Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Debat Terbuka Perdana Paslon Bupati-Wakil Bupati Tabanan

Debat Terbuka Perdana Paslon Bupati-Wakil Bupati Tabanan
Nyoman Muliadi-Nyoman Ardika (foto kiri), Komang Gede Sanjaya-Made Dirga (foto kanan) saat debat terbuka perdana, Kamis (31/10/2024) (youtube.com/@kputabanan)
Intinya Sih
  • Paslon Pilkada Tabanan diminta menjaga status warisan budaya dunia UNESCO
  • UNESCO mengancam mencabut status subak di Tabanan karena alih fungsi lahan
  • Paslon nomor urut 1 fokus pada penyediaan air, bibit, pupuk subsidi, dan pengolahan pasca panen
  • Paslon nomor urut 2 menekankan penertiban alih fungsi lahan dengan kolaborasi masyarakat dan desa adat setempat
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tabanan, IDN Times - Para pasangan calon (paslon) yang berlaga di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Tabanan ditanya soal langkah mereka dalam mempertahankan status warisan budaya dunia UNESCO di Tabanan. Hal ini juga berkaitan dengan komitmen para paslon dalam menjaga pertanian dan mempertahankan sumber air di Tabanan.

Pertanyaan itu datang dari panelis Debat Terbuka Pilkada Kabupaten Tabanan yang digelar pada Kamis malam (31/10/2024) di Bali Sunsetroad Convention Centre (BSCC) Denpasar. Dua pasangan calon (paslon) yaitu paslon nomor urut 1, Nyoman Muliadi-Nyoman Ardika dan paslon nomor urut 2, Komang Gede Sanjaya-Made Dirga memaparkan  visi, misi, dan program unggulan untuk kemajuan Kabupaten Tabanan.

Simak jawaban kedua paslon berikut: 

1. Warisan budaya dunia yang diancam akan dicabut

Subak Jatiluwih yang menjadi salah satu subak yang masuk dalam warisan budaya dunia Unesco (IDNTimes/Wira Sanjiwani)
Subak Jatiluwih yang menjadi salah satu subak yang masuk dalam warisan budaya dunia Unesco (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Tema debat terbuka perdana Pilkada Tabanan adalah "memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif."

Pada sesi tanya jawab mencuat pertanyaan dari panelis, yaitu: "Sidang ke-36 Komisi Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2012 di Rusia menetapkan 14 subak di kawasan Catur Angga seluas 1544,65 hektare untuk selanjutnya ditulis dalam prasasti warisan budaya dunia UNESCO tertanggal 6 Juli 2012. Namun belakangan ini,  UNESCO mengancam mencabut status subak sebagai warisan budaya dunia tersebut lantaran banyaknya bangunan di lahan persawahan yang dilindungi tersebut. Apa langkah konkrit yang perlu dilakukan untuk melindungi subak yang memiliki nilai-nilai universal luar biasa, yaitu Tri Hita Karana untuk kepentingan seluruh umat manusia?" 

Seperti diketahui subak di Tabanan salah satunya subak Jatiluwih masuk dalam 14 subak yang menjadi warisan budaya dunia UNESCO.

2. Paslon nomor 1 menekankan kepedulian kepada petani

Nyoman Muliadi-Nyoman Ardika (youtube.com/@kputabanan)
Nyoman Muliadi-Nyoman Ardika (youtube.com/@kputabanan)

Palson nomer urut satu, diwakili calon wakil bupati, Nyoman Ardika, menjawab pertanyaan panelis itu dengan berkomitmen peduli kepada  petani yang ada di Tabanan. Ada empat prinsip yang ditegaskan yaitu:

  • menjaga ketersedian air untuk mengairi sawah dan sektor irigasi
  • penyediaan bibit dari pemerintah tanpa petani harus mengeluarkan uang lebih banyak ketika hasil pertanian menurun
  • penyediaan pupuk subsidi 
  • pengolahan pasca panen

Sementara mengenai alih fungsi lahan yang masif terjadi saat ini, paslon nomor urut 1 menekankan mengenai OSS atau Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik harus dilakukan dengan sangat jujur dan bijaksana. Pemerintah harus bekerja sama dengan pekaseh (ketua subak) untuk menentukan titik mana di persawahan yang boleh dibangun dengan konsep hulu teben (warisan nenek moyang orang Bali pegunungan dari masa lalu dan sampai saat ini diaplikasikan pada tataran desa adat sebagai bentuk apresiasi kongkrit terhadap para leluhur -red).

3. Paslon nomor urut 2 menekankan pada detail tata ruang

Komang Gede Sanjaya-Made Dirga (youtube.com/@kputabanan)
Komang Gede Sanjaya-Made Dirga (youtube.com/@kputabanan)

Untuk menjawab itu, Paslon nomor urut 2, menekankan ke detail tata ruang. Jawaban itu disampaikan calon bupati Komang Gede Sanjaya yang juga petahana.

Sanjaya mengatakan untuk mengatasi persoalan alih fungsi lahan yang terjadi subak yang berstatus warisan budaya dunia, kunci utamanya adalah penertiban.

"Penertiban ini dimulai dari mana? Tentunya detail tata ruang yang dimiliki Kabupaten Tabanan. Dan baru ini pemerintah kabupaten (pemkab) Tabanan memiliki detail tata ruang yang menjadi acuan Kementerian Agraria dan Tata Ruang dan pemkab Tabanan sudah  mengimplementasikan dan menindaklanjuti daripada arahan rencana detail tata ruang dengan membuat regulasinya," ujarnya.

Sanjaya juga menegaskan jika melakukan penertiban bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi juga komponen masyarakat dan desa adat setempat. " Kami kolaborasi bagaimana melaksanakan ketertiban dan justru bermanfaat untuk kehidupan ekonomi pertanian," ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ni Ketut Wira Sanjiwani
Ita Lismawati F Malau
Ni Ketut Wira Sanjiwani
EditorNi Ketut Wira Sanjiwani
Follow Us

Latest News Bali

See More