Dari Barista Hingga Hak Cipta, Difel Café Berdaya Bersama Kemenkum Bali

- Kemenkum Bali melalui program Transformasi Artha Karya memfasilitasi pencatatan Kekayaan Intelektual produk dan merek Difel Café agar terlindungi secara hukum serta mendukung ekonomi difabel.
- Difel Café, dikelola KUB Gantari Jaya sejak 2 Juli 2023, berkembang dari enam menjadi 15 anggota difabel melalui dukungan CSR Pertamina dan pelatihan barista serta manajemen.
- Dalam event, Difel Café menempatkan anggota netra low vision sebagai barista dan dapat menghabiskan 9,5 kilogram kopi per hari, atau hingga 18 kilogram pada acara besar.
Denpasar, IDN Times - Semangat pelayanan hukum yang berkeadilan di wilayah Bali diwujudkan melalui inovasi Transformasi Artha Karya (Akses Ramah Terpadu atas Hasil Karya).
Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Bali, Eem Nurmanah mengatakan, program tersebut merupakan bentuk nyata komitmen kehadiran negara yang inklusif dengan memberikan layanan, fasilitasi, dan pendampingan pencatatan Kekayaan Intelektual khusus bagi difabel.
"Wujud nyata dari pelindungan ini telah dirasakan oleh para kreator disabilitas, salah satunya dari kelompok usaha Difel Café," ungkapnya pada Rabu (19/8/2026).
1. Kemenkum Bali memfasilitasi HAKI semua produk difabel

Seorang barista memasukkan serbuk kopi robusta ke dalam cangkir yang akan disajikan bagi para pengunjung warung Kopi Pucu'e Kendal Desa Gunungsari Dusun Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. (IDN Times/Fariz Fardianto) Difel Café tersebut telah difasilitasi dalam mencatatkan Kekayaan Intelektualnya sehingga produk dan merek usaha mereka terlindungi secara hukum sekaligus menaikan perekonomian.
Pendiri sekaligus Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB/KUBE) Gantari Jaya yang mengelola Difel Café, I Nyoman Juniarta alias Jigo mengatakan, pemerintah melalui Kemenkum Bali telah membantu dan memfasilitasi HAKI semua produk sahabat difabel. Salah satunya, Difel Café yang terbentuk pada 2 Juli 2023 dilakukan secara berkelompok selalu dilibatkan dalam bergabai kegiatan sehingga sahabat disabilitas dapat memperbaiki ekonominya.
"Nah, jadi dampaknya untuk sahabat disabilitas ini ekonomi mereka tuh ada penambahan. Tidak hanya di sektor mereka punya usaha mandiri, di kelompok pun juga mereka punya ada tambahan," tegasnya.
2. Sahabat disabilitas dilatih jadi barista

Difel Cafe di Denpasar (Dok.IDN Times/istimewa) UMKM Difel Café digawangi enam sahabat disabilitas dan berkembang atas dukungan dana CSR Pertamina. Beberapa bulan ini terdapat penambahan hingga keseluruhan berjumlah 15 orang sahabat disabilitas. Mereka mendapatkan pelatihan barista, hingga pelatihan manajemen selama enam bulan.
"Kalau dari teman-teman selama melakukan pelatihan sih fun-fun aja. Cuma kendalanya ketika ada event, aksesnya. Kita memang beragam disabilitas, ada yang fisik, ada yang netra, ada yang tuli, dan juga ada yang skizofrenia. Anak autis juga ada," jelasnya.
3. Sehari tampil di event bisa habiskan 18 kilo kopi

Ilustrasi biji kopi (pexels.com/@marek-kupiec) Untuk memastikan Difel Café ini berjalan lancar, Jigo memilih sahabat disabilitas netra low vision sebagai barista dengan alasan kerja tersebut berhubungan dengan air panas. Strategi tersebut untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Dalam sehari di sebuah event, Difel Café mampu menghabiskan 9,5 kilogram kopi, sedangkan dalam event besar kopi yang dihabiskan bisa mencapai 18 kg dalam sehari.
"Kalau harga sih kita masih terjangkau lah. Dari hot harganya Rp25 ribu dan Ice kopi di Rp35 ribu. Dan ini memang pure kita pakai kopi lokal," jelasnya.


















