Di Balik Sesajen dan Dapur, Cerita Ibu-ibu di Bali Bertahan dengan Rp50 Ribu

- Harga kebutuhan pokok dan sarana persembahyangan di Bali melonjak sejak Maret 2026, membuat uang Rp50 ribu terasa semakin sempit bagi ibu rumah tangga seperti Komang Merta.
- Banyak keluarga tetap memprioritaskan biaya sesajen meski harga naik, sehingga kebutuhan dapur dikurangi dan sebagian ibu mencari cara tambahan seperti menjahit untuk menutup kekurangan.
- Kenaikan harga di berbagai sektor membuat pengeluaran rumah tangga melebihi pendapatan, memaksa ibu-ibu di Bali berhemat, menyesuaikan belanja, dan mencari penghasilan tambahan agar tetap bertahan.
Denpasar, IDN Times - Pagi di Kabupaten Gianyar selalu dimulai dengan hal yang sama bagi Komang Merta (54), menyiapkan sesajen dan menghitung uang belanja. Namun sejak beberapa bulan terakhir, satu di antara dua rutinitas itu berubah menjadi lebih berat.
Di tangannya, lembaran uang Rp50 ribu kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan simbol dari pilihan-pilihan kecil yang harus diambil setiap hari antara cukup atau kurang, antara tradisi dan kebutuhan dapur.
“Sekarang bunga saja bisa Rp50 ribu per kilo,” ujarnya pelan ketika berbincang kepada IDN Times.
Harga itu bukan sekadar angka. Bagi Merta, itu berarti satu jenis kebutuhan sudah menyerap sebagian besar anggaran hariannya.
Saat Rp50 ribu harus cukup untuk lebih dari satu kebutuhan

Sejak Maret 2026, harga kebutuhan pokok dan sarana persembahyangan di Bali perlahan merangkak naik. Momen hari raya yang berdekatan mulai dari Nyepi, Idul Fitri, hingga Tumpek Landep membuat lonjakan harga terasa lebih tajam.
Bunga, yang menjadi bagian penting dalam banten, ikut melambung. Jika dulu bisa dibeli dengan harga lebih terjangkau, kini Rp50 ribu hanya cukup untuk satu kilogram atau bahkan terasa mahal untuk sebagian ibu rumah tangga.
Merta pun mengubah kebiasaannya. Ia tak lagi membeli dalam jumlah yang sama.
“Kalau mahal, ya beli setengah kilo saja,” katanya.
Di pasar, ia tak sekadar berbelanja. Ia membandingkan, mengingat, dan memilih. Pedagang yang lebih murah menjadi tujuan utama. Hubungan lama dengan penjual pun menjadi semacam “aset sosial” untuk mendapatkan harga sedikit lebih rendah.
Dengan uang Rp250 ribu hingga Rp350 ribu, ia harus memastikan kebutuhan dua hingga tiga hari terpenuhi. Dalam hitungannya, pengeluaran bulanan bisa mencapai Rp3,5 juta—angka yang tak mudah dipenuhi jika hanya mengandalkan satu sumber penghasilan.
Di antara tradisi yang tak bisa ditawar dan dapur yang harus dijaga

Bagi banyak keluarga di Bali, sesajen bukan pilihan yang bisa dihapus dari daftar belanja. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, mengikat spiritualitas, budaya, dan identitas.
Di Denpasar, Sang Ayu Putu Sekarmini (45) memahami betul dilema itu. Ia tak bisa mengurangi anggaran untuk persembahyangan, meski harga terus naik. Yang bisa ia kurangi justru kebutuhan lain.
“Makanan yang dikurangi, bukan sembahyang,” ujarnya.
Dengan kebutuhan rumah tangga dan persembahyangan mencapai Rp6 juta per bulan bahkan melonjak hingga Rp8–10 juta saat hari raya, ia harus memutar cara agar dapur tetap menyala.
Penghasilan suaminya sekitar Rp3 juta per bulan jelas tak cukup. Sekarmini pun menjahit kebaya untuk menutup kekurangan. Dari balik mesin jahitnya, ia menyusun harapan yang sederhana: cukup untuk hari ini, dan kalau bisa, untuk besok.
Namun kenyataan tak selalu sejalan. Tabungan tak ada. Yang tersisa hanya kewajiban—utang upacara keluarga, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan harian yang terus berjalan.
“Saya tidak bisa nabung, yang penting cukup dulu,” katanya.
Bertahan dengan berbagai cara di tengah harga yang terus naik

Cerita yang sama juga datang dari Ni Komang Merta Puspita Dewi. Sebagai karyawan sekaligus ibu rumah tangga, ia merasakan langsung bagaimana harga-harga kebutuhan melonjak dalam waktu singkat.
Dalam sebulan, ia bisa menghabiskan hingga Rp10 juta. Saat hari raya, angkanya naik menjadi Rp13 juta.
“Hampir semua naik. Beras, bunga, buah,” ujarnya.
Untuk menyiasatinya, Dewi tak hanya berhemat. Ia juga mencari penghasilan tambahan dari pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan dari rumah.
Di balik angka-angka itu, ada realitas yang lebih besar. Data Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan harga terjadi di berbagai sektor, mulai dari makanan, perumahan, hingga pendidikan.
Sementara itu, standar Kebutuhan Hidup Layak dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia berada di angka Rp5,2 juta, masih lebih tinggi dibanding banyak pendapatan rumah tangga.
Di tengah selisih itu, ibu-ibu seperti Merta, Sekarmini, dan Dewi menjalani hari dengan strategi yang nyaris serupa: mengurangi, menyesuaikan, dan mencari tambahan.
Di Bali, kehidupan tak hanya soal memenuhi kebutuhan perut. Ada tradisi yang harus dijaga, ada keyakinan yang tak bisa ditunda.
Dan di antara dapur yang mengepul dan sesajen yang tersusun rapi, ibu-ibu ini terus bertahan—dengan hitungan sederhana, dengan uang yang terbatas, bahkan kadang hanya dengan Rp50 ribu di tangan.

















![[QUIZ] Tebak Alat Musik Tradisional Bali di Lagu Girl Group No Na](https://image.idntimes.com/post/20260216/upload_b5731254c5cbf4389da5cf6edf16c1f0_f4577875-5a36-4799-93e2-61bf09c0166a.jpg)
