Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Kedelai Naik, Produsen Tempe di Tabanan Menipiskan Ukuran
Produsen tempe di Tabanan saat membuat tempe (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
  • Harga kedelai impor fluktuatif akibat konflik Timur Tengah membuat produsen tempe Tabanan menyesuaikan strategi agar harga jual tetap stabil tanpa merugi.
  • Produsen Mohammad Sabdullah menipiskan ketebalan tempe dari 2,5cm menjadi 2cm untuk menjaga harga Rp5000 per potong meski biaya bahan baku dan plastik meningkat.
  • Sabdullah berharap harga kedelai turun ke kisaran Rp8000–Rp9000 per kilogram agar ukuran tempe bisa kembali normal dengan ketebalan ideal sekitar 3,5cm.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Produsen tempe di Kabupaten Tabanan menipiskan ukuran tempe agar harga jual tetap stabil meskipun harga kedelai impor dan bahan pendukung seperti plastik mengalami kenaikan.
  • Who?
    Mohammad Sabdullah, produsen tempe berusia 31 tahun yang berjualan di kawasan pasar obral bekas Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan.
  • Where?
    Kegiatan produksi dan penjualan dilakukan di kawasan pasar obral bekas (OB) Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Bali.
  • When?
    Tindakan penyesuaian ukuran dilakukan pada Kamis, 9 April 2026, setelah harga kedelai impor sempat mencapai Rp11.650 per kilogram dan turun menjadi Rp10.950 per kilogram.
  • Why?
    Langkah ini diambil untuk menghindari kenaikan harga jual kepada konsumen sekaligus menjaga agar usaha tetap berjalan tanpa mengalami kerugian akibat naiknya biaya bahan baku.
  • How?
    Sabdullah menipiskan ketebalan tempe dari sekitar 2,5 cm menjadi 2 cm dengan panjang tetap 20 cm, menggunakan sekitar 90–100 kg kedelai per hari dan menjualnya seharga Rp5.000 per potong.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Harga kedelai buat tempe jadi naik turun. Pak Sabdullah yang bikin tempe di Tabanan bingung supaya tidak rugi. Dia pakai cara bikin tempenya lebih tipis, dari tebal 2,5 jadi 2 cm. Harganya tetap lima ribu biar orang tetap bisa beli. Sekarang dia masih jualan dan berharap harga kedelai turun lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah fluktuasi harga kedelai dan kenaikan biaya produksi, langkah Mohammad Sabdullah menyesuaikan ketebalan tempe tanpa menaikkan harga menunjukkan komitmen kuat terhadap konsumen. Keputusan ini mencerminkan kreativitas dan tanggung jawab pelaku usaha kecil dalam menjaga keterjangkauan pangan, sekaligus mempertahankan keberlanjutan usahanya di situasi ekonomi yang tidak pasti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tabanan, IDN Times - Semenjak konflik di Negara Timur Tengah merebak, harga kedelai impor mengalami fluktuatif. Harga kedelai 2026 sempat menyentuh harga Rp11.650 per kilogram (kg). Terakhir, harga kedelai turun ke harga Rp10.950 per kilogram. Di tengah ketidakpastian isu global yang berpengaruh pada harga kedelai impor, membuat produsen tempe di Kabupaten Tabanan memutar otak agar harga jual ke konsumen tidak naik tetapi mereka tidak mengalami kerugian.

Seorang produsen tempe di kawasan pasar obral bekas (OB) Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, Mohammad Sabdullah (31), melakukan penyesuaian ketebalan tempe agar produksi tetap jalan dan harga jual tempe tidak naik.

"Agar harga ke konsumen tidak naik, satu langkah kami adalah melakukan penipisan tempe,'' ujarnya Sabdullah, Kamis (9/4/2026).

1. Tempe menipis 0,5cm

Produsen tempe Tabanan lakukan penipisan tempe hingga 0,5 cm (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Sabdullah menghabiskan 90-100kg kedelai dalam sehari. Sementara untuk kebutuhan plastik, ia memerlukan satu bal untuk 20 hari. Namun, harga juga ikut naik menjadi Rp600 ribu per bal, dari sebelumnya Rp415 ribu.

Meskipun bahan baku dan plastik naik, ia tetap menjualnya dengan harga normal Rp5000 untuk ukuran panjang 20cm. Namun, ia menipiskan ketebalan tempenya sekitar 0,5cm (centimeter).

"Sebelumnya ketebalan tempe itu 2,5cm. Kami tipiskan jadi 2cm. Untuk panjangnya tetap sekitar 20cm," kata Sabdullah.

2. Sabdullah memang ada keinginan untuk menaikkan harga jual tempe

Produsen tempe di Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Sebagai produsen tempe, Sabdullah berkeinginan untuk menaikkan harga. Tetapi ia kembali memikirkan konsumen, dan memutuskan untuk tetap menahan harga jual tempe.

"Tempe itu identik dengan makanan yang harga jualnya murah. Kalau dinaikkan, konsumen tentu berpikir untuk membelinya," kata dia.

Sabdullah bisa menghasilkan 300 buah dalam sehari. Modal yang diperlukan sekitar Rp1 juta dengan keuntungan sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari.

"Semua produksi tempe saya terserap dan sudah ada pelanggannya," ujarnya.

3. Produsen berharap harga kedelai di kisaran Rp8000 hingga Rp9000 per kilogram

Produsen tempe di Tabanan saat membuat tempe (IDN Times/Wira Sanjiwani)

Sabdullaah berpendapat, untuk mendapatkan ukuran dan ketebalan tempe yang ideal, harga kedelai harus ada di kisaran Rp8000 hingga Rp9000 per kilogram. Dengan harga ini, ketebalannya bisa mencapai 3,5cm dan panjang 22cm.

"Kenaikan harga bahan baku tertinggi itu pas zaman Corona yaitu Rp12.500. Kala itu juga kita tipiskan dan memperpendek ukurannya," katanya.

Sabdullah mengaku jika harga kedelai turun, maka ukuran tempe bisa dikembalikan ke ukuran semula.

"Kami sesuaikan dengan harga bahan baku," imbuhnya.

Editorial Team