Ilustrasi poster menyuarakan keresahan atas kebakaran hutan di Kalimantan dan sejumlah wilayah Indonesia. (IDN Times/Yuko Utami)
Dandhy juga turut mengomentari kondisi gerakan di Indonesia saat ini. Ia menyebutnya dengan istilah gerakan rimpang atau rizoma. Rizoma adalah gerakan yang perlahan-lahan hidup untuk mengikis akar pohon besar sampai tumbang dan tidak ada pegangan. Namun, gerakan ini butuh waktu lama.
Jika dibandingkan dengan gerakan sebelumnya tahun 1998, ibarat batang pohon besar beradu dengan batang pohon besar. Gerakan massa sangat besar menggulingkan rezim yang sudah lama besar dan mengakar, tapi bukan berarti gerakan tipe ini tanpa kelemahan.
Tipe gerakan ini rentan menghasilkan penindas baru. Ia mencontohkan, reformasi 1998 turut melahirkan banyak pendukung rezim saat ini yang dipimpin Presiden Prabowo.
"Tapi ya gak apa-apa itu sesuatu yang bisa dikoreksi lagi, gak ada yang salah. Nah, yang di rizoma ini juga sama. Dia harus punya kesabaran besar. Kalau gak sabar, bisa frustasi," kata laki-laki bernama lengkap Dandhy Dwi Laksono ini.
Kesabaran yang dia maksud adalah pemahaman bahwa tipe gerakan ini bukan batang mengadu batang, tetapi mengikis perlahan-lahan. Ia mencontohkan mulai banyak yang berbicara dan memuat data survei Prabowo yang terus turun. Itu menurutnya suatu bentuk gerakan perlahan.
Dandhy menjumlahkan 10 tahun melawan Jokowi, dan 2 tahun melawan Prabowo menjadi 12 tahun. Sementara itu, rezim Sukarno selama 15 tahun dan Soeharto 32 tahun.
"Ya, tadi kita masih perlu exercise terus. Lebih baik memang lebih lambat sedikit, tapi hasilnya lebih baik dari 98 daripada kita buru-buru gitu ya, gak sempat konsolidasi. Gagasannya juga belum jelas, kita akan mengganti elite saja," tutur Dandhy.
Pada kondisi pergantian rezim, para elite adalah pihak paling siap, sebab gerakan masyarakat masih belum didukung partai politik alternatif.
"Kalau kita belum siap dengan itu, ya nanti Bahlil yang ngambil alih. Dasco gitu," ujarnya sambil tertawa kecil.