Kuliner Bali sebagaimana mestinya. Kuliner Bali tidak hanya sebagai pemuas dahaga dan lapar. Kuliner Bali turut berkontribusi terhadap tata cara masyarakat menjalani adat dan budayanya selama ini. Hal ini menjadi aktual tatkala Bali berdiri sebagai arena persinggungan budaya dunia serta memicu berbagai perubahan yang cepat nan masif," ujar Gung Yudha, sapaannya.
2. Mengenal nama belawa atau berawa, sebutan untuk orang yang mengolah bahan makanan tradisional Bali

Belawa atau berawa merupakan pekerjaan dalam kuliner tradisional Bali yang berhubungan dengan pengolahan bahan makanan seperti mencincang daging, mengolah darah, hingga mengolah bahan-bahan alami menjadi suatu hidangan yang nikmat. Seperti diungkapkan oleh Pegiat Lontar di Bali, Putu Eka Guna Yasa, belawa bertugas untuk mengubah sesuatu yang barangkali menjijikkan bagi sebagian orang, menjadi masakan yang nikmat.
Pada zaman dahulu, belawa bertugas untuk mengolah atau meramu masakan untuk seorang raja maupun keluarga kerajaan. Jadi, posisi belawa pada zaman kerajaan kala itu sangatlah penting.
"Tidak jarang juga, demi meruntuhkan suatu kerajaan, ada racun yang dimasukkan dalam makanan. Jadi perlu orang-orang tepercaya untuk mengolah kuliner menjadi kebutuhan fisik seorang raja, yang tentunya berpengaruh juga terhadap mental dan spiritual sang raja," ungkap Guna Yasa dalam video tersebut.
3. Pengolahan kuliner tradisional Bali berdasarkan naskah sastra kuno

Kuliner tradisional Bali faktanya tidak dibuat sembarangan. Masakannya dibuat berdasarkan naskah-naskah sastra kuno yang disebut dengan nama lontar.
Bali sendiri memiliki banyak lontar hasil cetusan pikiran leluhur-leluhur yang adiluhung. Termasuk lontar yang khusus mengulas pengetahuan tentang kuliner tradisional Bali. Beberapa naskah sastra atau lontar tersebut antara lain:
Para leluhur menulis lontar ini agar umat manusia bisa merawat fisik dengan berbagai sarana dan ramuannya, termasuk juga menjadikan kuliner ini sebagai sarana persembahan. Fisik sangat menentukan kesehatan jiwa setiap manusia.
4. Base genep merupakan gabungan enam rasa

Base genep merupakan bumbu tradisionalnya Bali. Base genep inilah yang menjadi dasar dalam pembuatan segala masakan atau kuliner tradisional Bali seperti lawar, sate, urutan, timbungan, dan lainnya.
Disebut basa genep, karena terdiri dari 6 rasa atau sad rasa. Sad rasa dalam bumbu genap terdiri dari:
- Rasa asin atau lawana
- Rasa pedas atau ketuka
- Rasa sepert atau kesaya
- Rasa pahit atau tikta
- Rasa manis atau madhura
- Rasa masam atau amla.
5. Base genep sebagai simbol dewa penjaga arah mata angin

Dalam ajaran Agama Hindu, setiap mata angin memiliki warna dan dewa penjaganya. Karena itulah, kata Guna Yasa, selain sebagai simbol sad rasa, base genep merupakan persembahan yang memiliki simbol-simbol lima arah mata angin, yaitu:
- Kunyit berwarna kuning, sebagai lambang Dewa Mahadewa yang menempati arah barat
- Jahe berwarna putih, sebagai lambang Dewa Iswara yang menempati arah timur
- Bawang merah dan rempah-rempah berwarna merah, sebagai lambang Dewa Brahma yang menempati arah selatan
- Lengkuas memiliki unsur hitam, sebagai lambang Dewa Wisnu yang menempati arah utara
- Bahan atau bumbu yang memiliki warna gabungan dari warna-warna di atas, sebagai lambang Dewa Siwa yang berada di tengah-tengah.
6. Base genep merupakan dasar dari obat alami

Pegiat Kuliner dari Desa Sanur Kaja, Kota Denpasar, I Ketut Wijaya, menyebutkan base genep merupakan dasar dari obat alami atau obat herbal. Sebab bahan-bahan bumbunya terdiri dari:
- Isen untuk obat batuk, dengan cara diparut dan diseduh air hangat
- Jahe untuk penghangat badan, dengan cara dipotong-potong dan diseduh air hangat
- Kunyit sebagai obat luka
- Cekuh atau kencur dicampur beras untuk obat batuk anak kecil, dan lainnya.
Pada zaman dahulu, masyarakat menanam tanaman yang menjadi bahan utama base genep di area belakang rumahnya (teba).
7. Mengenal base kele, bumbu penyedapnya kuliner tradisional Bali

Selain base genep, dalam pengetahuan kuliner tradisional Bali juga mengenal bumbu atau base kele. Dinamakan kele, karena warnanya hitam seperti lebah madu trigona atau di Bali disebut dengan nama kele-kele. Base kele juga sering disebut dengan basa penyanggluh atau bumbu penyedap rasa.
Base kele-kele menggunakan bahan utama kulit kelapa (batok kelapa) yang dibakar hingga hangus (puun) berwarna hitam. Kulit kelapa tersebut dikupas atau diiris tipis-tipis, lalu dicampur bersama lada hitam, dan dirajang hingga halus. Menurut I Ketut Wijaya, penggunaan arang dari kulit kelapa ini berguna untuk menetralisir kuliner lawar agar orang yang menyantapnya tidak diare.
Siapa nih penggemar kuliner tradisional Bali? Dijamin, kamu pasti baru tahu tentang pengetahuan ini. Makanya warisan leluhur yang adiluhung ini patut dilestarikan.


















