Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Memahami Kucing Nakal, Bukan Dia yang Banyak Drama

Kota Denpasar
2 min read
Cara Memahami Kucing Nakal, Bukan Dia yang Banyak Drama
Ilustrasi kucing rumahan (IDN Times/Yuko Utami)
  • Survei terhadap 547 pemilik kucing di AS menemukan pemahaman perilaku kucing dan ikatan yang kuat berkaitan dengan lebih sedikit masalah perilaku serta hukuman.
  • Pemilik yang menganggap pipis sembarangan sebagai balas dendam lebih sering menghukum; 77% pernah berteriak, sementara ketersediaan litter box menurun pada rumah dengan lebih banyak kucing.
  • Peneliti menekankan edukasi pemilik untuk memahami kebutuhan normal kucing, menyediakan interaksi dan litter box memadai, serta memeriksakan gejala mendadak ke dokter hewan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dua peneliti bernama Emma K Grigg (UC Davis) dan Lori R Kogan (Colorado State University) telah melakukan riset menarik tentang kucing. Mereka ingin mengukur seberapa paham pemilik soal perilaku kucing, seberapa dekat ikatan keduanya, dan berapa banyak "masalah perilaku" yang dilaporin.

Mereka bikin survei online secara anonim pada Agustus 2019 lalu. Respondennya 547 pemilik kucing di Amerika Serikat yang direkrut melalui Amazon Mechanical Turk. Hasil risetnya menyimpulkan bahwa semakin ngerti perilaku kucing, makin sedikit "drama" di rumah. Penasaran sama hasilnya? Berikut selengkapnya.

  1. Makin paham, makin adem

    ilustrasi kucing
    ilustrasi kucing (pexels.com/Orhan Namlı)

    Pemilik yang mengerti perilaku kucing melaporkan lebih sedikit ada masalah atau banyak drama di rumah, lebih jarang menghukum, dan lebih santai kalau kucingnya bikin ulah. Ternyata ikatan yang kuat menghasilkan masalah yang lebih sedikit di rumah.

  2. Ketika kucing pipis sembarangan dan minim litter box

    IMG_8315.jpeg
    Ilustrasi kucing rumahan. (IDN Times/Yuko Utami)

    Pemilik yang percaya kucing pipis sembarangan buat "balas dendam" cenderung lebih sering menghukum kucingnya. Cara menghukumnya bermacam-macam. Sebanyak 77 persen pernah teriak, 51,4 persen pernah nyemprot air, dan 10,9 persen mengaku pernah memukul atau nendang. Namun, yang paling umum adalah mengalihkan perhatian kucing sebanyak 90,3 persen.

    Sebanyak 47,7 persen pemilik yang main interaktif sama kucingnya setiap hari, dan hanya 30,7 persen yang pernah melatih kucingnya. Kebanyakan pemilik ngasih mainan statis atau tempat sembunyi, bukan interaksi secara langsung.

    Survei juga menunjukkan jumlah litter box per kucing di rumah menurun dari 2,2 menjadi 0,9 dengan tiga kucing atau lebih. Menurut peneliti, survei ini bukan sebab-akibat ya, melainkan korelasi. Lalu apa kesimpulannya?

  3. Pahami kebutuhannya, bukan dia yang drama

    Ilustrasi Kucing yang sedang dimandikan
    Ilustrasi Kucing yang sedang dimandikan (pexel.com/Karin Chantanaprayura)

    Para peneliti menyimpulkan bahwa perlu banget untuk mengedukasi pemilik kucing. Mereka harus memahami perilaku normal kucing, meluruskan mitos, dan memenuhi kebutuhannya. Jadi sebelum menilai kucingmu "nakal", coba cek dulu, apakah kamu udah cukup mengajaknya bermain? Apakah litter box-nya cukup?

    Kalau kucingmu tiba-tiba muntah atau pipis sembarangan, bisa jadi itu ada masalah medis. Sebaiknya bawa ke dokter hewan, bukan dimarahin.

    Referensi
    Grigg, E.K. & Kogan, L.R. (2019). "Owners' Attitudes, Knowledge, and Care Practices: Exploring the Implications for Domestic Cat Behavior and Welfare in the Home." Animals MDPI.

Related Articles

See More